*
Dena memandang layar handphonenya yg berkedip. Keraguan membuncah dihatinya. Perlahan jemarinya menekan tanda reject dan Dena pun menghela nafas. Malam ini Dena hanya ingin sendiri, berfikir tentang perasaannya yang mendua. Dena tau bahwa Ia harus memilih, tetapi Dena terlalu takut, takut hatinya memilih seseorang yang salah.
Sebenarnya sudah 7 bulan ini Dena berpacaran dengan Hamri, sahabatnya. Awalnya, Dena merasa keberadaan Hamri sudah cukup baginya. Hamri yang penyabar, baik, tidak mengekangnya, dan Hamri adalah seorang pria yang cukup mengerti akan dirinya. Tetapi Hamri terlalu disibukkan dengan pekerjaannya dan terkadang Dena harus menelan kekecewaan jika waktu untuk bersama harus dibatalkan untuk pekerjaan yang Hamri lakukan.
Hingga suatu saat, Dena bertengkar dengan Hamri, datanglah seorang pria yang memberikan perhatian yang tidak Dena dapatkan dari Hamri. Jaya nama pria itu.
Bersama Jaya, Dena merasakan rasa hangat dan perhatian yang berlebih. Jaya selalu menemani kemanapun Dena pergi, dan luluhlah hati Dena.
Dena hanyalah wanita biasa, wanita yang luluh oleh kata manis dan perhatian.
Dena terpaku menatap layar handphonenya yang kembali berkedip. Nama Hamri terpampang jelas di layar. Dena menghembuskan nafasnya perlahan dan melempar handphonenya ke sisi ranjang. Dena pun merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Tidur mungkin lebih baik dilakukannya. Dena pun terlelap dengan perasaan yang galau.
Dena terbangun saat mentari mulai tinggi. Untungnya saat ini Dena tidak ada kuliah, sehingga Dena tidak perlu tergesa untuk bersiap pergi kekampus. Dena meraih handphonenya yang tergeletak disisi ranjang. 15 misscalls dan beberapa SMS. Perlahan Dena membaca SMS yang baru saja masuk pagi tadi. SMS dari Jaya, hanya mengucapkan kata selamat pagi. Sejujurnya, Dena menginginkan SMS itu dr Hamri, bukan dari Jaya. Dena menginginkan semua perhatian, kata2 manis, kata2 cinta yang Dena terima, diucapkan oleh Hamri, bukan oleh Jaya. Tapi, Hamri terlalu pasif, dan kadang saat Dena mengharapkan Hamri juga mengucapkan kata 'Aku menyayangimu', Hamri hanya membalas dengan kata 'Aku juga'.
Dena memandang sedih layar handphonenya. Hamri tau bahwa Dena dekat dengan Jaya, tp setidaknya Dena menginginkan Hamri berkata 'Aku cemburu & tidak rela kamu dekat dengan lelaki lain' tapi tidak ada kata2 yang Dena harapkan, Hamri hanya tersenyum saat Dena mengatakan apapun tentang Jaya.
Kadang semua hal membuat Dena berfikir bahwa Hamri tidak sungguh2 mencintainya, bukankah seharusnya Hamri juga berjuang untuk mempertahankan hubungan ini jika Hamri benar2 mencintainya?!
Dena ingin mendengar kata 'Aku mencintaimu', ingin diperjuangkan, ingin merasakan cinta dari Hamri. Bukannya Dena tak berusaha, beberapa kali Dena mengutarakan keinginannya, tetapi hanya kekecewaan yang Dena dapatkan.
Dena membalas SMS Jaya dengan perasaan kesal. Mungkin kata kasar bisa menjauhkan Jaya untuk sementara dari hidupnya. Tapi Jaya terus saja membalas kata2 kasar Dena, hal itu semakin membuat Dena kesal. Dena melempar dengan kasar handponenya, melempar bantal dan berteriak kencang dalam kamarnya. Dena sudah tidak kuat lagi. Setiap kata2 yang Dena ucap, makian yang tercetus dr mulutnya, tidak jua menjauhkan Jaya dari dirinya.
"Bisa gila lama2 gw kl begini terus.", teriak Dena dalam hati. Airmata mulai mengalir dari pelupuk matanya. Dena menangis tersedu sembari memeluk guling.
*
Jaya membaca SMS Dena dengan senyum yang tersungging dibibirnya yang tipis. Walaupun SMS Dena penuh makian, Jaya tetap merasa senang. Toh setidaknya sebenci-bencinya Dena terhadapnya, Dena masih mau membalas SMSnya, Dena tidak akan bisa menjauh darinya.
Jaya menghirup perlahan teh hangat dari cangkir. Berulang kali Jaya membaca SMS Dena. Sebuah SMS, walau hanya sebuah SMS, tetap membuat Jaya senang. Bagi Jaya, berapa banyak kata maki dan hujatan dari Dena tak akan menghentikan Jaya untuk mengejar Dena.
Di mata Jaya, Dena adalah wanita yang menarik, dan Dena merupakan wanita impiannya.
Jaya sesungguhnya mengetahui bahwa Dena berpacaran dengan Hamri, tapi toh itu tetap tidak menghentikan dirinya untuk mendekati Dena.
Dena berhak untuk diperjuangkan, dan selama ini Jaya melihat Hamri tidak pernah sekalipun memperjuangkan Dena. Hanya pria bodoh yang berkata mencintai tapi tidak memperjuangkan cintanya.
Cinta itu memang harus egois, dan apapun yang Dena lakukan tidak akan menghentikan Jaya untuk memiliki Dena.
Toh selama ini, Jaya yang selalu berada disisi Dena. Memperhatikan Dena, mendengarkan keluh kesah Dena, walaupun cukup menyakitkan saat Dena mengucapkan nama Hamri berkali-kali dari bibirnya. Ingin rasanya Jaya melarikan Dena dan membawanya ketempat dimana hanya ada Jaya dan Dena, tanpa ada Hamri, tak akan ada Hamri.
Tetapi, Jaya sadar, dihati Dena, Hamri adalah cinta. Jaya hanya perlu waktu untuk menumbuhkan perasaan cinta untuknya dihati Dena. Bukankah cinta juga bisa datang karena terbiasa?
Jaya sanggup melakukan apa saja untuk memiliki Dena. Walaupun Jaya harus merasakan perih dihatinya.
"Aku sangat mencintaimu, dan gila karenamu."
*
Siang ini Hamri menatap blackberrynya dengan ragu. Hatinya tergerak untuk menghubungi Dena. Rasa rindu menyeruak di hatinya, menggebu, ingin bertemu. Tetapi hatinya juga berbisik, bertanya, apakah Hamri bisa untuk memaafkan Dena?.
Tetapi memaafkan untuk apa?.
Dena tidak membohonginya, tidak menyembunyikan bahwa Dena juga dekat dengan pria lain. Tetapi apakah Hati Dena yang mendua bisa dimaafkan?.
Tetapi bukankah ini semua bukan kesalahan Dena?. Pria itu terus saja mengejar Dena, walaupun Dena berusaha menjauh dari pria itu.
Ingin rasanya Hamri menemui pria itu, berbicara dengannya dan memukul wajahnya. Tapi apakah hal tersebut dapat dibenarkan?.
Hamri pun menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Semua Hamri lakukan karena tidak ingin membatasi ruang gerak Dena. Bagi Hamri, jika Dena bahagia itu sudah cukup. Hamri tidak akan memaksakan kehendaknya sedikitpun terhadap Dena.
Sejujurnya, Hamri amat sangat menyayangi Dena. Tetapi, Hamri bukanlah seorang pria yang mampu untuk mengungkapkan perasaannya secara verbal ataupun non verbal. Hamri hanya bisa berharap Dena mengerti akan apa yang Hamri rasakan. Rasa sayangnya, rasa cintanya, segala rasa yang Hamri rasakan untuk Dena.
Kerap kali Hamri berusaha untuk mengungkapkannya, tetapi bibirnya seakan terkunci, dan Hamri hanya bisa terpaku di hadapan Dena. Perasaan tak nyaman mulai menjalari tubuh Hamri dan akhirnya Hamri hanya bisa diam dan memandang Dena yang berceloteh didepannya. Hamri pasrah, dan berharap Dena mengerti bahwa mata, hati dan pikiran Hamri hanya tertuju padanya.
Hamri memandang jemari tangannya yang kian memutih karena mencengkram Blackberry-nya begitu kuat. Berbagai pertanyaan dan kata2 bergejolak dibatinnya.
"Setidaknya aku harus melakukan sesuatu."
Hamri menghembuskan nafasnya perlahan dan melangkah menuju kamar mandi.
*
Dena dengan enggan beranjak dari atas ranjangnya saat pembantu mengetuk pintu kamarnya.
"Non, ada tamu buat non Dena."
"Siapa mbak?"
"Den Hamri, Non."
Dena tertegun, tidak menyangka bahwa Hamri datang kerumah. Dengan perasaan malas Dena melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
Hamri duduk dengan gelisah diruang tamu. Jemarinya tak henti mengetuk-ngetuk sisi sofa. Saat Dena muncul didepannya, Hamri tersenyum dan berusaha menutupi kegelisahannya.
Dena menghempaskan tubuhnya ke sofa di sebelah Hamri.
Dena membisu, perasaannya berkecamuk kian hebat.
Hamri menatap Dena yang membisu.
"I miss you."
Dena tertegun menatap Hamri.
"Aku ingin bicara."
"Bicara apa?"
"Tentang kita."
Mata Dena menatap Hamri dengan perasaan was-was.
"Jangan sekarang, aku sedang tidak ingin bicara."
Hamri menatap Dena dengan tatapan terluka.
"Aku tidak ingin semua berlarut-larut seperti ini."
Dena menghela nafas panjang.
"Baiklah, mungkin aku terlalu membiarkan semuanya berlarut-larut."
Dena dan Hamri berbicara tentang perasaan mereka, apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Mata Dena mulai terasa panas karena airmata seakan berlomba keluar dari kelopak matanya.
Hamri tertegun menatap Dena yang mulai terisak. Kemudian Hamri merengkuh Dena kedalam pelukannya.
"Maafkan aku karena tidak seperti apa yang kamu inginkan."
Tangis Dena meledak kian hebat. Hamri mempererat pelukannya, membelai lembut rambut Dena yang panjang dan mengecup lembut kening Dena.
"Setidaknya kita masih bisa kembali bersahabat seperti dulu."
Dena menangis dalam pelukan Hamri. perasaannya kian sakit, seakan terhujam ribuan sembilu.
*
Dena menenggelamkan wajahnya dibalik bantal. Tangisnya belum juga reda walaupun Hamri sudah pergi dari Tiga jam yang lalu.
Berpisah dari Hamri adalah suatu hal yang tidak diinginkan Dena. Dena mencintai Hamri dengan segenap jiwa.
Sejujurnya Dena tak ingin semuanya berakhir. Dena tidak ingin kehilangan Hamri.
Bagaimana mungkin bisa bersahabat kembali?
Setelah banyak hal yang terjadi, setelah perasaan Dena sedemikian besar kepada Hamri. Setelah semua perjuangan Dena untuk Hamri. Mengapa Hamri tidak memperjuangkannya?
Mengapa ??
Apakah sebenarnya cinta Hamri terhadap Dena mulai mengalami titik jenuh ?
Apakah Hamri sudah tidak mencintai Dena lagi ?
Perasaan Dena mulai tidak menentu.
Pikiran Dena pun melayang ke sesosok pria, Jaya.
Saat ini hanya Jaya yang mau mendengarkan keluh kesahnya.
Dena meraih handphonenya dan menelepon Jaya.
*
Jaya menyambar handphonenya yang tergeletak diatas meja. Senyumnya mengembang saat nama Dena tertulis jelas di layar handphonenya.
"Hallo.."
Suara Dena terdengar sendu, dan Jaya mendengar Dena terisak. Perasaan cemas bergelayut dihatinya.
Jaya kembali merasakan sakit yang kian merajam saat Dena bercerita tentang Hamri, tentang perasaan Dena ke Hamri, tentang bagaimana hancurnya Dena sekarang, tentang bagaimana marahnya Dena dengan keadaan.
Jaya menahan airmatanya yang mulai menggeliat dipelupuk matanya. Jaya seakan ingin berteriak kepada Dena.
Tidakkah Dena melihat bahwa Jaya tidak sesabar itu untuk mendengarkan Dena bercerita tentang cintanya kepada Hamri ?
Tidakkah Dena menyadari bahwa Jaya juga mempunyai perasaan ?
Cemburu, sakit.
Tidakkah Dena menyadari dan melihat Cintanya yang tulus kepada Dena ?
Tetapi teriakan itu tertahan dihatinya. Jaya mendengarkan Dena yang terus berbicara. Jaya menangis, tanpa isakan, tanpa suara. Hingga saat tangis Dena mulai meledak kembali, Jaya hanya bisa berkata, "Semua akan baik-baik saja, kamu masih memiliki Aku dan Aku tidak akan meninggalkanmu."
Seminggu sudah berlalu, dan Dena merasakan hatinya kian sakit. Bukan hal yang mudah bagi Dena saat melihat Hamri didepan matanya. Dan terkadang, Hamri masih berkata bahwa betapa Hamri merindukan Dena.
Tapi semua seakan klise belaka, mengapa baru sekarang Hamri mulai sedikit jujur dengan perasaannya ?
Dena merasa dipermainkan.
Semua sedikit terlambat, Dena telah mengiyakan untuk berpacaran dengan Jaya kemari malam. Walaupun Hati & cinta Dena hanya untuk Hamri.
Dena tidak ingin menyakiti perasaan Jaya.
Setidaknya Dena pun menyayangi Jaya. Tetapi mengapa semuanya berbeda.
Seakan ada sebuah ruang kosong yang membesar di hati Dena.
Hampa.
*
Jaya sadar bahwa tidak semudah itu untuk Dena melupakan Hamri. Tetapi perasaannya terus saja menterornya, dan akhirnya Jaya menyerah kalah.
Jaya mengungkapkan perasaannya untuk kesekian kalinya kepada Dena.
Jaya bahagia saat Dena mengiyakan perasaannya. Kini, Dena miliknya, walau belum seutuhnya, Jaya tetap bahagia.
*
Hamri menatap Dena dari kejauhan. Perasaannya bergejolak kian hebat.
'I miss you.'
Kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibirnya kepada Dena.
Kata-kata itu memang menggambarkan perasaannya saat ini kepada Dena.
Perasaan Hamri masih tetap sama, mencintai Dena dengan tulus. Tetapi Hamri terlalu gugup untuk mengungkapkannya, terlalu kaku untuk menyatakannya.
Hamri membelai lembut rambut Dena dan mengecup kening Dena.
Sejujurnya, Hamri ragu apakah bisa untuk bersahabat kembali dengan Dena. Karena semuanya berbeda. Keadaan yang berbeda, perasaan yang berbeda, karena perasaan cinta Hamri tidak terhapus begitu saja.
"Aku tidak ingin melihat Dena menderita."
Sudah sebulan ini Dena menjalani hari-harinya bersama Jaya. Tapi tetap saja ruang kosong dihatinya tak kunjung hilang. Semua seakan hampa dan tak berarti.
Sosok Hamri selalu memenuhi benak Dena.
Hamri, hanya ada Hamri, tanpa Jaya.
Selama ini Dena merasa bahwa Dena menyayangi Jaya melebihi apa yang Dena kira.
Apakah ini hanya emosi belaka ?
Mengapa hati Dena tak kunjung tenang walau ada Jaya disisinya ?
Mengapa Dena tidak bisa melupakan Hamri ?
Mengapa..?? mengapa..?? mengapa..??
Airmata Dena mengalir saat membaca SMS dari Hamri. Disana hanya ada tiga kata. Kata yang Dena inginkan untuk Hamri ucapkan.
Kenapa harus sekarang ?
Apakah begitu sulit untuk mengatakan tiga kata tersebut.
Tiga kata yang terdengar klise.
Tapi Dena menginginkannya begitu dalam.
Tiga kata yang hanya ingin Dena dengar dari Hamri.
Tiga kata
I LOVE YOU
Hanya tiga kata itu.
Apakah mencintai seseorang begitu menyakitkan seperti ini ?
Apakah ada kata cinta yang diungkapkan dengan tambahan 'tidak bisa menjalaninya untuk saat ini' ?
Apakah ini hanya terjadi hanya kepada Dena ?
Ataukah ada orang yang mengalaminya juga ?
Apakah Dena harus terus membohongi hatinya karena tidak ingin menyakiti Jaya ?
Apakah Dena Harus terus menyakiti hatinya sendiri karena tidak ingin menyakiti Jaya ?
Pikiran Dena terus berkecamuk.
Mungkin Dena terkesan Naif.
Tapi Dena sadar, biar bagaimanapun ternyata Dena menyakiti perasaan Hamri, perasaan Jaya dan juga perasaannya sendiri.
Dena bagaikan tertampar saat ada seseorang yang mengucapkan kata
" Dalam cinta, elo ga bisa naif, biar bagaimanapun elo udah menyakiti mereka dan elo sendiri. Dan menurut gw elo Bodoh kalau menyakiti perasaan loe sendiri. "
*
Jaya menatap Dena yang berdiri dihadapannya.
Kata-kata Dena seakan menghilang bersama angin yang berhembus malam ini.
Jaya berlutut, memohon, menangis kepada Dena agar tidak meninggalkannya. Tapi Dena tidak mau merubah keputusannya.
Kemarahan, kesedihan dan rasa sakit yang Jaya rasakan meledak saat berada didalam kamarnya. Jaya melempar semua barang yang berada di atas ranjangnya.
Jaya sadar Dena masih mencintai Hamri, Jaya sadar perasaan Dena yang menderita walaupun Dena bersamanya.
Dena tidak perlu mengatakan semua hal itu kepadanya. Semuanya terlihat di bola mata Dena. Mata yang tak lagi memancarkan binar yang selalu membuat Jaya kagum.
Tapi Jaya menepis semua bentuk kesadarannya. Sepanjang Dena menjadi miliknya, semua itu tak akan menjadi masalah.
Jaya melempar handphone-nya ke arah cermin. Serpihan kaca berhamburan memenuhi kamar. Matanya menatap serpihan kaca dengan pilu.
Seperti itulah hatinya sekarang.
Seperti itulah dirinya sekarang.
*
Dena tidak akan menangis lagi. Itu tekadnya.
Mungkin Dena harus menjalani ini semua agar Dena mengerti akan cinta.
Kini tidak ada perjuangan lagi untuk kembali kepada Hamri, ataupun Jaya.
Cukup Adil jika semuanya tersakiti.
Tapi ada saat dimana Dena harus berhenti, berhenti agar semuanya tidak terlambat.
Kini ruang kosong dihatinya mulai memudar.
Dena merebahkan tubuhnya yang penat ke atas ranjang.
Matanya menutup perlahan.
Dena pun tertidur.
*
Waktu terus berjalan, sudah delapan musim Dena, Hamri dan Jaya lalui.
Terkadang saat berpapasan dengan Jaya, Dena tersenyum.
Terkadang juga Dena berbincang dengan Jaya.
Tapi kini, tak akan ada kata-kata cinta yang terucap.
Terkadang Dena masih berkunjung ke rumah Hamri, dan begitu juga sebaliknya.
Beberapa pria yang datang dan pergi dalam hidup Dena tidak juga menghilangkan ruang kosong itu di hatinya.
Sudah delapan musim berlalu, beberapa wanita datang dan pergi dalam hidup Hamri dan Jaya.
Mungkin kenangan tidak akan bisa dilupakan, mungkin kenangan itu bukanlah untuk dilupakan, dan mungkin kenangan itu ada untuk menjadi sebuah pelajaran berharga. Dan itu yang Dena rasakan saat ini.
Malam ini adalah musim ke-sembilan yang terlewati.
Dena duduk bersisian dengan Jaya, tersenyum & tertawa saat mengenang kembali saat-saat itu.
Jaya menatap Dena dengan lembut.
"Maafkan aku saat itu karena terlalu buta akan dirimu. Maafkan aku karena menyakitimu.", ujar Jaya.
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Kini semua kebahagian sudah kamu dapatkan.", Dena tersenyum.
Sebuah kartu berwarna salem tergenggam erat ditangan Jaya.
Jaya pun tersenyum dan memandang cincin yang melingkar di jemari manisnya.
*
Malam ini tepat memasuki musim ke-sepuluh, Dena memarkirkan kendaraannya disisian jalan.
Malam ini langit begitu cerah dan bulan mulai terlihat penuh. Menyinari bumi dengan lembut.
Dena tergesa saat terdengar suara riuh memanggil namanya.
Matanya mencari-cari asal suara riuh tersebut.
Kemudian Dena tersenyum.
Matanya menangkap sosok teman-temannya yang mulai bersorak riang.
Sosok Hamri terlihat dengan jelas disana.
Dena tertegun.
Entah mengapa perasaannya menjadi gelisah. Seakan hatinya akan melompat keluar.
Dena berlari-lari kecil menghampiri teman-temannya.
*
Malam ini tepat memasuki musim ke-sepuluh. Bulan seakan malu-malu dan bersembunyi di balik awan.
Walaupun suasana dipenuhi gelak tawa, Dena merasa tidak tenang duduk bersisian dengan Hamri.
Sesekali kulit mereka bersentuhan, sesekali tangan mereka bersentuhan secara tidak disengaja.
Dena hampir terlonjak dari tempat duduknya saat Hamri mendekatkan wajahnya.
Hamri berbisik ditelinga Dena.
"Aku masih tetap mencintaimu.
Kembalilah kesisiku."
Wajah Dena merona merah, senyum kecil menghias dibibirnya. Tetapi Dena tidak juga mengucapkan sepatah katapun.
Malam kian larut, dan sudah waktunya untuk Dena pulang kerumah.
Dengan berlari-lari kecil Dena menghampiri mobilnya yang mulai basah oleh embun malam.
Tiba-tiba sebuah tangan menariknya.
Dena berpaling dan menemukan Hamri berdiri menggenggam tangannya.
Hamri kembali berbisik ditelinga Dena.
"I Love you Dena, please come back to me."
Wajah Dena kembali merona, tak ada kata yang terucap dibibirnya.
Dengan gemas Hamri berujar, "Jawabannya ??".
Dena tersenyum dan berkata
"Besok, temenin Aku kondangan ya."
Kemudian Dena berpaling dan berjalan perlahan ke arah mobilnya.
Hamri menatap Dena dan berlari menghampiri Dena.
"Pernikahannya siapa?"
"Pernikahannya Jaya!"
Dena terdiam sesaat dan melanjutkan kata-katanya.
"Hamri, I'm still loving you Too."
Dena tersenyum manis dan mengecup pipi Hamri.
Malam ini tepat memasuki musim ke-sepuluh dan ruang kosong di hati Dena menghilang tergantikan sebuah cahaya yang dinamakan cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar