'Ahhh..sudah lama Aku tak kemari..kampung halamanku..kampung halamanku yang tercinta.'
Batinku tergelitik saat ujung mataku menangkap 4 sosok anak kecil yang bermain dengan sang ombak. Senyumku mengembang, mengingat masa-masa kecilku dulu. Bermain dengan ombak setiap pulang sekolah, tertawa bersama sang ombak, bercengkrama dengan sang ombak hingga seragamku basah. Saat-saat indah dan menyenangkan..penuh dengan gelak tawa yang mengabur bersama desir angin.
Aku membalikkan tubuhku perlahan dan melangkah menjauhi pantai.
Aku rindu Ibuku dan itulah salah satu alasan untukku kembali kemari..
kembali pulang..
setelah lima belas tahun Aku meninggalkan tempat ini.
Anggaplah Aku anak yang durhaka, meninggalkan Ibuku sendiri ditempat terpencil ini. Dan setelah 15 thn berlalu, Aku baru mempunyai keinginan untuk menginjak tempat ini.
Tapi apa daya, saat itu Aku hanyalah seorang bocah berusia 10 tahun yang tak punya kuasa untuk menolak keadaan.
Yah..tak ada satupun manusia yang sanggup menolak keadaan.
Begitupun Aku saat itu,
Seorang bocah berusia 10 tahun yang harus menerima keadaan yang saat itu tak bisa Aku mengerti dengan akalku.
Dengan keterpaksaan yang mengharuskanku untuk menerima perceraian kedua orang tuaku.
Aku menyayangi mereka, menginginkan mereka selalu bersama, tetapi ada hal yang ternyata tak bisa Aku cegah..tak bisa Mereka cegah..dan salah satunya adalah saat hak asuhku jatuh ke tangan ayahku.
Dan..Aku harus berpisah dengan Ibuku..
Ibuku tersayang..
Yang selalu memelukku erat dalam tidurku..
Aku melangkahkan kakiku menyusuri jalan. Tak banyak perubahan yang terjadi disini. Yah..mungkin jalanan terlihat lebih beradab dan mulai terlihat mini market, restaurant dan penginapan yang berjejer disepanjang jalan ini.
Aku menikmati pemandangan ini, pemandangan yang tak dapat aku temukan di Jakarta yang terasa dingin.
Entah mengapa, tempat ini terasa hangat..entah mengapa.
**
Yanuar mengetuk pintu perlahan.
Sesaat Yanuar memandang sekeliling, Pagar kecil yang dicat berwarna putih bersih, bunga-bunga mawar, tanaman melati dan pot kolam kecil menghiasi halaman rumah ini. Semuanya masih tetap sama, kesederhanaan yang indah.
Yanuar tertegun saat pintu terbuka perlahan. Ditatapnya sosok didepannya, sosok yang masih terlihat cantik, sosok yang terbalut dengan pakaian gamis panjang, rambut yang tergelung indah, terlihat kerut-kerut yang menghiasi wajah dan beberapa helai rambut yang memutih menghiasi kepala sosok itu. Sosok yang dirindukan selama 15tahun ini...
Sosok ibunya..
Ibunya tersayang.
Yanuar merengkuh sang Ibu kedalam pelukannya, melepaskan rindunya yang menggebu.
"Ibu, Yanuar datang.."
Ibu memeluk Yanuar dengan erat, airmatanya bergulir perlahan dipelupuk matanya yang mulai berkeriput.
"Ibu merindukan kamu Nak..merindukanmu."
**
Yanuar menatap kamarnya, tak berubah..
Masih tetap sama..
Diding kayu..
Lantai kayu dengan sebuah karpet putih..
Ranjang kayu yang terlihat menawan dengan sprei putih biru beserta kelambu mungil..
Lemari kayu tua..
Rak buku, dan buku-bukunya masih tersusun rapi..
Meja belajar dan sebuah kursi kecil..
Sepasang jendela yang dihiasi tirai putih..
Dengan pemandangan yang menghadap pantai.
Rumah dengan aroma yang sama, aroma yang masih bisa Yanuar ingat walaupun 15 tahun berlalu, aroma yang hangat, aroma cinta..
'Kini Aku pulang..'
**
Yanuar menatap wajah ibunya dengan senyum yang mengembang. Kerinduan belum juga hilang dari hatinya.
"Waktu kamu kecil dulu, ibu sering menyuapimu seperti ini.", ujar sang Ibu sembari menyuap segenggam nasi ke mulut Yanuar.
"Dan kamu nakal, selalu berlarian dihalaman rumah saat makan tiba. Dan Ibu selalu mengejarmu yang berlarian, agar kamu mau menghabiskan makananmu.", sang Ibu tersenyum.
Yanuar turut tersenyum mendengar penuturan Ibu. Masih teringat saat itu, Yanuar kecil berlari mengelilingi halaman dengan mulut yang penuh dengan makanan. Tangan kecilnya direntangkan dan suara berdengung terdengar saat Yanuar kecil berlari.
'Aku adalah sebuah pesawat, dan Aku terbang melintasi awan, melihat negeri-negeri seberang..mengelilingi dunia.', itu khayalnya saat itu.
Sang Ibu kembali menyuapi Yanuar dengan segenggam nasi berisi ikan bakar. Ikan bakar kesukaan Yanuar, Kesukaan Yanuar karena dibuat oleh Sang Ibu..Kesukaan Yanuar karena terbuat dengan penuh kasih..
kasih sang Ibu.
Yanuar mengunyah perlahan makanan yang masuk ke mulutnya. Matanya menatap sang Ibu yang berceloteh, bercerita tentang masa kecil Yanuar dulu. Masa kecil Yanuar yang bahagia dengan keluarga yang lengkap.
Yanuar tersenyum..saat sang Ibu menatapnya lembut dan berujar,
"Ibu senang kamu disini..".
**
Yanuar merebahkan kepalanya dipangkuan sang Ibu. Belaian lembut Ibu membuainya dalam kedamaian.
"Bu, sudah lama Aku tak mendengarkan Ibu bernyanyi untukku.", ujar Yanuar perlahan.
Sang Ibu tersenyum, dan kemudian benyanyi dengan lembut, membuai Yanuar kedalam alam mimpi..
Mimpi indah..
Tentram..
Nyaman..
Damai..
Dan hangat.
**
Sinar mentari pagi mengendap-endap masuk dari celah tirai. Yanuar terbangun, rasa hangat itu masih terasa dalam hatinya. Rasa hangat yang selalu Yanuar rindukan selama 15 tahun ini. Rasa hangat yang seakan menghapus lelahnya, lukanya dan kesepiannya selama ini.
Yanuar menatap mentari pagi yang mulai tinggi. Saat ini, seharusnya Yanuar sudah berkutat dengan pekerjaannya dikantor. Menyelesaikan berkas-berkas yang seakan berteriak, mendesak untuk segera diselesaikan. Tapi kini, saat ini, Yanuar menikmati liburannya..menikmati kepulangannya.
Aroma teh hangat dan pisang goreng menggelitik dihidungnya..menggodanya. Dengan perlahan Yanuar beranjak dari atas ranjang dan melangkah menuju ruang makan.
Teh hangat dan beberapa penganan hangat terhidang diatas meja, membuat lambung Yanuar berkicau riuh. Tangan Yanuar menyentuh perlahan pinggiran cangkir.
Tiba-tiba tangannya terhenti saat Ibunya menatapnya lembut.
"Kamu baru bangun nak, cuci muka dan tanganmu terlebih dahulu dan gosok gigimu sebelum sarapan."
Yanuar tersipu saat mendengar teguran sang Ibu. Dan kemudian Yanuar berlari kecil menuju kamar mandi.
**
Selama di tempat ini, Yanuar selalu menemani Ibunya. Semua ini seperti belajar untuk mengenal kembali sosok Ibunya. Merekam kembali kenangan demi kenangan baru tentang Ibu saat ini.
Ibunya yang cantik, Ibunya yang mempesona, ibunya yang hebat dimatanya.
Ternyata Ibu mempunyai sebuah penginapan yang berdiri ditepi pantai. Penginapan sederhana dan sebuah restaurant yang terletak tidak jauh dari rumah Ibu.
Yanuar bangga saat mendengar bahwa Ibunya adalah pelopor yang membuat tempat itu berkembang.
Ibunya memang hebat..entah mengapa Ayah meninggalkannya saat itu..entah mengapa.
**
Tak terasa esok sudah seminggu Yanuar berada disini..tak terasa, esok pagi Yanuar harus kembali ke kehidupannya..tanpa ada sang Ibu.
Dan saat ini, Yanuar menatap lautan yang berdebur indah dari halaman belakang. Ibu menghampirinya dan ikut duduk disebelahnya.
Yanuar memandang Ibunya dan tersenyum.
"Besok, kamu kembali ke Jakarta. Ibu pasti merindukanmu.", ujar Ibu lirih.
"Ibu.."
"Iya nak?!"
"Mengapa Ibu tak menikah lagi?"
Ibu terdiam dan kemudian menghela nafas.
"Ibu mencintai sangat Ayahmu dan dirimu."
"Tapi, ayah sudah menikah lagi."
"Iya..Ibu tau. Dan Ibu yang menganjurkan Ayahmu untuk menikah lagi. Apakah Dia menyayangimu?"
"Siapa?"
"Istri ayahmu.."
"Iya, Mama sangat menyayangiku Bu."
"Alhamdulillah.", ujar Ibu tersenyum.
"Ibu, mengapa dulu kalian bercerai?"
Ibu menatap Yanuar dengan lembut, matanya memancarkan semburat luka.
"Semuanya kesalahan Ibu nak, Ayahmu hanya melakukan tindakan yang benar dengan menjauhkan kamu dari Ibu."
"....."
"Ibu bukanlah seorang Ibu yang baik ataupun seorang Ibu yang lembut. Ibu sering menyiksamu, memukulmu..
Hanya agar Ibu dapat mendengar sepatah kata dari bibirmu.
Hati Ibu sakit saat melihatmu pulang dan menangis karena teman-temanmu mengejek kekuranganmu.
Ibu hanya tak ingin mereka terus mengejek anak kesayangan Ibu lebih jauh lagi.
Dan Ibu juga merindukan suaramu nak, sangat ingin mendengar suaramu, walaupun itu hanya sepatah kata.
Tapi waktu berlalu, dan kamu kian tumbuh besar, Ibu hanya bisa mendengar kamu mendesis, Ibu tak bisa menerima kenyataan bahwa anak semata wayang Ibu ternyata Bisu.", ujar Ibu yang mulai berurai airmata.
"Semenjak kalian pergi, Ibu merindukan dirimu. Tetapi Ibu malu, malu atas semua perlakuan Ibu terhadapmu. Selain itu, Ibu takut menghadapi kenyataan jika ternyata dirimu membenci Ibu..."
Yanuar menatap Ibunya dengan lembut dan merengkuh Ibu dalam pelukannya.
"Ibu, Aku tak pernah membenci Ibu.
Tak pernah terbersit sedikitpun dalam benak Yanuar untuk membenci Ibu.
Selama di Jakarta, Ayah tak pernah memaksaku untuk belajar berbicara, Ayah menyekolahkanku disekolah khusus, dan Aku belajar menggunakan bahasa isyarat. Tapi Aku tau ini tidaklah cukup. Aku ingin berbicara seperti manusia lainnya. Aku memaksa guruku untuk mengajariku berbicara. Sulit..susah..dan Aku hampir menyerah. Tapi keinginanku begitu kuat, begitu kuat agar Ibu dapat mendengar suaraku, walaupun itu hanya sepatah dua patah. Tapi kini, Ibu bisa mendengarkan suaraku..bukan hanya sepatah kata..
Tetapi berbicara dengan Ibu..walaupun tidak sempurna..
Aku ingin menunjukan bahwa semua ini Aku lakukan untuk Ibu..
Dan Aku tau..
Semua yang Ibu lakukan dulu..untuk kebaikanku.
Aku ingin Ibu bangga mempunyai seorang anak tuna wicara.
Aku sangat mencintai Ibu."
Ibu memeluk Yanuar dan membelai lembut rambut Yanuar.
"Ibu bangga mempunyai anak seperti kamu..
Maafkan Ibu karena tak pernah berada disisimu..."
"Ibu..kasih Ibu tak pernah hilang,
dan Aku sudah memaafkan Ibu sejak bertahun-tahun lalu.."
Rembulan mengintip dari balik awan, menyaksikan seorang anak tuna wicara yang kembali menemukan sosok Ibunya.
**
Aku memandang lautan yang membentang dihadapanku.
Rasa hangat dihati masih saja menyelimuti diriku.
Seminggu disini..
Di kampung halamanku..
'Cinta Ibu itu sepanjang jaman. Aku beruntung mempunyai seorang Ibu yang hebat seperti itu.
Aku dengan segala kekuranganku dan hanya Ibu yang membuatku merasakan hangat seperti ini. Membasuh semua luka dan kesepianku selama ini.
Dan kini..saatnya Aku kembali..
mungkin..saatnya nanti..
Aku akan kembali kesini..
Kembali pulang..
Kepelukan Ibu.'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar