**
Beruntungnya Galang mempunyai Istri seperti Rani. Rani, bukanlah seorang wanita yang cantik, tetapi pembawaannya lembut dan mempunyai wajah yang manis. Walaupun keluarga Galang menginginkan Galang untuk menceraikan Rani, karena Rani tak bisa memberikan keturunan, Galang tak akan pernah menceraikan ataupun menduakan Rani. Galang sangat mencintai Istrinya itu.
"Mas..pagi2 udah melamun aja.."
Lamunan Galang buyar saat Rani menyentuh pundaknya. Rani tersenyum dan membantu Galang memasang dasi dan merapikan kemejanya.
"Sarapan yuk Mas..", ujar Rani lembut.
Galang tersenyum dan merengkuh Rani ke dalam pelukannya, kemudian mengecup kening Rani.
'ahhhh..betapa aku mencintai istriku ini.'
Rani memeluk Galang dengan erat kemudian saat pelukannya terlepas, Rani mengamit jemari Galang, membawanya ke meja makan.
Rutinitas pagi yang menyenangkan. Cinta itu memang indah, Rani memang Indah walaupun tak sempurna, tetapi baginya itu cukup.
**
Mario terbangun dengan saat sinar mentari menggelitik lembut dipelupuk matanya. Mario menggeliat diatas ranjang dan kemudian menyadari bahwa tubuhnya telanjang. Mario menarik selimut dan menutupi setengah tubuhnya, menatap sekeliling kamarnya dan menemukan sebuah kertas tergeletak disisi ranjangnya.
"Malam yang hebat
*kiss
*Anita "
Mario meremas note tersebut dan membuangnya sembarangan.
'Malam yang hebat..yeah..but sorry..it just for a sex.."
Pikiran Mario kembali ke malam tadi, saat dirinya mengeluti tubuh Anita dengan lembut, Menciumnya dengan liar, melumat bibir Anita yang merah merekah, menikmati saat Anita mengejam penuh gelora.
Mario terkekeh..
'Girls..they just a toy for me..and they're such a fun in bed.'
Mario meraih boxernya yang tergeletak di lantai, mengenakannya dan kemudian melangkah menuju dapur. Mario menguap dan meraih kotak susu yang tergeletak manis didalam kulkas.
Mario kembali menguap.
'it's a lazy day..but still i must going to work..'
Mario melangkah dengan tubuhnya yang setengah telanjang menuju kamar mandi sembari bersenandung..
'No love..just for fun..isn't not love..it just for fun babe..'
**
Rani berjalan menyusuri setiap toko di mall. Wajahnya yang manis terlihat sedikit kerepotan membawa belanjaan yang berjubel di tangannya yang kecil.
'Huufhh..masih ada lagi yang harus dibeli..', batin Rani sembari melirik ke arah list belanjaannya.
Tiba-tiba Rani terjatuh.
"Maaf.."
Rani meraih kantung belanjaannya tanpa melihat sosok yang menabraknya. Rani berdiri saat sosok itu menyodorkan beberapa kantungnya yang tercecer.
"Thanks.."
"Sama2..maaf..aku ga liat kamu tadi..", ujar pria itu tersenyum.
Rani menatap pria itu dengan terkejut.
"Mmm..ga apa-apa..aku juga ga liat jalan tadi.."
"Oh..iya..Mario..", ujar sosok itu sembari mengulurkan tangannya.
Rani menatap Mario dengan ragu, dan perlahan menyambut tangan Mario.
"Rani..", ujar Rani lirih.
"Shopping day ya??", Ujar Mario sembari melirik ke arah kantung belanja Rani.
"Yeah..", Rani menjawab dengan ragu.
"May i help you to carry your bag??"
"Mmmm..", Rani masih menatap Mario dengan ragu.
"Anggap saja sebagai permintaan maaf karena menabrak kamu tadi.", Ujar Mario sembari mengambil kantung belanjaan dari tangan Rani tanpa persetujuan Rani.
"Don't worry..Aku bukan orang jahat kok.", Ujar Mario kembali sembari tersenyum.
**
Mario menatap wajah Rani yang duduk diam dihadapannya. Wanita yang ramah, tidak cantik, tetapi terlihat mempesona, manis, tapi sayang sudah menikah.
"Thanks ya, udah bantuin bawa belanjaan aku.", ujar Rani tersenyum.
"Sama-sama. Lagi pula aku yang salah karena ga liat jalan. Anggap aja ini permintaan maaf aku."
"And thank's for a lunch..", ujar rani kembali.
"Aku yang makasi karena udah mau nemenin aku makan siang and thanks for a nice chat.", ujar Mario.
Rani tersenyum dan kemudian berpamitan pulang, tetapi Mario memaksa Rani untuk membawa kantung belanjanya sampai tempat parkir.
Rani menatap Mario dari dalam mobil dengan tatapan keheranan, dan kemudian melajukan mobilnya perlahan. Rani melihat Mario melambaikan tangan ke arahnya.
**
Galang mengetuk pintu dengan perlahan.
"Sayang..kamu lama banget mandinya, aku udah lapar nih.."
"Sebentar Mas, sebentar lagi aku selesai kok. Kamu mandi dulu baru makan malam ya..", ujar Rani dari dalam kamar mandi.
"Kalau begitu, biarkan aku mandi bersamamu."
"Genit kamu mas."
"Kamu kan istri aku, daripada aku genit sama wanita lain kan?!", ujar Galang sembari membuka pintu kamar mandi.
"Masss..."
"Hehehe..aku lupa bilang kalau kuncinya rusak dari dari minggu lalu.."
"Jahat...."
Galang melangkah masuk ke kamar mandi, dan menutupnya perlahan.
**
Bella menghela nafas dan mengusap keringat yang bercucuran di keningnya. Kemudian senyum terpancar dari bibirnya, memandangi bunga-bunga yang tertata rapi didalam tokonya. Akhirnya impiannya tercapai untuk mempunyai toko bunga sendiri.
"Maaf mbak, disini jual mawar putih?"
Bella tersentak saat sebuah suara renyah, menggelitik ditelinganya.
'Ah..pelanggan pertama'
Bella memutar tubuhnya dan menatap wajah pelanggannya.
"Iya..kebetulan saya menjual mawar putih.", ujar Bella sembari tersenyum.
Bella menatap wajah pelanggannya yang terdiam terpaku menatapnya. Seketika perasaannya sedikit terusik saat menyadari wanita itu memandangnya dengan wajah terkejut.
"Maaf, anda mau berapa tangkai mawar?", ujar Bella memecah kesunyian.
"Eh...mmm..kira-kira 50 tangkai mawar.", ujar wanita tersebut dengan gugup.
Bella memutar tubuhnya perlahan dan menghampiri ember yang penuh dengan mawar putih.
Jemarinya dengan telaten memilih satu persatu mawar putih itu. Mata Bella sempat melirik wanita tersebut. Wanita itu masih saja menatapnya bengan takjud dan keheranan. Bella menghela nafas.
'Pelanggan pertama, aku harus tetap tegar dan tersenyum, walaupun aku sedikit tersinggung dengan tatapannya.'
Bella menambahkan beberapa tangkai mawar putih sebagai bonus untuk pelanggan pertamanya hari ini. Bella melangkahkan kakinya menghampiri wanita tersebut. Dan menyodorkan rangkaian mawar putih yang telah terangkai dengan indah dengan pita merah.
"Atas nama siapa ya mbak?"
"Rani..."
Bella masih berusaha tersenyum saat menulis nama Rani dalam lembaran pembelian.
"Kamu.....", ujar Rani lirih.
"Maaf..??", ujar Bella.
"Ah..tak apa..", Rani tersenyum kecil dan tubuhnya sedikit oleng. Bella dengan sigap menangkap tubuh Rani agar tidak terjatuh.
Bella menatap wajah Rani yang sedikit pucat, dan kemudian memapahnya untuk duduk diatas sofa mungil yang berada disamping meja kasir. Bella melangkan masuk ke belakang dan kembali dengan secangkir es teh.
"Hari ini memang sedikit panas.", ujar Bella sembari menyodorkan cangkir.
Rani tersenyum dan meraih cangkir tersebut sembari mengucapkan terima kasih.
Bella menatap wajah Rani yang meneguk es tehnya perlahan.
"Maaf kalau ada yang aneh sama diri aku.", ujar Bella
".......", Rani terdiam dan memandang Bella dengan keheranan.
"Aku memang bukan wanita tulen.", ujar Bella getir.
Rani meletakkan cangkir di meja kecil yang berada di samping sofa, dan kemudian jemarinya menyentuh tangan Bella.
"Maaf kalau aku membuatmu tersinggung.", ujar Rani lembut.
Bella tersenyum dan mengangguk.
Selama setengah jam Bella bercengkrama didalam tokonya bersama Rani.
'Mungkin, ini bisa menjadi awal sebuah persahabatan', batin Bella.
**
Mario menatap kerlip lampu kota jakarta dari balik jendela apartmentnya. Hatinya tergelitik saat mengingat seorang wanita. Wanita yang manis, mempesona dan ramah. Andai saja Mario dapat bertemu dengan wanita itu kembali.
'ahhhhh..kenapa waktu itu gw ga minta nomer handphone-nya?? stupid..!!', batin Mario.
Mario menatap kerlip lampu dari balik apartmentnya dan tersenyum mengingat Rani. Pertemuan yang pertama kali, dan mungkin untuk terakhir kalinya, tetapi entah mengapa sosok Rani melekat di ingatannya.
Mario tersentak saat jemari lembut menyusuri tubuhnya. Mario menoleh, melihat seorang wanita memeluknya dari belakang. Mario memutar tubuhnya, menatap wajah wanita itu dan memeluknya dengan lembut.
"Rani..", ujar Mario lembut.
"Fani..my name is Fani, rio..huhhh..", Ujar wanita itu sembari mencubit pinggang Mario.
"Sorry..", ujar Mario sembari meringis.
"Gak apa-apa. Makanya jangan kebanyakan onenightstand. Huuuhhh."
Mario tertawa saat melihat wajah Fani yang cemberut, direngkuhnya Fina kedalam pelukannya, dan dilumatnya bibir Fina dengan lembut.
**
Bella menatap bunga-bunganya dengan lembut. Jemarinya menghitung bunga-bunga yang tersisa hari ini. Bella menghela nafas, dan tersenyum. Dibelainya beberapa mawar putih yang tersisa. Bella teringat akan seorang wanita yang sangat menyukai mawar putih, Rani.
Wanita yang ramah, dan entah mengapa memberikan kehangatan dalam hati Bella yang terasa kosong selama ini. Rani membuatnya nyaman menjadi dirinya sendiri. Walaupun ada kesalah-pahaman sewaktu mereka bertemu pertama kali. Dan Rani mengucapkan kata-kata yang membuatnya terperajat.
"kamu..cantik..dan aku terpana melihatnya walaupun kamu bukan wanita.", ujar Rani saat itu.
'Andai reninkarnasi itu ada, aku ingin menjadi pria seutuhnya, pria normal dan aku akan mencarimu, menjadikanmu milikku.'
**
Galang merengkuh Rani kedalam pelukannya. Membelai Rani dengan lembut dan mengecup keningnya perlahan.
Rani..Rani..Rani..dunianya hanya ada Rani. Tak akan ada yang lain. Hanya ada Rani.
Galang menatap Rani yang tertidur pulas disampingnya. Bahagia selamanya akan menjadi miliknya, Rani selamanya akan menjadi miliknya..selamanya.
**
Siang ini matahari bersinar dengan bangga.
'its like a giant spotlight', keluh Mario.
Mario melangkahkan kakinya menuju sebuah restaurant mungil yang terletak diujung jalan. Seketika senyum menghiasi bibirnya saat melihat sesosok wanita yang duduk manis di kursi kecil restaurant tersebut. Mario melangkahkan kakinya dengan tergesa.
"Hey.."
"Hey..", wajah wanita itu terlihat bingung.
"Still remember me??"
"Mmmm.."
"Mario..pria yang menabrakmu waktu itu.",Ujar Mario tak sabar.
"Oh...sorry.."
"Ga apa apa..may i sit here??", ujar Mario.
Wanita itu menatap Mario dengan ragu.
"Rani..?? May i sit here??"
"Uh....", Rani mengangguk saat Mario sudah mendaratkan tubuhnya yang atletis diatas bangku.
"Lunch alone??", Ujar Mario sembari tersenyum.
"Aku janjian sama suami aku buat makan siang disini."
"Owwhh..so where is he??"
"not coming yet..and i think he wouldn't come.", ujar Rani
"Call him..", ujar Mario.
Rani menatap layar handphone-nya dan menghela nafas.
"He text me..he can't come.."
"Oh..sorry to hear that.."
Rani tersenyum dan menatap Mario.
'Kebetulan yang menyenangkan..gw harus minta nomer handphone-nya, well..eventough she can't be mine..at least i can be her friend.'
**
Galang terbangun dan menatap ranjangnya yang kosong. Rani tak ada disampingnya. Galang beranjak dari atas ranjang, dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, membuka pintu kamar mandi perlahan..kosong..
Galang melangkahkan kakinya menuju dapur, tetapi tak ada sosok Rani disana. Galang mencari disetiap ruangan, tetapi sosok Rani tak juga ditemukan.
Galang berlari menuju kamar tidur, ditatapnya jam dinding, masih jam 3 dini hari, dan Rani menghilang. Galang meraih Handphone-nya dan mencoba menelepon Rani.
Suara ringtone terdengar membahana ke seluruh ruangan. Handphone Rani tergeletak dibawah ranjang.
Galang mendengus kesal.
'Sayang..kamu dimana??'
Galang mencoba menghubungi CDMA Rani, tetapi ternyata suara ringtone kembali membahana memecah kesunyian kamar.
"Mas...."
Galang tersentak mendengar suara Rani dari atas ranjang. Galang menoleh dan menemukan Rani terbaring dengan wajah sayu dibalik selimut.
"Kamu darimana aja sayang??", ujar Galang.
Rani menguap dan menatap Galang dengan bingung.
"Aku dari tadi tidur disini mas.."
Galang menghela nafas dan memeluk Rani, seketika airmatanya mengalir dari sudut matanya.
Rani memeluk Galang dengan erat.
"Kamu kenapa Mas..??"
Galang tenggelam dalam pelukan hangat Rani.
"Jangan pernah tinggalin aku ya sayang.", isak Galang.
Rani memeluk tubuh Galang kian erat dan mengecum lembut kening Galang.
"Aku ga akan pernah ninggalin kamu mas.", ujar Rani lirih.
Galang menatap wajah Rani yang kembali tertidur pulas. Entah mengapa akhir-akhir ini ketakutan Galang kian membuncah, ketakutan akan kehilangan Rani. Bagaimana bisa jika itu terjadi, sedangkan bagi Galang, Rani adalah hidupnya?
**
"Galang..?!"
"Hey...Sarah.."
"How are you??"
"Baik..kamu apa kabar??"
"Alhamdulillah baik, Rani apa kabar??"
"Alhamdulillah baik. Eh..sendirian aja sar??"
"No..i'm with my husband. Bima lg ke toilet. Have a seat first lang."
Galang duduk desebelah Sarah dan memandang perut Sarah yang membuncit.
"Hmmm..Udah berapa bulan sar?"
"Lima bulan..hehehe.."
"Akhirnya kalian punya momongan juga.."
"Yap..hal yang paling aku sama Bima inginkan.", ujar Sarah sembari mengelus perutnya yang membuncit.
"Hey..Galang.."
"Bima.."
Galang berdiri dari kursinya dan kemudian memeluk Bima.
"Long time no see..hahaha..", ujar Bima.
"Yeah..udah hampir 4 bulan ya kita ga ketemu, dan sekalinya ketemu, Sarah lagi isi."
"Hahaha..alhamdulillah Lang, akhirnya gw punya momongan juga. Eh iya, Rani apa kabar Lang??"
"Alhamdulillah baik. Rani masih sibuk menata rumah supaya nyaman buat kami berdua."
"It's good for her kan?!"
Galang terdiam dan wajahnya terlihat sedih.
"Hey..what's wrong Lang?"
"Hhhh..akhir-akhir ini Rani sedikit aneh."
Bima menatap Sarah, Sarah mengangguk, dan kemudian berdiri dari duduknya.
"Mo kemana Sar? I don't mind if you listening. kalian berdua kan sahabat gw."
"Aku ke toilet dulu..", ujar Sarah tersenyum dan kemudian berlalu.
"Rani aneh kenapa Lang??"
"Hampir setiap malam Rani menghilang. Dan kalau gw tanya, Rani cuma bilang kalau dia ga kemana-mana. Gw takut Bim, takut kalau nanti Rani pergi ninggalin gw. Jujur udah 2 bulan ini gw emang sedikit mengabaikan Rani. Gw terlalu sibuk sama kerjaan gw. Tapi seinget gw Rani ga pernah mengeluh dan sepertinya Rani terlihat terbiasa, seperti gw ga mengabaikan dia."
"Hmmm.."
"Semua ini buat gw ga bisa tidur nyenyak."
"Think positive aja Lang. Rani ga mungkin ninggalin elo Lang. She love you so much.eh iya..Kapan-kapan gw sama Sarah main kerumah loe ya."
"Yeah..mungkin gw cuma kecapean aja, jadi pikiran gw aneh seperti ini. Berkunjunglah ke rumah gw, elo cuma sekali ke ngeliat gw sama Rani, itupun waktu gw sama Rani baru pindah kesana."
"Yah..sorry..ada beberapa pasien yang ga bisa gw tinggal soalnya."
Galang meneguk cappuchino hangatnya yang baru saja datang.
'Yeah..mungkin ini hanya ketakutan gw aja..Rani ga mungkin ninggalin gw..Rani ga mungkin melakukan hal itu.'
**
Rani menatap tubuhnya yang telanjang, hanya selimut yang menutupi tubuhnya. Jemarinya menari lembut disebuah dada bidang..dada Mario.
Mario terbangun dan menatap Rani yang terbaring manja didadanya. Bibirnya memulas senyum dan mengecup kening Rani dengan lembut. Rani tersenyum saat Mario memeluk Rani dengan erat.
"I love you Rani.", bisik Mario lembut.
Rani tersipu dan menenggelamkan wajahnya didada bidang Mario.
Mario bahagia, kebahagiaan yang tak terhingga.
**
Bella menatap sosok Rani yang muncul ini di toko bunganya. Bella tersenyum saat Rani menyapanya dengan lembut.
Betapa Bella merindukan Rani yang selama seminggu ini tak dijumpainya.
"Makasi ya kiriman mawarnya kemarin.", ujar Rani.
Bella tersenyum dan mengangguk malu-malu. Matanya berbinar dan menatap Rani dengan lembut. Entah mengapa hatinya tergerak untuk mencium Rani. Dan dalam hitungan detik, Bella sudah menemukan bibirnya melumat bibir Rani..dan Rani membalas ciumannya dengan lembut.
Hatinya mencelos, seakan berada dalam dilema yang tak bertepi. Andai saja Bella tak pernah menjadi waria..andai saja..
**
Rani terduduk diatas sofa. Entah mengapa harinya saat ini merasa ragu.Ini kesalahan..sebuah kesalahan..tetapi mengapa Rani tak bisa menghentikannya?
Rani menatap layar handphone-nya. Sebuah pesan singkat dari Mario membuat airmatanya menetes. Sebuah pesan singkat yang beisi kata 'I LOVE YOU, RANI'
Ini kesalahan..
sebuah kesalahan..
lalu mengapa Rani tak bisa menghentikannya?
Hati Rani mencelos, andai saja semua tak pernah terjadi.
Andai saja kesalahan ini tak pernah terjadi..
Lalu..
Jika ini sebuah kesalahan, bagaimana cara Rani untuk berhenti melakukannya?
Sedangkan hatinya lemah dan lelah.
Rani menghapus airmata yang mengalir dipipinya, dan beranjak masuk.
Galang menatap Rani dan memeluknya erat. Hati Rani kian menggeliat, betapa Rani mencintai Galang dengan sepenuh hati..dengan sepenuh hati..dengan segenap jiwa raganya. Hanya saja, Rani merasa begitu lemah..begitu lelah.
**
"Hallo Sarah.."
"Hey..who is it?"
"Rani.."
"Hey Rani..how are you?"
"Hufhhh.."
"Kenapa Rani? What's wrong with you?"
"I need to talk with Bima, Sar."
"Hmm..nanti malam biar Bima nelp kamu ya Rani, sekarang Bima lagi di klinik."
"Thanks Sar.."
"Rani.."
"Yeap??"
"Are you Ok??"
"I don't know..a lil bit confused i guess."
"Hmmm..tarik nafas dalam-dalam ya Ran..i know that you are stronger woman."
"Thanks Sarah..i miss you so much.."
"I miss you too dear."
Rani menutup teleponnya dan beranjak menuju kamar mandi.
Tetesan air dari shower menari lembut ditubuhnya. Rani membelai lembut tubuhnya perlahan.
'Biarkan penat ini hilang, agar Galang hanya bisa melihatku tersenyum', batin Rani.
**
Galang mengerjapkan matanya dengan malas. Pagi mulai menjelang menandakan aktivitas pagi dimulai. Galang menatap sisi ranjangnya yang kosong. Tak ada Rani disampingnya. Galang beranjak dari atas Ranjang. Hilangkan Rani sepagi ini?
Wangi tumisan menggelitik indera penciumannya. Galang melangkah menuju dapur dan tersenyum. Ditatapnya Rani yang berpeluh dalam balutan gaun tidurnya sedang memasak.
Galang memperhatikan Rani yang meletakkan piring berisi makanan ke atas meja makan. Galang tersenyum.
"Ngapain Mas senyum-senyum disitu. Mandi sana trus sarapan. Nanti terlambat kekantor lho."
Galang terkejut saat Rani menegurnya. Terlihat peluh yang bercucuran dikening Rani. Entah mengapa itu terlihat begitu mempesona dimata Galang.
Galang menghampiri Rani dan merengkuhnya kedalam pelukan. Galang mencium bibir Rani dengan lembut. Jemarinya mulai menjelajah ke balik gaun tidur Rani. Tetapi Rani menepis dan mendorong Galang menjauh.
"Kamu nakal mas..mandilah..udah jam 7 pagi, nanti kamu terlambat.", ujar Rani dengan wajahnya yang mulai merona, menggemaskan.
Galang tertawa nakal dan mendengus saat menatap jam dinding. Galang kemudian melangkah menuju kamar mandi dengan perasaan yang sedikit dongkol.
'Masih ada malam nanti', begitu batinnya.
**
Galang tersentak saat melihat Rani keluar dari sebuah apartment bersama dengan seorang pria. Mereka bergandengan dengan mesra.
Galang memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat pemandangan tersebut.
Bagaimana bisa?
Sedangkan beberapa hari yang lalu, Galang melihat Rani mencium seorang waria disebuah toko bunga.
Hati Galang dilanda keraguan.
Mungkin ini semua hanya imajinasinya..
Yah..
Mungkin saja..
Rani tak mungkin menghianatinya.
**
Galang sengaja pulang kantor lebih cepat dari biasanya. Setangkai mawar putih berada dalam genggamannya. Mawar untuk Rani.
Galang mengendap-endap masuk ke dalam rumah, mencoba memberikan kejutan kepada Rani, tetapi Galang tak menemukan Rani dirumah. Galang menatap ranjangnya dan menyadari bahwa Rani sedang menyiram tanaman ditaman belakang.
Diletakkan mawar putih itu diatas ranjang. Hati Galang tergelitik saat melihat Handphone Rani berkedip-kedip.
Diraihnya handphone Rani.
3 text message and 4 misscalls
Galang membuka perlahan inbox dalam handphone Rani.
From : Mario
I Miss you love
I love you, Rani
Thanks for this day.
Love you so much.
From : Mario
I wish you were mine..
I wish you were here..
From : Bella
Maafkan aku waktu itu menciummu. Maafkan aku..andai saja aku bukan waria..andai saja aku seorang pria..
Maafkan aku karena mencintaimu Rani.
Seketika Emosi membuncah dalam hati Galang.
"Mas..."
Galang menoleh saat Rani memanggil namanya. Wajah Rani pucat saat melihat Galang menggenggam handphone miliknya.
"KAMU BERSELINGKUH DIBELAKANGKU???? TEGANYA KAMU RANI..!!"
"mas...."
Galang melempar Handphone Rani dan menghampiri Rani yang masih berdiri di depan pintu kamar dengan gusar. Jemari Galang mencengkram wajah Rani dengan kuat.
"TEGANYA KAMU..TEGANYA KAMU....!!!"
"Mas..sakit..."
"HATI AKU JAUH LEBIH SAKIT!!!"
Galang melempar tubuh Rani kekoridor. Rani meringis kesakitan. Airmatanya mengalir. Galang menampar pipi Rani dengan kencang.
"Mas..aku ga pernah selingkuh..aku mohon mas, dengarkan dulu penjelasanku..", isak Rani.
Galang kembali menampar pipi Rani, jemari Galang mencengkram leher Rani, Rani meronta, darah mulai mengalir dari sisi bibirnya. Rani berhasil meloloskan diri dan kemudian berlari mengunci dirinya didalam kamar. Galang menggedor-gedor pintu kamar dengan marah. Galang terus saja berteriak.
Rani mengambil handphone-nya dengan panik dan segera menelepon Bima.
"Bima..please help me..Galang mengamuk..tolong..tolong aku Bima.."
"Kamu dimana Rani?? Aku masih dijalan sama Sarah, kebetulan hari ini emang berniat mau mampir kerumah kamu."
"Aku dirumah..please..hurry up Bima..aku takut..Galang..."
Prang...
Rani terkejut saat kaca jendela berhamburan masuk. Rani menatap Galang yang merusaha masuk melalui jendela. Tubuh Rani bergetar hebat. Dan kemudian berlari menuju pintu. Jemarinya basah oleh keringat.
Tubuh Rani terus saja bergetar hebat.
Saat pintu kamar berhasil terbuka, Galang menarik Rani dengan kasar.
Jemari Galang kembali menampar wajah Rani dan kemudian menarik rambut Rani dengan kuat.
"KAMU TAU BETAPA CINTANYA AKU SAMA KAMU?! TEGA KAMU..MENIPU AKU SEPERTI INI !!!"
"Mas..tolong..dengarkan aku..aku ga pernah selingkuh mas..", ujar Rani terbata.
"BUSUK KAMU..MARIO..SIAPA ITU MARIO..SIANG TADI KAMU SAMA-SAMA DIA KAN. AKU GA BUTA..INBOX KAMU CINTA-CINTAAN SEGALA SAMA DIA. KAMU KOTOR, SAMPAI KAMU JUGA BERSELINGKUH DENGAN SEORANG WARIA?! BUSUK KAMU RANI !!"
"CUKUPPPP MASSS...CUKUPPPPP...AKU UDAH GA TAHAN LAGI..MARIO ATAUPUN BELLA GA PERNAH ADA. MEREKA GA PERNAH ADA!!", Isak Rani.
Galang melingkarkan jemarinya, mencekik Rani.
Tiba-tiba Bima menarik tubuh Galang dan kemudian memukulnya dengan kencang. Galang jatuh tersungkur, kepalanya membentur meja dan Galang pun tak sadarkan diri.
**
Bau antiseptik menyeruak menusuk hidung. Rani terisak menatap Galang yang masih tak sadarkan diri.
"Aku ga tau lagi harus gimana Bim..aku kira dengan pindah kerumah yang sekarang kondisi Galang akan membaik. Tapi dari hari ke hari, kondisinya semakin aneh. Membuat aku terkejut. Hingga saat dia mengenalkan dirinya sebagai Mario, jujur aku bingung..ataupun saat Galang mengenalkan dirinya sebagai Bella..", isak Rani
"Seharusnya kamu kabarin aku sama Sarah dari awal Ran.."
"Aku bingung Bim, selama ini, obat untuk Galang tak pernah absen. Aku beri sesuai dengan dosis yang kamu beri."
"Aku pernah bilang kan Rani kalau Galang butuh perawatan, tetapi kamu menolak."
"Tapi kenapa kepribadian Galang yang lain juga mencintai aku, Bim..?! Aku lemah..dimataku, Mario ataupun Bella tetap saja Galang."
"Karena Galang begitu kuat mencintaimu Ran..hingga kepribadiannya yang terpecahpun juga ikut mencintaimu..tulus.."
Rani terisak menatap Galang yang mulai sadar.
"Andai kepribadian Galang tak terpecah..mungkin semua akan baik-baik saja.", ujar Rani lirih.
Galang berteriak mengucapkan sumpah serapah saat melihat Rani.
"Rani..kamu adalah hidupku..milikku selamanya, andai aku mati kemudian terlahir kembali dan menjadi orang lain, aku akan mengelilingi dunia untuk mencarimu dan menemukanmu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar