Aku terkejut dan memandang gadis kecilku yang berdiri disebelahku, dia memandang seorang wanita tua diatas ranjang rumah sakit.
Aku membelai rambutnya dengan lembut.
"Karena Tuhan juga menciptakan kelahiran, sayang.", ujarku lirih.
"Tetapi, kematian hanya membuat banyak orang bersedih.", ujarnya kembali.
"Saat manusia mengetahui apa itu kesedihan dan penderitaan, maka manusia juga akan mengerti akan kebahagiaan dan akan arti bersyukur."
"Tetapi bunda, bukankah akan lebih menyenangkan jika selalu ada kebahagiaan?! Tak ada kesedihan, tak ada rasa sakit, tak ada penderitaan."
"Sayang..jika dunia diciptakan Tuhan seperti itu, manusia tidak akan pernah mempercayai adanya Tuhan. Manusia tidak akan belajar akan mencintai. Dan coba di bayangkan, jika kematian tak pernah ada, Dunia akan penuh sesak. Manusia juga tidak akan pernah mengenal kebahagiaan, karena hidupnya selalu datar, tanpa ritme, tanpa warna."
Aku melihat kening gadis kecilku berkerut dan kemudian memandangku dengan mata yang penuh pertanyaan.
"Aku tidak mengerti bunda..", ujarnya kembali.
Aku tersenyum dan memeluk gadisku erat.
"Mungkin belum saatnya untuk kamu mengerti sayang, saat kamu tumbuh besar, kamu akan lebih mengerti arti hidup, makna hidup ini.", ujarku sembari mengecup lembut keningnya.
Gadis kecilku memelukku erat dan kemudian berujar, "Aku tak sabar untuk tumbuh dewasa, mungkin Aku akan lebih mengerti, seperti yang Bunda katakan."
Aku tersenyum dan membelai lembut rambutnya. Gadis kecilku kemudian berlari menyusuri lorong rumah sakit.
Ada sedikit rasa sesal di lubuk hatiku, Gadis kecilku tidak bisa tumbuh seperti anak-anak sebayanya. Namun ada rasa bangga terselip disana, Gadis kecilku tumbuh dengan pintar. Aku menghela nafas dan kembali memeriksa pasien yang lain.
**
Seorang gadis kecil berlari menyusuri koridor rumah sakit. Tangan mungilnya membawa banyak bunga dan kemudian membagikannya setangkai demi setangkai kepada penghuni rumah sakit.
'Aku akan membawa kebahagiaan untuk orang-orang disini, seperti Bunda ku. Mungkin saat ini Aku tidak mengerti. Tetapi setidaknya bunga-bunga dan senyumku dapat membahagiakan mereka. Tuhan, jika kamu benar-benar ada, berikan yang terbaik untuk orang-orang ini, untuk Bundaku dan untukku. Amin.'
Gadis kecil itu menyusuri koridor dengan ceria, senyum menghiasi bibirnya yang mungil. Seperti malaikat yang datang membawa kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar