Kamis, 09 Februari 2012

Air, Langit Dan Tanah



"Hey langit..
Mengapa kian hari engkau tak terlihat cerah ?
disetiap waktu berganti, aku melihat engkau semakin kelabu. nafasmu tak lagi menyejukkan aku, awanmu tak lagi melindungi aku dan Air. Ada apa gerangan denganmu ?"

" Wahai tanah, memang seharusnya nafasku menyejukkan dan menyegarkan, memang seharusnya awanku melindungi semua yang bernaung dibawahku. Seharusnya airmataku membersihkan semua debu dan memberi kehidupan untuk kalian. Apakah aku harus menyalahkan Engkau dan Air. Karena seharusnya pohon2mu membantuku untuk menyediakan udara yang bersih, karena seharusnya Air membantuku untuk mengisi tangki airmataku bukan dengan asam. Begitu banyak asap dan polusi yang tak sanggup untuk aku hadapi sendiri. Siapakah yang harus aku salahkan ?"

" Ah..Langit.. Aku sudah berusaha semampuku. Anak2ku kini tak lagi banyak. Beberapa dari mereka malahan rusak dan nyaris punah. Beberapa dari mereka tergantikan oleh Pembangunan jalan, hunian, pabrik dan kelapa sawit. Bahkan yang paling menyakitkan, anak2ku ditebang secara liar, tanpa ada kesadaran untuk menanam tunas yang baru. Bahkan anak2ku jg dibakar secara kejam.
Wahai langit, kemampuanku sangat terbatas. Aku tak bisa melakukannya sendiri. Aku kekeringan dan sering bertanya dimanakah Air berada ? Mengapa tak pula dia menjangkau anak2ku ? Sungaiku mengering, kadang sungaiku hanya dialiri oleh limbah. Lalu haruskah aku menyalahkan Sang Air ?? Wahai Air Dimanakah engkau ?"

" Aku mendengarkan kalian wahai Langit dan Tanah. Tak sepenuhnya aku bersalah atas keadaan kalian. Karena aku mengalami hal yang hampir sama. Lihatlah aku ! Aku sudah tidak sejernih dulu. Aku hanya bagaikan kubangan kotoran yang tak lagi memberikan kehidupan. Aku tak bisa membersihkan minyak yang mengotori tubuhku. Aku tak bisa membersihkan sampah2 yang manusia buang kediriku. Terumbu2ku yang seharusnya menghasilkan oksigen dan melindungi kehidupan didalamku telah rusak dan nyaris punah. Menyakitkan saat manusia menjarah terumbu yang aku besarkan dengan kasih sayang selama puluhan tahun. Padahal aku telah menyediakan banyak untuk manusia. Tapi mereka tak merawatku dan mereka mengeksploitasiku secara berlebihan. Bukannya aku melepas tanggung jawab untuk setiap hal yang tak bs aku lakukan kepada kalian wahai Langit dan Tanah.
Aku ingin menjangkau tempat2mu wahai tanah. Tapi banyak aliran sungai yang telah hilang dan menyempit. Banyak rawa yang lenyap dan berganti bangunan2 tinggi. Saat aku ingin pergi menjangkau akar2 untuk diserap, aku tersesat dan akhirnya mengering. Karena tak lagi aku temukan anak2mu wahai tanah. Lalu, siapakah yang harus aku salahkan ?"

"Maafkan aku, Air. tidak seharusnya aku menyalahkan engkau.
Kita adalah korban manusia tak tahu diri dan tak tahu terima kasih atas apa yang telah kita lakukan untuk mereka. Kadang aku merasa, semakin mereka berkembang, maka semakin menjadi bodoh mereka. Apakah mereka merasa dapat hidup tanpa kita ?
Padahal mereka berpijak diatasku. Mereka membangun dari hasil yang aku kandung selama ribuan tahun.
saat bencana terjadi, mereka menyalahkan aku.
Saat longsor, kekeringan, Banjir, hujan asam terjadi mereka kerap menyalahkan kita.
Padahal ini semua ulah mereka sendiri."

"Malang benar nasib kalian wahai Air dan Tanah. Aku melihat dari tempatku, banyak bangunan tinggi menjulang, Hewan2 besi berlalu lalang, menghasilkan karbon dan merusak lapisanku. Aku menangis, menyampaikan kelukanku kepada manusia. Tapi mereka menyalahkan aku. Apakah mereka tak sadar bahwa aku jg mempunyai hak untuk bersedih dan marah atas apa yang mereka lakukan hingga menyebabkan Aku dan kalian hampir kehilangan fungsi ?
Mengapa mereka tidak menyalahkan diri mereka sendiri atas semua amarah kita ?
Manusia memang makhluk egois yang berperangai rendah."
"Tidak semua manusia berperangai buruk wahai Langit. Masih ada segelintir orang yang mempunyai kebaikan hati dan kesadaran untuk menjaga dan merawat kita.
Lihatlah diarah selatan, ada puluhan manusia yang menanam tunas baru untukku.
Dan lihatlah diarah barat, ada beberapa manusia yang menanam mangrove untuk aku dan Air.
Walaupun tidak banyak, tp itu cukup berarti untuk kita."

"Tanah benar, wahai Langit.
Masih ada segelintir manusia yang perduli dengan kita.
Dan aku berdoa, semoga keperdulian mereka tidak hanya sementara. Dan akan bertambah banyak manusia yang perduli akan pentingnya kita bagi kelangsungan hidup mereka."

"Ya Air dan Tanah, semoga saja dikemudian hari, kita bisa kembali sehat dan segar seperti dulu. Dan semua manusia sadar bahwa kita mempunyai hak untuk dijaga dan dirawat.
Semoga saja itu terjadi. Entah hal itu akan terjadi selama puluhan tahun, ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun mendatang.
Sekarang kita hanya bisa berdoa dan berusaha semampu kita untuk menjaga kelangsungan setiap kehidupan yang ada didalam kita."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar