Selasa, 21 Februari 2012
Kisah Pria Buta
Seorang pria buta berjalan terseok menyusuri trotoar. Peluhnya bercucuran diantara kulitnya yang terbakar sang mentari. Dipundaknya terlihat puluhan kerupuk ikan yang dijajakan olehnya setiap hari.
Seorang pria buta yang tak menyerah pada kekurangan dalam dirinya.
Langkahnya terhenti karena riuh yang terdengar ditelinganya.
Gelisah hatinya.
Ada apa gerangan? Bukan riuhnya jalan raya yg akrab ditelinganya. Keriuhan yang menyayat hati. Tangisan dan jeritan yang terdengar.
Cuping hidungnya menangkap aroma tak sedap. Bukan aroma ban yang tergesek di atas aspal. Tapi aroma karet terbakar bercampur aroma darah serta daging yang hangus terbakar.
Kecelakaan..itu yang terbersit diotaknya.
Ah....kecelakaan kedua yang Dia temui dalam minggu ini.
"Padahal mereka mempunyai mata yang lebih sempurna dibanding hamba Ya TUHAN." batinnya menggumam.
Tongkat mungilnya meraba ujung trotoar. Dan pria buta itu terduduk disisian jalan. Tak mempunyai keberanian Dia untuk melangkah lagi. Takut jika Dia akan menginjak atau menabrak sesuatu ditengah keramaian.
Telinganya tetap awas memperhatikan keadaan sekitar.
Terdengar suara seorang pria, mungkin pria yang cukup besar dan mempunyai status sosial menengah keatas, karena terdengar keangkuhan dari nada suaranya. Suara pria itu menggelegar, memaki seorang pria lainnya yang tengah panik.
Ah...rupanya sebuah mobil menabrak sebuah motor yang berisikan pria tua yang sedang membonceng cucunya.
Kericuhan semakin merebak. Telinganya sayup2 mendengar orang2 yang mulai ramai meributkan bahwa cucu yang pengendara motor mengeluarkan banyak darah. Dan sepertinya Tuan Bermobil itu tidak memperdulikannya karena Tuan itu terus memaki dengan kasar mengenai Mobilnya yang tertabrak, dan sampai puluhan tahun pengendara motor itu tak akan mampu untuk menggantinya.Sepertinya sebuah mobil lebih berharga daripada sebuah nyawa. Pria buta itu menghela nafas dan beranjak pergi meninggalkan keriuhan itu.
Pria buta memutuskan untuk pulang, jauh dari keriuhan dan aroma busuk udara yang dipenuhi kemunafikan.
Sesampainya dirumah pria buta itu disambut oleh sang istri. Pria buta itu merasakan tangannya diraih oleh tangan kasar namun menyimpan banyak kehangatan disana, tangan sang istri.
Ah.....tempat yang nyaman dan bebas dari kemunafikan.
Pria buta itu meletakkan puluhan kerupuk jajaannya. Melangkahkan kakinya kekamar mandi dan membasuh mukanya perlahan.
Rupanya istri pria buta itu telah menyediakan makan untuknya.
Tercium aroma makanan yg menggoda perutnya yang keroncongan dari tadi.
Diraihnya remote Tv yang diletakkan selalu pada tempatnya.
" Bu, duduklah disebelahku dan kita makan bersama. "
Istri pria buta itu tersenyum dan duduklah mereka, bercengkrama dengan hangat diantara piring yang tersaji.
Pria buta terdiam sesaat dan mendengarkan suara yang terdengar dr TV.
Ah....berita politik......pertengkaran yang terjadi saat sidang parlemen.
Pria buta itu menekan tombol untuk mengganti siaran TV.
Ah.....berita juga....kebakaran yang menghanguskan wilayah pertokoan di Jakarta....
Digantinya kembali Siaran TV.
Klik..
Ah....pelaku korupsi yang bebas dari tuntutan.
Klik..
Perselingkuhan artis ini dengan artis itu.
Klik..
Seorang wanita ditemukan terbunuh....zzzzzzz
Klick..
Tabrakan beruntun terjadi....
Klick...
Seorang artis kenamaan membeli sebuah mobil yang berharga.....sssstttzz...
Klick..
Pria buta mematikan siaran TV.
Hatinya meringis..batinnya menggumam " terima kasih TUHAN, walaupun ENGKAU memberikan aku mata yang tak sempurna, tetapi aku diberikan hal yang lebih besar dari orang2 yang sempurna itu. Terima kasih Tuhan, karena tak menjadikan aku orang2 seperti mereka."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar