Dunia
yang Aku kenal hanya terdiri dari tiga warna, Hitam, Putih dan abu-abu. Dan Aku
berdiri ditengah-tengah..berdiri diantara Hitam dan Putih..berdiri di sebuah
warna yang disebut abu-abu.
Lalu..gelapkah
hidupku??
Tidak..jangan
berkata seperti itu!!
Kadang
ada cahaya yang membawa kehangatan disana..kadang cahaya tersebut juga terasa
dingin. Kadang gelap yang dingin membayangi..tetapi kadang gelap itu juga dapat
membawa kehangatan dalam hidupku. Yah..abu-abu..itulah hidupku.
**
Aku
memandang kekejauhan, begitu banyak amarah, benci dan ketidak-perdulian. Tetapi
jika Aku memandang lebih jauh lagi..masih bisa Aku lihat cinta disana.
Ah..Cinta..itu
sesuatu hal yang tak pernah bisa dijangkau oleh hati dan otakku. Logikaku tak
pernah bisa menjangkau apa itu Cinta.
Kadang
saat Aku berjalan di taman saat sore hari, Aku melihat pasangan tua yang duduk
bergandengan tangan dengan mesra. Cintakah itu??
Kadang
Aku melihat seorang ibu yang mengendong anaknya. Itukah Cinta??
Itukah
wujud-wujud cinta??
Logikaku
berputar mencari arti cinta..tetapi hatiku menolak dan kemudian menegaskan
bahwa yah..Aku tak akan pernah mempercayai cinta!!
Aku
hidup disebuah keluarga kecil yang bahagia. Ayah dan Ibuku berasal dari dua
kultur yang berbeda yang akhirnya menyatu dalam sebuah wujud yang disebut
pernikahan. Lalu..cintakah itu??
Bagi
diriku, Pernikahan itu hanyalah sebuah pilihan antara manusia untuk meneruskan
keturunan. Pernikahan itu sebuah hal yang konyol..Sangat konyol.
Berasal
dari 2 orang yang tidak saling mengenal, kemudian belajar untuk mengenal satu
sama lain dan kemudian menjalin sebuah komitment untuk menikah dan belajar
untuk hidup berbagi.
Berbagi..ah..itu
masalah terbesar dalam hidupku. Aku tak suka berbagi. Aku tak suka orang lain
melangkah terlalu jauh dalam hidupku. Aku tak suka saat orang mulai menyentuh
hidupku dan berusaha mengenal diriku lebih jauh dari yang Aku inginkan.
Lalu..kesepiankah
diriku..?? Yah..Aku kesepian..tapi..bukankah semua orang juga merasakan
kesepian..?! Mungkin perbedaan terbesar adalah..Aku menikmati dan menyukai
kesepian itu.
**
Hari
ini usiaku mulai memasuki 30 tahun. Usia yang menurut ibuku terlalu tua untuk
seorang wanita lajang. Beberapa kali Ibu berusaha mengenalkan Aku dengan pria.
Tetapi Aku selalu menolak.
Kadang
Aku berfikir, mengapa menikah itu merupakan sebuah kewajiban?! Bisakah Aku
hidup hanya sendiri?!
Tak
perlu direpotkan dengan sebuah hal yang mengganggu keseimbangan diriku?! Aku
terlalu senang akan kesendirianku..terlalu menikmati hidupku yang abu-abu..yang
mungkin bagi orang lain terkesan membosankan. Tapi itu tidak bagiku..hidupku
menyenangkan..sangat menyenangkan.
**
Malam
ini Aku duduk diberanda rumahku. Menikmati rintik hujan yang membasahi ujung
jari kakiku yang Aku julurkan diantara rumput-rumput basah. Ini menyenangkan,
sangat menyenangkan bagiku.
Aku
selalu menyukai saat hujan turun, Aku menyukai wangi tanah yang basah oleh air
hujan. Aku menyukai tetes-tetes air yang berjatuhan dari langit. Aku sangat
menyukai hujan.
Aku
memainkan jari-jari kakiku diantara rumput-rumput basah dan air hujan. Kemudian
Aku meneguk perlahan coklat hangat dari cangkirku. Hidupku tentram dan
tenang..Aku memejamkan mata dan tersenyum.
Bukannya
Aku tak pernah menjalin hubungan dengan seseorang. Aku pernah mempunyai
pacar..beberapa pacar. Tetapi..Aku selalu memasang pagar pembatas untuk mereka,
dan saat mereka berusaha untuk menerobos masuk..Aku merasa terganggu..sangat
terganggu, dan akhirnya Aku menyingkirkan mereka.
Apakah
Aku menyayangi mereka??
Sejujurnya,
perasaanku tak lebih dari hanya kata sekedar. Sekedar berfomalitas. Mengucapkan
kata sayang saat mereka bertanya apakah Aku menyayangi mereka. Itu hal yang
mudah..mengucapkan itu sesuatu hal yang amat sangat mudah,
tetapi..melaksanakannya itu bukanlah hal yang mudah.
Dan
kemudian Aku menemukan diriku berada disaat 'berusaha dan ternyata tak bisa'.
Itulah yang terjadi, Aku berusaha menyayangi, tetapi hatiku tumpul. Mungkin
mati.
Yah..Aku
berdiri di antara Hitam dan Putih. Aku bisa tertarik akan seseorang, tetapi
hanya sekedar tertarik, tak bisa berkembang dan tak pernah ada keinginan untuk
lebih dekat atau menjalin hubungan. Mungkin organku yang disebut hati itu sudah
benar-benar tumpul.
Ah..sudahlah..sudahlah..
Aku
beranjak dari beranda dan melangkah masuk menuju kamar. Kurebahkan tubuhku
dalam ranjang besarku yang empuk dan kemudian mematikan lampu. Dalam keremangan
cahaya lampu jalan yang mengintip malu-malu dari balik jendelaku, Aku menatap
sebelah ranjangku yang kosong. Aku tersenyum..yah..Aku memang egois..seorang
egois yang menikmati hidupnya yang Abu-abu. Aku memejamkan mata dan memeluk
gulingku. Dan tak beberapa lama Aku mulai tertidur pulas sembari tersenyum.
**
Siang
ini, disela-sela istirahat makan siang, Aku menyempatkan diriku untuk
mengunjungi toko buku yang berada tak jauh dari kantorku. Saat Aku sedang
melihat-lihat, seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh. Seorang wanita cantik
tersenyum kearahku dan menyapaku dengan lembut. Aku terkejut dan kemudian
membalas senyumannya. Mataku menangkap sesosok gadis kecil yang berdiri
disebelahnya, gadis kecil itu memandangku malu-malu. Setelah berbicara beberapa
menit, wanita dan gadis kecil itu berlalu sembari melambai kearahku.
Aku
ingat siapa wanita itu. Wanita yang dulu pernah menjadi seseorang dalam
hidupku. Wanita yang menangis saat Aku memutuskan untuk meninggalkan dirinya
dulu. Dan lihatlah sekarang..dia sudah menikah dan mempunyai seorang gadis
kecil yang cantik. Bagus untuknya dan Aku bahagia untuknya..bahagia karena
akhirnya wanita itu memutuskan untuk menikah dengan lawan jenisnya..bukan
dengan Aku.
Ah..Hidupku
memang abu-abu..memang berdiri diantara Hitam dan Putih. Aku bukan hanya bisa
tertarik dengan lawan jenisku, tetapi juga dengan jenisku sendiri. Itulah
hidupku..Abu-abuku.
Aku
menarik nafas perlahan, tersenyum tipis, melirik kearah tumpukan buku yang ada
ditanganku dan kemudian melangkah kearah kasir.
**
Andai
saja hari ini waktu cepat berlalu. Karena saat ini Aku terjebak antara suara
Ibu yang mulai membanggakan anak temannya yang ingin Ibu perkenalkan denganku.
Entah mengapa Aku merasa lelah, sepertinya Ibu tak mau mengerti jalan pilihanku
yang ingin hidup sendiri.
"Ma..sudahlah..hentikan
melakukan sesuatu hal yang sia-sia.", ujarku.
"Waktu
Mama seumuran kamu sekarang, sudah punya 2 orang anak. Kamu, belum menikah sama
sekali. Mama malu.", ujar Ibuku.
"Katakan
sama orang-orang itu, biar Aku tidak menikah, tetapi penghasilanku lebih besar
dari yang mereka hasilkan. Dan Aku mampu untuk hidup sendiri."
"Setidaknya
kalau kamu menikah, ada yang bisa menemani kamu, ada seseorang yg bisa
memberikan penghasilan kepadamu dan kamu tidak perlu bekerja sekeras
ini.", ujar Ibu sedih.
"Ma,
Hidup Aku sudah lebih dari cukup, Aku lajang, berpenghasilan tinggi dan
mempunyai rumah sendiri. tanpa menikahpun, Aku bisa membantu Mama membayar
sekolah adik-adik dan Akupun masih bisa untuk menabung. Jadi untuk apa Aku
menikah?! Lagipula Aku mencintai pekerjaanku."
Ibu
memandangku sembari terdiam dan kemudian melangkah masuk ke kamar.
Aku
menghela nafas perlahan.
Mungkin
seharusnya hari ini Aku tak kerumah Ayah dan Ibu. Jujur Aku lelah menghadapi
sikap Ibuku yang selalu bersikeras menjodoh-jodohkan Aku dengan pria-pria yang
tak pernah Aku kenal sama sekali. Ibu pun tak mengenal mereka, Ibu hanya
mendengar cerita dari teman-temannya.
Walau
terkadang Aku menuruti permintaan Ibu untuk berkenalan dengan mereka, semua
berakhir dengan 'hanya perkenalan' saja.
Ayah
menghampiriku yang masih terduduk di sofa dan kemudian Ayah duduk disebelahku.
"Kamu
kenapa sayang??", ujar Ayah perlahan.
Aku
menoleh kearah Ayah dan kemudian menghela nafas perlahan.
"Aku
capek Pa. Mama selalu saja berusaha menjodohkan Aku dengan pria-pria yang tidak
Aku kenal sama sekali."
"Mamamu
hanya mengkhawatirkan tentang keadaanmu, sayang.", ujar Ayah perlahan.
"Mama
tak perlu sekhawatir itu Pa, Aku sudah dewasa dan Aku sudah menentukan pilihan
bahwa Aku tak ingin menikah."
"Jangan
berkata seperti itu nak. Papa sedih jika kamu berkata seperti itu."
Aku
terdiam.
"Aku
hanya..hhhhhh..."
"Kenapa
kamu tidak ingin menikah nak? Papa lihat, pria-pria yang Mamamu berusaha
kenalkan, mereka baik & mapan. Hendra, Rizky, Ahmad dan entahlah siapa itu,
Papa lihat mereka baik dan sopan.", ujar Ayah
"Pa..mungkin
Papa sama Mama melihat mereka baik, Aku tak pernah menyukai mereka. Hendra
mungkin memang baik dan sopan, tetapi Hendra itu angkuh dan sombong. Selalu
membangga-banggakan hartanya dan merendahkan orang yang dibawahnya. Rizky
mungkin terlihat baik dan sopan, tetapi Rizky seorang playboy. Pacarnya banyak
dan gaya hidupnya terlalu tinggi. Tak akan bisa Aku mengimbangi gaya hidupnya.
Dan yang terakhir Ahmad. Hhhh..Ahmad memang baik, sopan dan berbudi tinggi,
tetapi Ahmad tidak normal Pa..Ahmad tak bisa menyukai lawan jenisnya. Lalu, bagaimana
Aku bisa mengiyakan permintaan Mama??"
"Kalau
begitu, carilah pria yang kamu sukai. Asalkan pria itu baik, bertanggung jawab
dan terutama seagama dengan kita."
"Tidak
pa..Aku tak ingin menikah.."
"Kenapa
nak? Bicarakanlah sama papamu ini.."
"Aku..Aku
tak ingin menjadi seperti Mama. Karena Aku anak kandung Mama, sifat Aku pasti
tak akan berbeda jauh dengannya..sedangkan..sedangkan Aku begitu membenci sosok
itu..bagi Aku..itu menyakitkan hidup bertahun-tahun menghadapinya..dan Aku tak
pernah bisa mempercayai ada orang yang bisa menerima Aku dengan tulus jika Ibu
kandungku saja menolak Aku selama bertahun-tahun.", Aku pun menangis.
Ayah
menghela nafas dan kemudian berujar, "Mamamu menyayangimu nak, walau
mungkin dia tak pernah mengungkapkannya kepadamu."
"Papa..bertahun-tahun
Aku selalu hidup dengan penolakan Mama kepadaku, apa yang Aku lakukan tak
pernah cukup untuknya, apa yang Aku lakukan tak pernah sekalipun dia lihat. Apa
yang Aku kerjakan tak pernah membuatnya bangga atau hanya sekedar tersenyum
tulus. Aku hanya selalu mendengar kata-kata bahwa Aku adalah anak durhaka.
Lebih dari setengah gaji yang Aku hasilkan, Aku berikan ke Mama, itupun tak
cukup untuknya, tetap saja dia membanding-bandingkan Aku dengan yang lain.
Kata-kata yang keluar dari mulutnya tak pernah berupa pujian dan penghargaan,
yang ada hanya hinaan, sedangkan Aku, setiap Aku berusaha menyenangkan hatinya,
mama selalu mencari kesalahan dan kemudian mencaciku sedemikian rupa. Aku tahu,
jika Aku membalas kata-kata Mama, Mama selalu berkata bahwa Aku anak durhaka
dan anak tidak tahu diri. Ya..anggaplah Aku seperti itu. Lalu, berkacakah Mama?
Jika Anak yang melawan Ibunya disebut durhaka, bagaimana dengan seorang Ibu
yang menyiksa Anaknya sedemikian rupa..disebut apa Ibu yang seperti itu
pa?"
Ayahku
terdiam dan memandangku yang berurai airmata.
"Bertahun-tahun
Aku hidup dalam tekanan seperti itu, Aku melewati Anoreksia ku sendirian..hanya
karena Mama selalu berkata bahwa dia jijik melihat tubuhku yang saat itu
berbobot 60kg. Papa berkata seperti itu hanya untuk menyenangkan hatiku,
berkata bahwa Mama menghawatirkan Aku dan segala macamnya. Tapi Aku tahu, Mama
bukan mengkhawatirkan Aku, mama hanya malu, malu dengan orang-orang yang
berkata bahwa anaknya seorang perempuan yang tidak laku."
Airmataku
mengalir kian deras..kemudian Ayah membelai lembut kepalaku.
"Bencikah
kamu kepada Mamamu??"
"Aku
tidak membencinya, Aku hanya bisa membenci diriku sendiri. Dan Aku membenci
sosialisasi karena semua hal itu tak bisa membuatku merasa nyaman."
"Tuhan
menciptakan manusia itu berpasangan nak. Tak ada manusia yang mau hidup
sendiri. Jangan berkata kamu tak ingin menikah. Karena itu berarti kamu tidak
mengasihi dirimu sendiri nak. Jika kamu tak ingin menjadi sosok seperti mamamu,
berusahalah agar kamu bersikap berbeda dari apa yang kamu terima. Papa tahu
kamu anak yang tegar, anak yang pemberani dan mandiri, tetapi sekarang kamu
memutuskan sesuatu hal yang tidak pernah kamu coba, itu seperti kamu kalah akan
apa yang kamu reka sendiri sayang. Coba lihat nenek Asiah kamu yang tinggal di
Halim. Dia tidak menikah, dia mempunyai harta yang berlimpah, tinggal sendiri
dan kemudian dia mulai tua dan sakit-sakitan. Tak ada yang mengurus, sedih
hatinya saat itu. Tak ada satupun yang bisa terus-terusan menemani dan
merawatnya hingga akhirnya nenek Asiah kamu meninggal sendirian. Itukah
kehidupan yang kamu inginkan nak?
Waktu
berlalu, orang pun akan berubah tua, tak selamanya muda dan sehat, mungkin saat
ini kamu mempunyai teman dan adik-adik yang bisa menemani kamu kapan saja,
tetapi saatnya nanti merekapun masing-masing akan berkeluarga dan akhirnya
prioritas hidup merekapun berubah. Papa dan Mama pun seiring berjalannya waktu
akan bertambah tua, tak mungkin bisa hidup selamanya, pasti akan meninggal, lalu
kamu pun akan tinggal sendirian dan selalu kesepian. Papa tak menginginkan kamu
hidup seperti itu nak.", ujar Ayah sembari menahan airmata.
Aku
tertegun, tak menyangka Ayah akan mengalirkan airmatanya didepanku. Karena
selama hidupku, Ayah hanya menangis 2kali dihadapanku. Saat kakekku meninggal
dan saat Ayah dan Adik-adiknya bertengkar. Ditengah isak tangis aku berucap,
"Mungkin nanti Aku akan berubah pikiran dan kemudian memutuskan untuk
menikah Pa..tapi tidak sekarang..tidak sekarang"
**
Aku
menghempaskan tubuhku keatas ranjangku yang empuk. Penat terasa tubuh ini,
mungkin ini pertama kalinya Aku mengungkapkan perasaanku kepada Ayahku. Segala
hal yang Aku pendam selama bertahun-tahun akhirnya terucap juga, mungkin Aku
bukan anak yang berbakti tetapi Aku sangat ingin membahagiakan Ayahku, Karena
Ayah selalu saja berusaha untuk mengerti apa yang Aku jalani dan Ayah selalu
menyayangi Aku dengan segala ketidak-sempurnaanku.
"maybe
im just a little girl..daddy's little girl", ujarku perlahan, dan kemudian
Aku terlelap dalam genangan airmata.
**
Aku
tertegun menatap ruangan kantorku yang dipenuhi dengan bouquet mawar.
Orang
gila macam apa lagi yang mengirimkan mawar sebanyak ini??
Aku
memanggil office boy yang sedang menghidangkan teh hangat dimejaku dan kemudian
menyuruhnya untuk membuang semua bouquet mawar itu.
Aku
menghela nafas dengan kesal dan memanggil sekertarisku.
"Maaf
bu, saya tahu Ibu membenci mawar, tetapi tadi pak Anwar memaksa untuk meletakan
mawar-mawar itu diruangan Ibu.", ujar sekertarisku.
Aku
mendengus kesal.
"Lain
kali, jika Pak Anwar memaksa tolong panggil saja satpam dan usir dia dari
kantor ini."
Sekertarisku
mengangguk ketakutan melihatku yang mulai kesal.
Ah..kenapa
lelaki yang ada disekitarku tak pernah beres. Apalagi pria yang bernama Anwar
itu, pria beristri yang sudah mempunyai 4 orang anak tetapi masih sering
menggoda-goda wanita. Kalau bukan karena pekerjaan, Aku tak mau mengenal pria
seperti itu. Pria pengganggu yang sering datang kekantor, walaupun kontrak
kerja sudah selesai dan selalu mengirimkan Aku hadiah yang berakhir, Aku
kembalikan kepada saat itu juga.
Aku
mendelik saat melihat sebuah kartu ucapan manis yang berisi tulisan 'I LOVE
YOU' diatas meja kantorku. Secepat kilat Aku robek dan Aku buang ke tong
sampah. Aku bergidik jijik. Apa sudah tak ada lagi pria yang seperti sosok
Ayahku didunia ini?? Pria yang bertanggung jawab dan setia. Mungkin, jika Aku
bertemu dengan pria seperti sosok Ayahku, Aku akan merubah
pikiranku..mungkin...
**
Aku
berlari kecil kearah mobilku. Baru saja Aku teringat bahwa hari ini Aku ada
janji untuk berkumpul dengan teman-teman kuliahku dulu.
Sejujurnya
Aku tak ingin datang, akan tetapi sudah berulang kali Aku selalu menolak ajakan
mereka, dan kali ini Aku menyerah. Aku akan berusaha mengabaikan
ketidak-nyamanan diriku untuk bersosialisasi. Toh ini tidak setiap hari Aku
lakukan.
Aku
menghempaskan tas tanganku ke dalam mobil dan secepat kilat Aku mengemudikan
mobilku menuju tempat pertemuan.
**
Aku
menghela nafas menatap keramaian cafe ini. Tiba-tiba saja kepalaku terasa
sedikit pusing. Ah..Aku abaikan saja rasa ini, Aku sudah terlanjur mengiyakan
ajakan teman-teman kuliahku untuk ikut. Tak mungkin Aku membatalkan hanya
karena phobia keramaian sialanku mulai berulah.
Aku
mempercepat langkahku dan menuju kearah seseorang yang melambaikan tangan
kepadaku.
Aku
menarik nafas lega saat Aku sudah duduk dengan manisnya diantara teman-teman
kampusku. Aku tersenyum memandang mereka yang berceloteh dengan riang.
Untunglah tempat yang mereka pesan agak tertutup oleh tanaman, sehingga
keramaian cafe tak begitu tampak olehku. Perlahan sakit kepalaku mulai
menghilang, Aku tersenyum dan mendengarkan celotehan-celotehan mereka. Sesekali
Aku tertawa dan menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh mereka.
Aku
tercekat saat Aku melihat sosok yang tak asing mendekatiku.
"hey..apa
kabar??"
"oh..hey..baik.
Kamu apa kabar??"
"Baik..udah
lama ya disini??"
Aku
tersenyum tipis kemudian menggeleng.
Aku
tak mengharapkan akan melihat sosok itu lagi. Sosok pria yang Aku tinggalkan
dulu saat dia berkata 'Ayo kita menikah.' kepadaku 6 tahun yang lalu.
Canggung..
Yah..
Itulah
perasaanku saat ini. Melihatnya kembali setelah 6 tahun berlalu. Apalagi Aku
meninggalkan dirinya dulu dengan kenangan yang tidak menyenangkan.
Aku
masih merasa bersalah..
Sedikit
merasa bersalah.
**
Sudah
sebulan berlalu dari saat itu. Tapi duniaku tetap saja terlihat abu-abu. Toh
seperti inipun Aku merasa bahagia. Aku tak menampik rasa kesepian yang kerap
hadir disetiap hariku, tetapi Aku tak sekesepian seperti yang orang-orang
bayangkan. Ada banyak buku dan musik yang menemani, terkadang adik-adikku
menginap dirumahku dan Aku mempunyai pekerjaan yang benar-benar menghabiskan
waktuku.
Aku
menatap kerlip lampu dari jendela mobilku..Indah..sangat Indah..
Kota
ini memang melelahkan, tetapi ada kalanya terlihat sangat indah.
Aku
terkejut saat suara klakson membahana dibelakang mobilku. Lamunanku buyar dan
menatap traffic light yang berwarna hijau.
Aku
kemudian melajukan kendaraanku dengan cepat sebelum kendaraan-kendaraan di
belakang mobilku membunyikan klakson lagi.
**
"Home..sweet
home.."
Tak
pernah ada yang mengalahkan kenyamanan rumah. Walaupun Aku tinggal sendiri
dirumah mungil ini, tetapi Aku merasa sangan nyaman dan tenang saat berada
dirumah.
Aku
melepas stilleto yang terpasang dengan manisnya di kakiku, dan kemudian Aku
duduk diatas sofa. Aku menarik nafas perlahan. Rasa kantuk kemudian mulai
menyerang diriku, saat Aku mulai setengah terlelap, telepon selularku berbunyi.
Dengan
setengah tertidur Aku mengangkat telepon.
Sayup-sayup
Aku mendengar suara pria yang menyapaku lembut, Aku menjawab dengan pelan.
Masih terdengar suara pria itu berceloteh ditelingaku..lalu kemudian suaranya
mulai senyap..
Aku
kembali jatuh tertidur.
**
Aku
terbangun di sofa ruang tamuku dengan wajah kusut. Telepon selularku masih
menempel ditelingaku. Perlahan Aku mengusap kelopak mataku dengan punggung
tangan dan melihat kearah jam dinding.
"Sial..gw
kesiangan.."
Secepat
kilat Aku berlari kearah kamar mandi. Mandi seadanya, memakai pakaian secepat
kilat dan berdandan seadanya. Aku berlari kearah garasi dan kemudian melajukan
mobilku dengan kencang.
**
Sebentar
lagi jam makan siang tiba, tapi pekerjaanku masih menumpuk diatas meja kerjaku.
Setelah 4 tahun bekerja seperti orang gila, baru hari ini Aku merasakan
terlambat kekantor. Cacing-cacing di lambungku mulai berteriak kelaparan.
Ah..ingin Aku lempar saja semua berkas-berkas ini.
Aaarggghh..
Secepat
kilat Aku kembali mengerjakan berkas-berkas diatas mejaku.
Aku
tersentak saat sekertarisku mengetuk pintu.
"Maaf
ibu, ada tamu untuk ibu."
"Suruh
masuk aja.", Aku berujar tanpa pikir panjang. Buatku saat ini yang
terpenting adalah bagaimana menyelesaikan setidaknya beberapa berkas diatas mejaku
tanpa Aku melewatkan makan siangku.
Aku
masih saja berkutat dengan berkas-berkasku saat terdengar suara langkah kaki
memasuki ruanganku. Tanpa menoleh Aku mempersilahkan orang itu untuk duduk.
"Kamu
lagi sibuk ya??"
"iya..",
ujarku. Kemudian Aku berhenti mengerjakan berkasku dan menoleh kearah suara
tersebut. Aku tertegun..
Itu
dia..dia yang dulu Aku tinggalkan 6 tahun lalu..
"Kamu...kamu
kok ada disini??", ujarku.
"Aku
mau ngajak kamu makan siang bareng."
"Kok
kamu ga janjian dulu sama Aku??"
"Lho..semalem
kan Aku telepon kamu. Aku ngajak kamu makan siang hari ini dan kamu
mengiyakan.", ujarnya kembali.
Aku
tertegun, sepertinya semalam Aku membuat janji dengan orang ini dengan keadaan
setengah tertidur. Aku menahan diriku agar tidak menepuk jidatku sendiri.
Dengan
wajah memelas Aku menatapnya dan kemudian menatap berkas-berkasku. Kemudian dia
tertawa dan berkata, "Hahaha..selesaikan saja dulu pekerjaanmu, aku bisa
menunggu kok."
"Satu
berkas ini saja, baru kita makan siang.", ujarku sembari tersenyum
canggung.
**
Baiklah,
mungkin akhir-akhir ini penyakit ngelindurku mulai kambuh karena 2 bulan ini
Aku selalu mengiyakan ajakan makan siang dengan dia saat Aku mulai terlelap.
Dan bahkan terkadang Aku sendiri yang mulai mengajaknya makan siang tanpa Aku
sadari. Ingin rasanya Aku menjambak rambutku sendiri. Apa mungkin Aku terlalu
lelah dengan pekerjaanku, sehingga penyakit ngelindurku mulai merajalela
seperti ini?!
Dan
siang ini adalah siang ke 13 Aku makan siang dengannya. Aku duduk manis sembari
meneguk secangkir coklat hangat yang terhidang diatas meja.
"Kamu
ga berubah ya..masih seperti dahulu..selalu menikmati coklat hangat dengan
wajah bahagia."
Aku
menatap dirinya dengan wajah memerah.
"Kamu
juga ga berubah Angga..kamu juga selalu menikmati exspresso non sugar."
Kemudian
dia tertawa, dan Aku hanya bisa tersenyum dengan muka yang masih
memerah..canggung.
**
Sudah
makan siang ke 46 dan hari ini tepat makan malam ke 13 yang terlewati oleh ku
bersamanya. Entah mengapa malam ini terasa begitu berbeda. Dia menatapku lekat,
membuat wajahku memerah diantara cahaya lilin yang berkelip tertiup angin.
"Kamu
mau tau sesuatu?", ujarnya perlahan.
Aku
mendongak dan wajahku mengekspresikan pertanyaan.
"Perasaanku
tak berubah kepadamu sedari dulu."
Aku
tercekat, dan kemudian menatapnya. Dengan sedikit bergetar, tanganku meletakan
serbet dari pangkuanku.
"Sudah
malam..Aku harus pulang..besok Aku ada meeting sama klien.", ujarku
perlahan.
Aku
menatap wajahnya yang terkejut. Akupun sebenarnya terkejut dengan kata-kata
yang keluar dari bibirku.
"oh..iya..gak
apa apa..thanks for tonight.", ujarnya sembari tersenyum.
"Thank
you too Angga..", Ujarku perlahan dan kemudian berlalu.
Ya..katakan
saja Aku memang wanita bodoh.
**
Semenjak
malam itu, Aku menghindarinya. Bahkan untuk berjaga-jaga agar penyakit
ngelindurku tidak berulah, Aku berpesan kepada sekertarisku, untuk mengatakan
Aku sedang keluar atau Aku sedang sibuk jika Angga datang.
Tanpa
terasa 3 minggu sudah terlewati dan selama itu Aku tak pernah bertemu lagi
dengannya. Ada hal yang kurang terasa disetiap harinya. Mungkin hanya karena
Aku mulai terbiasa dengan keberadaan dirinya beberapa bulan ini. Apalagi sudah
seminggu ini, Angga tak pernah lagi meneleponku ataupun muncul dikantorku.
Aku
menghela nafas dan kemudian menyelesaikan berkasku yang terakhir. Waktu mulai
menunjukkan pukul 9 malam dan cacing dilambungku mulai menjerit meminta
sesajen. Aku bergegas melangkahkan kakiku keparkiran dan kemudian Aku melajukan
mobilku ke arah restoran terdekat.
**
Aku
menyendok rissotoku dengan malas. Aku lapar, tetapi enggan rasanya untuk makan.
Aku menatap piring rissoto yang masih penuh dan kemudian memandang kesekeliling
ruangan di cafe ini. Aku menyukai cafe ini karena tempat ini tidak terlalu
ramai, makanan yang enak, pelayanan yang ramah dan biasanya Aku selalu sanggup
menghabiskan makanan apapun di cafe ini dalam porsi besar. Tapi entah mengapa
malam ini, selera makanku lenyap dan mengalahkan rasa laparku.
Pandanganku
terpaku saat melihat dia duduk disana bercengkrama dan tertawa lepas dengan
seorang wanita.
Hatiku
mencelos..ada sedikit rasa perih disana. Aku meletakkan garpu yang tergenggam
di tanganku, merapikan isi tasku dan kemudian berjalan ke arah kasir.
Yang
ada di pikiranku saat itu adalah, Aku ingin pulang kerumah.
**
Jadi,
selama seminggu ini, dia tak pernah lagi menghubungiku, tak pernah lagi muncul
dikantorku dan tak lagi mengajakku makan siang ataupun makan malam karena dia
sudah mempunyai seorang yang baru yang mengisi harinya?!
Oh..ya..hatiku
merasakan sedikit sakit.
Lalu
kemudian Aku memaki diriku sendiri. Memangnya apa yang Aku harapkan?! Setelah 3
minggu Aku berusaha menghindarinya, lalu kemudian Aku melihatnya makan dengan
bahagia bersama seorang wanita, mengapa Aku merasa seperti ini??
Aku
kemudian mentertawakan kebodohanku. Ya..bodohnya Aku..
Arggghhhh..
Aku
melempar tas tanganku keatas meja dan kemudian membuka kulkas, meraih ice cream
vanilla berukuran 700 ml dan kemudian memakannya dengan rakus..
Oke..Aku
lapar dan sepertinya nafsu makanku mulai kembali.
Aku
menyesal tidak menghabiskan rissoto ku tadi..seperti Aku menyesal
menghindarinya 3 minggu ini.
**
Entah
mengapa selama 3 hari ini, Aku selalu melihatnya bersama wanita itu di setiap
cafe yang Aku datangi. Benar-benar membuatku jengkel. Ingin rasanya Aku
menghampiri mereka dan kemudian menarik rambut mereka berdua untuk menumpahkan
kekesalanku. Tetapi kemudian Aku merutuki diriku sendiri, merutuki kebodohanku
dan bersyukur bahwa pikiranku masih waras untuk tidak melakukan hal yang
kekanakan seperti itu.
Toh..Aku
dan dia hanya teman makan saja..tak lebih..yah..tak lebih..
Tapi..bukankan
malam terakhir dia berkata bahwa perasaannya kepadaku belum berubah?!
Arrrggghhh..
Aku
kembali merutuki diriku sendiri.
Apa
yang terjadi denganku?
Bukankah
selama ini Aku hidup dengan amat sangat nyaman dalam abu-abuku. Aku tenang dan
terkendali, tapi..lihatlah Aku sekarang..aneh..seakan Aku tak mengenal diriku
sendiri.
Aku
menghela nafas dan kemudian merutuki diriku sendiri.
Aarrrrggghhhh..
Semua
gara-gara dia..
Semua
gara-gara Angga..
Dia
mengacaukan hidupku yang seimbang..mengacaukan hidup abu-abuku.
**
Malam
minggu ini Aku menghabiskan waktuku dengan menyantap ice cream vanilla yang
telah dicampur dengan cornflakes kesukaanku sembari menonton banyak dvd yang
Aku beli semalam.
Aku
mengangkat telepon selularku yang mulai berbunyi nyaring.
"Hallo.."
Aku
tercekat, dia meneleponku.
"Oh..ada
apa ngga??"
"Nope..hanya
sudah lama tidak mendengar suara kamu."
"oh.."
"Kamu
lagi apa?? Kemarin-kemarin Aku sibuk jadi agak susah menghubungi kamu."
"lg
nonton DVD. Oh..iya..?? Sibuk menemani wanita baru makan siang dan makan
malam??"
Aku
terkejut saat bibirku lagi-lagi berkata hal yang tidak Aku inginkan.
"Hahaha..wanita
baru?? Mana ada yang seperti itu."
"Oh..bukannya
selama 3 hari ini kamu makan malam di cafe ini, makan siang di cafe itu sama
dia?? Kan bagus ada wanita baru yang bisa menemani kamu."
"......kamu
kenapa??"
"Enggak
apa-apa, udah ya..Aku lagi sibuk."
Aku
dengan cepat memutuskan telepon dan kemudian mematikan telepon selularku.
Kemudian Aku kembali merutuki diriku sendiri.
Aaargggghhh..Aku
benci diriku yang sekarang..Aku benci diriku yang seperti ini.
Aku
melahap ice cream cornflakes ku dengan lesu.
Aku
harus benar-benar menghindari dirinya agar hidupku yang tenang dapat kembali
lagi.
**
Sebenarnya
hari ini enggan rasanya Aku melangkahkan kakiku keluar rumah. Tetapi celakanya
persediaan makanan dan susu di kulkasku mulai kosong. Akhirnya Aku memutuskan
untuk pergi ke supermarket terdekat untuk berbelanja.
Saat
Aku sedang susah payah mendorong troli keluar dari gedung menuju tempat parkir,
seseorang menepuk pundakku. Seketika Aku menoleh dan kemudian merutuk dalam
hati. Orang yang paling ingin Aku hindari sekarang berdiri didepanku bersama
wanita itu. Aku berusaha tersenyum..canggung..
"Hey.."
"Hey
juga", ujarku canggung.
"Kamu
belanja sendirian??"
"Menurut
kamu??"
"heeeee..oh
iya..ini kenalin..adik sepupu Aku yang lagi liburan ke Jakarta."
"Oh..salam
kenal..", ujarku ramah.
"Aku
bantu ya buat masukin belanjaan kamu ke mobil..?!".
"Ga
usah..makasih. Aku duluan ya..", ujarku sembari meletakkan semua
belanjaanku secepat kilat ke dalam mobil.
Angga
berdiri menatapku yang melajukan kendaraanku secepat kilat.
Hmmm..ternyata
wanita itu adik sepupunya..
Oh..whatever..
Toh
biar bagaimanapun Aku tetap harus menghindarinya. Dia hanya akan mengacaukan
hidupku.
**
Sesampainya
dirumah, Aku menurunkan belanjaanku perlahan. Tiba-tiba telepon selularku
berbunyi. Aku menatap layar dan tertegun saat melihat namanya yang muncul dalam
layar. Aku kembali mengantongi telepon selularku.
Tak
beberapa lama dia kembali meneleponku. Masih saja tak Aku angkat. Hingga
beberapa kali telepon selularku berbunyi, Aku me-reject telepon darinya.
Such
annoying!!!
Aku
berlari saat mendengar suara bel rumahku berbunyi. saat Aku membuka pintu, Aku
terkejut mendapati dirinya bediri disana dengan wajah tampannya.
Aku
menggerutu dalam hati.
Harusnya
dia mengerti bahwa Aku menghindarinya. Harusnya dia mengerti bahwa Aku tak
ingin bertemu lagi dengannya.
"Ada
apa Ngga??"
"Aku
boleh masuk??"
"Rumah
lagi berantakan, kamu duduk diteras aja ya."
"Oh..yasudah.",
ujarnya sembari tersenyum.
"Kamu
kenapa akhir-akhir ini??"
"Kenapa
gimana??"
"Kamu
menghindar dari Aku."
"Masa??"
"Iya..kamu
selalu menghindari Aku."
"Oh..iya..Aku
memang menghindari kamu."
"Salah
Aku apa sampai kamu menghidar dari Aku beberapa minggu ini??"
"Kamu
mengganggu."
"Mengganggu??"
"Iya..kamu
mengganggu dan Aku mulai merasa tidak nyaman dan terganggu. Intinya kamu
annoying."
Aku
berusaha menyembunyikan rasa terkejutku saat Aku menangkap ekspresi terluka
dari wajahnya.
"Baiklah,
tapi Aku ingin melanjutkan kata-kataku dimalam terakhir kita dinner."
"Ga
perlu, Aku ga mau dengar apapun."
"Perasaanku
tak berubah dari dulu ke kamu....."
"Kamu
ngerti bahasa Aku kan..?! Aku ga mau denger apa-apa!!"
"Aku
masih menyayangi kamu apa adanya seperti dahulu...."
"Tolong
pergi dari sini sekarang!!"
"..dan
Aku masih ingin menikah denganmu..Aku menyayangimu...sangat sayang
padamu..."
Aku
tercekat mendengar kata-katanya..
"Tolong
pergi dari sini Angga. Aku mau kamu pergi sekarang!!!"
"Mungkin,
jika kamu mengatakan hal itu 6 tahun yang lalu, Aku akan berlalu dan pergi dari
hidupmu. Tetapi sekarang Aku tak mau lagi melakukan kebodohan seperti itu lagi.
Aku tulus menyayangi kamu."
"Bisakah
kamu berhenti mengganggu hidupku..bisakah kamu berkenti mengacaukan hidupku?? Tolong
pergi dari sini Angga..", ujarku sembari menahan isak tangis.
"Mengacaukan??
Tak pernah sekalipun Aku berniat mengacaukan hidup kamu."
"Tetapi
pada kenyataannya, kamu mengacaukan hidup Aku, mengacaukan keseimbangan dan
ketenangan hidup Aku. Kamu membuat Aku menjadi orang lain. Menatap telepon
berjam-jam hanya untuk berharap kamu menelepon, menunggu kamu muncul di
kantorku untuk mengajakku makan, membuat Aku kesal saat melihatmu bersama
wanita lain..kamu mengacaukan hidupku yang tenang !!!"
"Kamu..kamu
menyayangiku?!"
"Tidak
!!! Aku tak pernah percaya cinta!!"
"Aku
tak mengatakan cinta..Aku mengatakan sayang.."
Aku
tercekat, seketika wajahku memerah.
"Aku
membencimu!!"
"Kamu
mencintai Aku..."
"AKU
MEMBENCIMU !!!"
"Kamu
sangat mencintai aku.."
"AKU
SANGAT MEMBENCIMU ANGGA!!"
"oh..sudahlah.."
Angga
merengkuhku kedalam pelukannya..entah mengapa Aku tak sanggup untuk melepaskan
pelukannya.
"Menikahlah
denganku..Aku benar-benar menyayangimu..", dia berbisik lembut di
telingaku.
Aku
menyerah kalah..dan dunia abu-abuku berubah menjadi pelangi.
**
Nadia
menutup buku yang berada ditangannya. Hadiah yang manis dari eyang putri di
usia Nadia yang saat ini memasuki usia 29 tahun. Nadia menatap sampul buku
berwarna coklat yang mulai pudar termakan usia dan kemudian membaca perlahan
huruf demi huruf yang tertera di sampul buku tersebut.
Diary
Ananda Diantri Putri.
Nama
yang tak asing bagi Nadia, kemudian Nadia membaca tahun yang tertera
dibawahnya. Nadia tercekat, ini adalah diary eyang putrinya. Nadia menghela
nafas dan kemudian bergumam.
'
Aku tahu sekarang, mengapa eyang putri memberikan kado ini sebagai hadiah ulang
tahunku yang ke 29 ini. Karena eyang putri ingin Aku berfikir bahwa, tak apa
Aku goyah karena cinta, tak apa Aku terlihat lemah karena mencintai seseorang.
Aku seperti eyang putri waktu muda dulu. Workoholic dan juga berniat untuk
hidup melajang selamanya. Tapi kemudian Aku bertemu seseorang yang mengacaukan
hidupku dan mengganggu hariku, dan bodohnya Aku juga menghindarinya.
Aku
ingin seperti eyang putri yang sekarang..bahagia bersama orang-orang yang dia
sebut mengacaukan hidupnya dengan banyak warna..bukan lagi abu-abu."
Nadia
tersenyum dan kemudian mengecup pipi eyang putri dan eyang angga.
"Nadia
pamit ya eyang..."
"Mau
kemana sayang??", ujar eyang putri.
"Mengatakan
kejujuran kepada orang yang mengacaukan hidup Nadia, bahwa Nadia juga
menyayanginya..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar