Jumat, 17 Februari 2012

PINANG


( Hati )


3 bulan lagi..
3 bulan lagi hari itu tiba, entah mengapa hatiku di gelayuti perasaan gelisah..resah.
Aku menghembuskan nafas perlahan. Rasa lelah menjalar ke tubuhku yang mungil. Mengapa rasa ini timbul disaat semua sudah mulai terlanjur terjadi. Mengapa bongkah-bongkah keraguan kian besar merajai hati sanubariku?

Aku memandang wajahnya yang tersenyum dibalik pigura yang bertengger diatas meja kamarku.

Dia..seseorang yang berarti bagiku. Aku..mencintainya..
Tetapi entah mengapa kata cinta itu terasa begitu semu..Klise..seakan mencengkram hati dan jiwaku yang menjadi layu.

3 bulan lagi..

3 bulan lagi hari itu tiba.
Seharusnya hari itu menjadi hari-hari yang mendebarkan, dan seharusnya hari itu menjadi hari yang paling dinantikan..
Tetapi entah mengapa, setiap hari yang terlewati, Aku hanya berharap hari itu tidak pernah datang.
Aku memalingkan wajahku dari photonya, dan memandang note kecil yang ku cengkram erat sedari tadi.
Gaun pengantin telah dipesan, gedung dan katering telah dipesan, souvenir untuk tamu pun telah di pesan. Tapi mengapa semuanya membuatku kian merasa resah?
Aku menghela nafas perlahan..sebutir airmata menetes dipipiku yang pucat.
Apa yang harus Aku lakukan??

Aku merasakan keraguan kian membucah, menjeratku dalam lubang hitam yang kian membesar dalam hati. Sulit untuk Aku tepis, mungkinkah Aku kurang berusaha atau Aku yang memang tidak menginginkan ini semua??


Aku menyandarkan tubuhku yang letih kedalam lembutnya sofa di pinggir jendela, memandang hujan yang menetes dari langit..langit yang seakan bersedih, seperti Aku saat ini.

Aku memejamkan mataku perlahan, mencium wangi hujan, mencoba menepis keraguanku, mencoba memantapkan hatiku, bahwa ini hanyalah sekedar ketakutanku belaka, ketakutan akan sebuah hal yang tak pasti terjadi. Aku memaksakan diri untuk ternyenyum, mencoba untuk mentertawakan ketakutanku, keraguanku, dan keresahanku. Dan kemudian berharap, saat nanti pagi menjelang, semua rasa ini sirna dan Aku bisa menepis semua.


**

Hari-hari berlalu begitu cepat, tak terasa seminggu sudah terlewat dari saat malam itu. Tetapi keraguanku tak kunjung sirna. Apa yang harus Aku lakukan?
Aku tak bisa menjalani sesuatu dengan banyak keraguan yang membuncah seperti ini..
Aku tak mampu menjalani sesuatu tanpa ada sebuah keyakinan, Aku membutuhkan keyakinan, walaupun sekecil apapun keyakinan itu, Aku sangat membutuhkannya. Pernikahan itu bukanlah suatu permainan, yang hanya satu atau dua jam, hari atau minggu dan kemudian bisa untuk di sudahi dengan mudahnya. Pernikahan itu sekali seumur hidup..pernikahan itu sekali seumur hidup..

Kata-kata itu terngiang didalam kepalaku. Seakan menjadi gema yang terus saja menghantui. Aku melangkah menuju cermin yang bertengger manis disamping lemari pakaianku. Aku memandang refleksi diri di cermin.


Lihatlah Aku disana, begitu penuh dengan keraguan. Terlihat begitu rapuh dan menyedihkan.


“ Hey Pinang, Apa yang sebenarnya terjadi kepada dirimu? Semua orang menginginkan untuk menikah dengan orang yang mereka cintai..tetapi lihatlah dirimu!! 3 bulan lagi kamu akan menikah dengan pria yang sangat kamu cintai, keluargamu menyayanginya dan keluarganya pun menyayangi dirimu, tetapi mengapa itu tetap membuatmu ragu? Kamu tahu, dia sangat mencintaimu, teramat sangat mencintaimu, teramat sangat memujamu. Dan Aku pun tahu, kamu begitu mencintainya..tulus. Mengapa keraguanmu muncul saat lamaran sudah disetujui ? Mengapa harus ada perasaan itu, Pinang ? mengapa tak kamu coba tepis semua perasaan itu, cobalah lebih kuat lagi. Aku mohon, jangan buat mereka kecewa. Jangan buat mereka kecewa Pinang..Aku mohon kepadamu…”


Aku mencoba menguatkan diriku sendiri, mencoba menepis semua keraguan ini. Aku memejamkan mataku perlahan dan kemudian menghela nafas. Aku kembali menatap refleksi diriku di dalam cermin. Aku mencoba tersenyum, tetapi refleksi diriku menangis..dia menangis..pilu..



( Pilihan )


Malam ini bulan terlihat mengintip malu-malu dari balik awan. Aku menghela nafas panjang. Sudah setengah jam Aku menunggu kekasihku disini, tetapi dia tak kunjung datang. Lupakah dia akan janji hari ini ? Ataukah pekerjaan menghambatnya untuk datang tepat waktu ? Aku berusaha menghubungi ponselnya, tetapi sia-sia, Ponselnya tidak aktif.


Aku melangkahkan kakiku menuju kamarnya. Ranjangnya, kemejanya, dan segala hal yang beraroma dirinya membuatku semakin ingin bertemu. Aku merindukannya saat ini..begitu merindukannya. Aku merebahkan tubuhku perlahan diatas ranjang, hanya suara detik jam yang terdengar, sunyi…begitu sunyi…


Aku tercekat saat mendengar suara deru mobil di depan rumah. Aku berlari menuju ruang tamu dan mengintip dari tirai. Kekasihku pulang..Aku tersenyum..tersenyum bahagia. Tetapi kemudian senyumku menghilang, kekasihku tak sendirian. Dia bersama wanita itu, wanita yang pernah menghiasi hidupnya dulu. Aku berdiri terpaku, entah mengapa airmataku seakan berlomba untuk keluar. Haruskan ini terjadi kembali ?


Aku menghapus airmataku dengan cepat dan kemudian perlahan membuka pintu, mencoba memaksakan diriku untuk tersenyum. Kekasihku terkejut melihatku berdiri didepan pintu. Aku masih saja tersenyum, berusaha menyembunyikan airmataku.


“Pinang..maaf, Aku lupa kalau hari ini ada janji untuk bertemu denganmu..”


“ Tak apa Satya..”, Aku masih saja tersenyum.


“Harusnya kamu menghubungi ponselku supaya kamu tidak lama menunggu.”, ujar Satya, raut wajahnya terlihat menyesal


“Aku sudah berusaha menghubungi ponselmu sayang, tetapi ponselmu tidak aktif.”, ujarku pelan.


“Ah…maaf…”, Satya menundukkan wajahnya, raut penyesalan kian terlihat diwajahnya.


“Masuklah, jangan hanya berdiri saja disana.”, ujarku pelan.


Satya kemudian melangkah masuk membawa koper besar yang diiringi oleh wanita itu.


“Kamu apa kabar Bintang ? “, ujarku sembari tersenyum kepada wanita itu.

“Aku baik….”, ujarnya sembari menunduk resah.


“Masuklah...Aku sudah menyiapkan makan malam..”, ujarku pelan.


Bintang melangkah masuk dengan ragu. Hatiku seakan merasakan perih..entah mengapa Aku hanya bisa tersenyum.



**


“Pinang..sayangku..maaf..harusnya Aku menghubungi kamu, menjelaskan kenapa Bintang ikut pulang kerumahku malam itu.”, ujar Setya.


“Tak apa, Aku tau kamu punya alasan sendiri sayang. Hanya saja…..haruskah selalu seperti ini?”, ujarku pelan.


“Selalu seperti ini ? maksudmu ?”, Tanya Setya.


“Selalu seperti ini..setiap Bintang punya masalah, dia selalu lari kepadamu..dan kamu tak pernah bisa menolak. Bahkan Bintang setiap mempunyai masalah selalu lari dan menginap dirumahmu. Kamu tak pernah bisa menolaknya. Pernahkah kamu memikirkan perasaanku, Setya ?”, ujarku lirih.


“Kamu tahu kondisinya sayang. Hanya Aku yang Bintang punya, hanya Aku temannya yang paling dekat. Hanya Aku yang mengerti bagaimana kondisinya..keadaannya dirumah.”, ujar Setya.


Jujur, kata-kata Setya seakan menjadi ribuan duri yang menusuk di hatiku, perih…


“Masihkah kamu mencintainya ?“, tanyaku lirih.


“Pinang, itu hanya masa lalu. Bertahun-tahun yang lalu. Perasaanku tak seperti itu kepadanya sekarang. Bagiku Bintang hanya teman, tak lebih.”.


“Tapi harus sampai kapan ini terjadi..3 bulan lagi kita menikah, akankah saat kita nanti berkeluarga, dia akan terus hadir seperti ini??”


“Pinang..sayang..coba bayangkan jika kamu adalah dirinya..Aku hanya tak bisa meninggalkan dia sendiri..hanya Aku teman dekat yang dia punya.”


“Kamu memang masih mencintainya..”, isakku.


“Damn Pinang!!! Harus bagaimana Aku menjelaskan kepadamu, Aku hanya mencintaimu..tak ada yang lain!!”, bentak Setya.


“Aku bisa melihatnya Setya, kamu memperlakukan dirinya begitu istimewa. Berbeda dengan caramu memperlakukan diriku. Kamu rela menjemputnya, mengantarkan dirinya pulang, menemaninya berjam-jam..Aku..Aku seperti bukan siapa-siapa bagimu.”


CUKUP PINANG!! TIDAK CUKUPKAH BAHWA KITA AKAN MENIKAH ?”, teriak Setya.


“Pernahkah kamu mencintai Aku, Setya ??”, isakku.


PLLLLAAAAAKKKK.


Sebuah tamparan keras melayang ke pipiku..perih..tapi hatiku jauh lebih sakit lagi. Aku menangis dan berlalu. Setiap pertengkaran yang dimulai karena membahas hubungannya dengan wanita itu, Setya selalu saja berubah menjadi temperamental. Dan selalu saja berakhir dengan tamparan. Salahkah diriku karena meragukan hatinya..sedangkan kata-kata cintanya tak terbukti kepadaku. Lalu haruskah Aku bertahan dengan kondisi yang seperti ini ?


Keraguanku kian bertambah besar, pengharapanku akan sebuah keyakinan kian lenyap. Dan Aku pun akhirnya memilih..memilih untuk pergi.



( Pelarian )


Aku memejamkan mataku saat angin berhembus membelai wajahku. Teriknya matahari pagi ini menyambutku yang terduduk di pasir pantai Lovina saat ini. Aku menghembuskan nafas, menikmati cuaca pagi ini. Sesekali Aku melihat kelompok lumba-lumba melompat tinggi, seakan menyapaku yang duduk sendiri.


Yah disinilah Aku berada, jauh dari tempat yang Aku sebut rumah, jauh dari orang-orang yang Aku sebut keluarga, jauh dari orang-orang yang Aku cintai. Tetapi, entah mengapa hatku jauh lebih tenang.


Sudah sebulan Aku pergi dari rumah. Melarikan tubuh dan jiwaku yang lelah oleh cinta. Aku kembali memejamkan mataku, mengingat malam itu, malam dimana Aku memutuskan untuk pergi.


Aku menatap photonya yang bertengger diatas ranjang, mungkin ini yang terbaik. Aku tak sanggup mengatakan hal yang sejujurnya kepada keluargaku dan keluarganya. Biarlah semua kesalahan hanya ditimpakan kepadaku. Terlalu besar pengharapan mereka kepada dirku, kepada dirinya, jadi..biarkanlah Aku pergi tanpa mengatakan yang sejujurnya kepada mereka. Aku membaca kembali suratku kepada Ayah Bundaku..


‘ Ayah..Bunda..mungkin saat kalian membaca surat ini, Pinang sudah pergi meninggalkan rumah. Maafkan Pinang karena merepotkan kalian, dan meninggalkan kalian seperti ini. Maafkan Pinang karena akan mengecewakan kalian.

Ayah..Bunda..Apakah itu cinta ? Apakah itu arti sebuah pernikahan ? Semua pertanyaan itu selalu menggema di benak Pinang. Dan kemudian pertanyaan-pertanyaan tersebut berubah menjadi sebuah keraguan dalam diriku. Menikah..inikah yang Aku inginkan ?
Dan kemudian keraguan tersebut menjadi sebuah ketakutan. Ketakutan akan menjalani hidup dengannya. Ketakutan akan sebuah ikatan..ketakutan akan sebuah kehilangan. Anggaplah Aku menjadi seorang gadis yang pengecut..pengecut akan sesuatu hal yang mungkin tak akan terjadi..dan ketakutan akan sebuah ikatan yang disebut pernikahan.
Bagiku, terlalu menakutkan membayangkan hidup bersama orang yang sama yang mungkin saja tidak Aku kenal sama sekali.
Ayah..Bunda..maafkan karena Pinang pergi dengan cara seperti ini, maafkan karena Pinang bukanlah anak yang berbakti, maafkan karena Pinang mungkin akan membuat malu Ayah dan Bunda. “

Aku menitikan airmata dan meletakkan surat yang Aku tulis untuk Ayah Bundaku.

Ada tiga surat yang Aku tulis. Surat untuk Ayah bundaku, surat untuk orangtua Setya dan surat untuk Setya.

Aku mengambil surat untuk orangtua Setya dan surat untuk Setya. Aku masukkan ke dalam tas jinjingku. Aku memandang kamarku dengan lekat, entah kapan Aku akan kembali lagi kemari. Aku pasti akan merindukan kalian. Aku melangkah keluar dari kamar dengan hati-hati dan kemudian melangkah keluar rumah dengan cepat. Aku menghentikan taksi yang melaju dan menuju stasiun kereta..


Jakarta..

Aku pergi…


**


Aku membuka mataku yang terpejam saat mendengar seseorang memanggilku. Aku menoleh kearah suara, dari kejauhan tampak seorang gadis melambaikan tangannya kepadaku.


“ Pinang….”


Aku tersenyum menatapnya dan kemudian bangkit dari dudukku, berlari kecil menghampirinya.


“Ngapain kamu pagi2 sendirian disini ?”, ujar gadis itu.


Aku hanya tersenyum kecil.


“hmmmmppphh…di tanya kok malah cuma senyum aja..?”, ujarnya kembali.

“ah..Rika..itu rahasia..”, ujarku masih dengan senyum tipis di bibirku.

Rika menarik rambutku yang tergerai terhembus oleh angin.


“Dasar centil…”, ujarnya pelan.



**


Rika itu gadis yang amat manis, rambutnya pendek sebahu, kulitnya hitam manis, saat dia tersenyum, terlihat gingsul disudut bibir kanannya. Hidungnya mungil, wajahnya mungil, dan tubuhnya tinggi semampai. Aku selalu suka melihatnya tertawa, seakan dunianya bebas, lepas, tanpa ada beban. Saat pertama kali Aku mengenalnya, Aku mengira dia masih bocah ingusan yang diberkahi tubuh ramping dan tinggi. Tetapi, ternyata setelah Aku mengenalnya lebih dekat, ternyata dia lebih tua setahun dariku. Aku tercengang. Kadang Tuhan itu tidak adil. 
Jika dibandingkan denganku, Rika itu mengagumkan.

Aku tidak diberkahi dengan tubuh yang tinggi dan kulit yang cemerlang seperti itu. Aku iri..yah..iri akan segala yang ia punya.
Rika selalu saja membuatku tercengang. Disuatu malam saat Aku dan dirinya bersenda gurau di tepi pantai, Aku menceritakan tentang diriku. Dia hanya mendengarkan tanpa memotong ceritaku. Aku pun bertanya tentang dirinya, dan semua kisah tentang dirinya membuatku terpana. Aku ingat saat dia berkata

“Aku menyukai kesendirian, kesendirian itu lebih baik daripada hidup ditengah-tengah orang munafik. Dan jikalau Aku nanti harus menikah, sungguh Aku tak akan pernah ikhlas, karena keluarga hanyalah sebuah malapetaka.”


Kata-katanya membuat Aku terdiam, setiap orang mempunyai masalah, setiap orang mempunyai sebuah luka dihati, begitu juga dengan Aku, begitu juga dengan Rika. Aku hanya bisa tediam dan kemudian memeluknya.


“Tak ada manusia yang sanggup hidup sendiri..jangan pernah berkata kamu menyukai kesendirian. Karena kamu punya sahabat seperti Aku, kamu mempunyai Tuhan. Kamu tak pernah sendirian.”, bisikku pelan.


Dan kami akhirnya berpelukan tepi pantai..berurai airmata.



( Setya )


Setya menghembuskan asap rokoknya dengan pelan, matanya menatap gambar seorang wanita di layar monitor laptop. Dan kemudian tangannya meraih sebuah surat yang tergeletak disamping asbak. Sesekali Setya menarik nafas panjang dan kemudian membaca surat itu untuk kesekian kalinya.


‘ Setya..sayangku..
Maafkan Aku dengan segala kebodohanku ini. Kebodohan yang terlalu besar karena sebuah cinta dan pengharapan. Cintaku padamu, dan pengharapan akan sebuah cinta yang layaknya tersambut olehmu. Tetapi, apa daya. Pengharapanku sirna..hilang terhembus oleh sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa cintaku hanyalah cinta sendiri, tanpa pernah tersambut olehmu. Sejujurnya, jauh sebelum kamu melamarku, Aku sadar, dihatimu masih ada Bintang. Tapi, Aku membutakan hati dan logikaku. Berharap bahwa itu hanyalah sebuah emosi yang disebut kecemburuan. Hingga malam itu, Aku mulai bisa melihat kenyataan yang Aku coba lenyapkan. Aku tak pernah ada dihatimu..mungkin..Aku tak pernah ada di cintamu..
Maafkan karena Aku kemudian memutuskan untuk pergi..jauh dari kehidupanmu. Aku tak sanggup mengatakan kejujuran kepada keluargaku..kepada keluargamu. Biarlah Aku yang dipersalahkan atas batalnya pernikahan ini. Semua persiapan pernikahan sudah Aku batalkan, dan semua biaya biarlah Aku yang menanggungnya, karena ini kesalahan dan keputusanku.
Setya, cinta itu ada dari kedua belah pihak, bukan hanya cinta sendiri, begitupun sebuah pernikahan.
Raihlah kebahagiaanmu Setya..walau Aku tahu, kebahagiaanmu itu bukan Aku.”

Setya menghela nafas panjang, baru kali ini Setya merasa dipermainkan oleh wanita. Apa tidak cukupkah jika sebuah komitmen serius diwujudkan ke dalam sebuah pernikahan? lalu apa lagi yang Pinang harapkan darinya??
Setya meremas surat dari Pinang dan kemudian melemparnya kedalam keranjang sampah.
Sudah sebulan Pinang pergi begitu saja tanpa kabar, sejujurnya Setya malas mencarinya. Toh semua sudah jelas, Pinang tidak mau ber-komitmen ke jenjeng yang serius yang bernama pernikahan. Lalu, untuk apa Setya mencarinya. Bagi setya semua sudah berakhir. Yang tersisa hanyalah sakit hati karena merasa dipermainkan, sakit hati karena merasa di sia-siakan. Tak mungkin Setya mencari Pinang kesana kemari, untuk apa?? Untuk memohon maaf atas kesalahannya?? Kesalahan apa?? Kesalahan yang Pinang tuduhkan kah kepadanya??
TIDAK!!!

Itu hal yang mustahil. Setya tak bersalah, tak menerima semua tuduhan Pinang yang sangat konyol menurutnya.

Setya menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.


**


Setya terbangun saat mendengar suara ketukan halus dipintu kamarnya. Perlahan Setya bangkit dari ranjang dan berjalan terhuyung membuka pintu kamar.

Setya menatap wajah seorang wanita yang berdiri didepan pintu kamar. Wajah wanita itu terlihat pucat, matanya sembab oleh airmata.

“kenapa Bintang??”, ujarnya pelan.


“Maaf kalau Aku membangunkan tidurmu..Aku tak bisa tidur..banyak hal yang terlintas di otakku. Dan kemudian Aku merasa takut sendirian.”, ujar Bintang pelan.


Setya merengkuh Bintang kedalam pelukannya, merengkuh Bintang sedemikian erat. Betapa rapuhnya wanita ini, membuat Setya tak bisa membiarkannya sendirian.


Setya melepas pelukannya, mengamit jemari Bintang, dan kemudian menuntun Bintang keatas ranjang.


“Biar Aku temani kamu hingga tertidur..”, ujar Setya sembari membelai rambut Bintang lembut.


Bintang merebahkan kepalanya diatas bantal, jemari setya masih saja membelai rambut Bintang yang berkilau disinari cahaya lampu yang temaram. Bintang memejamkan matanya, dari sudut matanya terlihat airmata yang menetes tetapi bibirnya tersenyum dan kemudian berbisik lembut, “ Terima kasih Setya..terima kasih karena kamu tidak pernah meninggalkan Aku sendirian.”


Setya menatap wajah Bintang yang sudah tertidur pulas. Jemarinya masih membelai lembut rambut Bintang. Setya menghela nafas panjang, dan kemudian mengecup lembut kening Bintang.


“Selamat tidur Bintangku”, bisik Setya perlahan.



( Carousel )


Pinang mengerjapkan matanya perlahan, dengan perlahan Pinang bangkit dari ranjang, melangkah kearah jendela dan menyibakan tirai perlahan. Langit masih gelap, hari masih malam, tetapi Pinang terbangun diantara sunyinya dunia.


Rindu..yah..rindu..

 Itu yang Pinang rasakan saat ini, apakah Setya merasakan hal yang sama dengan dirinya saat ini ?

Mengapa hal ini terasa begitu menyesakan ?
Mengapa mencintainya begitu menyakkitkan ?
Mengapa berada disisinya begitu terasa menyakitkan ?
Tetapi..mengapa saat Aku memilih untuk meninggalkannya pun terasa jauh lebih menyakitkan ?
Mengapa merindukannya begitu menyakitkan..sangat menyakitkan ?
Mengapa api cinta ini tak kunjung meredup ?
Mengapa..mengapa ???
Dunia seakan mengejekku saat ini..
Hatiku seakan mempermainkanku saat ini..
Semua kenangan tak mudah untuk dilupakan..
Semuanya..semua hal tentang dirinya.

Airmataku mengalir deras, membasahi pipiku, membasahi gaun tidurku.

Andai Aku dapat mengulang waktu..Aku tak ingin mencintainya..Aku berharap tak pernah mencintainya sedalam ini.



 **


Setya menatap langit Jakarta malam ini dari sisi jalan. Entah mengapa saat ini Setya hanya ingin menghabiskan malamnya sendiri menatap langit malam disisi jalan ini. Setya tersenyum tipis, mengingat betapa bodohnya dia, karena jalan ini adalah jalan dimana Setya mengenal Pinang pertama kali. Saat itu, saat itu juga langit berhias seperti ini, jam yang sama, suasana yang sama. Setya tersenyum mengenang wajah Pinang saat itu, wajah bingung dan panik didepan mobilnya yang mogok dan handphonenya yang kehabisan baterai. Saat itu Setya berbaik hati untuk membantu Pinang, menelfon mobil derek dan mengantar Pinang pulang. Sejak saat itu Setya mulai dekat dengan Pinang.


‘AAAArrgghhhh…’, Rutuk Setya dalam hati saat cahaya lampu mobil yang berlalu-lalang menyilaukan matanya.


Setya menyesali kebodohannya karena mengingat Pinang malam ini. Apakah hatinya merindukan Pinang? Apakah dia benar-benar mencintai Pinang? Ataukah Setya hanya merindukan kenangannya bersama Pinang?

Apa yang sebenarnya Setya harapkan?
Bukankah Setya bahagia sekarang dengan adanya Bintang disisinya.
Wanita yang dulu dia cintai dengan sepenuh hati. Wanita yang terpaksa dia tinggalkan dulu atas desakan ibunya. Lalu, sebenarnya, siaakah yang dia cintai saat ini?

Setya merutuki hatinya yang mulai bertanya-tanya.

Kemudian Setya menghela nafas panjang, melempar botol minumannya kepinggir jalan dengan kesal dan melangkah dengan gontai kedalam mobil. Dengan perlahan Setya melajukan mobilnya, menembus malam.


**


Entah kenapa mataku tak berhenti memandang carousel mungil yang berada di pojok sirkus malam ini. Mungkin Aku teringat saat pertama kalinya Aku menaiki carousel dengannya tempo dulu. Carousel yang indah..berhias cahaya lampu yang gemerlap..seakan menjadi mesin waktu akan kenanganku bersama Setya.


“Kamu mau naik itu Pinang?”


Pinang tersadar dari lamunannya, dan tersenyum kearah Rika.


“Iya..”, ujar Pinang sembari melangkah menuju Carousel.


Pinang menyentuh sebuah kuda kayu bercat putih dengan perlahan. Bentuk dan warna yang sama seperti waktu itu. Pinang memejamkan matanya, masih teringat jelas gelak tawa dan kebahagiaan yang dia rasakan saat itu. Kemudian Pinang menghembuskan nafas perlahan, dan bergerak menaiki kuda corousel. Musik klasik membahana memenuhi telinga Pinang saat carousel mulai berputar.


“Mungkin Aku tak setegar seperti yang Aku harapkan untuk berpisah dengannya. Semua kenangan tentangnya selalu berputar dikepalaku seperti carousel ini. Biarlah Aku mengingatnya saat ini, malam ini..dan hingga saat carousel ini berputar Aku akan menghapus semua tentangnya..selamanya. dan besok Aku akan benar-benar memulai hidupku tanpa ada sedikitpun kenangan tentang dirinya.”, gumam Pinang dalam hati.


Couresel berputar semakin cepat, Airmata Pinang mengalir dengan deras. Semua kenangan tentang Setya, senyum, kebahagiaan dan mimpinya berputar dalam pikiran Pinang.

Ini untuk terakhir kalinya..ini untuk terakhir kalinya..dan kemudian Aku akan tersenyum melupakannya..


( 7 bulan, 2 minggu dan 3 hari )


Tak terasa sudah setengah tahun Pinang menghabiskan waktunya di Banjarmasin. Selama di kota ini, Pinang sudah mengunjungi banyak tempat bersama Rika dan Citra.
Pasar Terapung Muara Kuin, Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Museum wasaka, Kubah Surgi Mufti, Taman Argo Wisata PKK Banjar Bungas, serta tempat-tempat kuliner terkenal dikota ini. Pinang begitu menikmati harinya di Banjarmasin. Teman-teman yang menyenangkan, pekerjaan yang menyenangkan dan hidup yang menyenangkan. Walaupun terkadang Pinang begitu merindukan kota Jakarta, tapi saat ini Pinang masih enggan untuk kembali.


Sesaat Pinang teringat akan orangtuanya. Sudah 7 bulan, 2 minggu dan 3 hari Pinang pergi hanya dengan meninggalkan sepucuk surat. Hati Pinang mencelos, beberapa kali Pinang berusaha memberanikan dirinya menghubungi orangtuanya, tapi apa daya, Pinang belum mempunyai keberanian yang cukup untuk berbicara dengan orangtuanya.


Pinang menghela nafas panjang dan kemudian meraih telephone selularnya. Bertekad memberanikan dirinya untuk berbicara dengan kedua orangtuanya..

Terdengar suara lembut seorang wanita yang begitu Pinang rindukan.

“Mama..”


“Pinang….???”, ujar suara dari seberang sana.


“Iya ma..ini Pinang..”, ujar Pinang perlahan.


Terdengar isak tangis mama dari ujung sana..


“Kamu kemana saja nak..?? mama kangen..”, ujar mama ditengah isak tangisnya.


“Maafin Pinang ma..Pinang baru berani menghubungi mama setelah 7 bulan ini. Pinang juga kangen sama mama, sama papa, sama adik. Pinang sekarang tinggal di Banjarmasin ma..”, ujar Pinang lirih.


“Selama 7 bulan ini mama menunggu kamu nak, menunggu kamu menghubungi mama, papamu, tapi baru sekarang kamu menghubungi mama. Selama ini mama hanya mendengar kabar tentang kamu dari temanmu, Rika. Beberapa hari sekali dia menghubungi mama, memberi kabar tentang kamu nak.”, ujar mama ditengah isaknya.


“Rika..???”


“iya..mama lega kamu mempunyai teman yang baik seperti Rika. Walaupun kamu jauh, mama lega kamu baik-baik saja nak.”, isak tangis mama semakin kencang.


“Mama..maafkan Pinang ma..mungkin saat ini Pinang masih belum bisa pulang ke Jakarta. Masih banyak yang ingin Pnang lihat. Tapi Pinang janji, Pinang akan terus member kabar ke mama. Supaya mama tidak khawatir.”, ujar Pinang sembari menahan isak tangisnya.



**


Pinang termenung saat mengingat pembicaraannya tadi dengan mamanya. Rindu..yah..rindu yang tak bertepi akan hangatnya suasana rumah dan keluarga. Tetapi, saat ini Pinang masih enggan untuk kembali ke Jakarta. Mungkin terkesan egois, membuat airmata mamanya mengalir karena Pinang pergi tanpa kabar selama ini. Tapi saat ini, Pinang ingin menjadi seorang yang egois. Menyembuhkan dirinya, melihat hal yang baru, pengalaman yang baru dan menjadi dirinya yang baru.


‘Maafkan Pinang karena menjadi seegois ini..maafkan Pinang ma..’, batin Pinang.


“Pinang..Citra sebentar lagi kesini. Daritadi dia mencoba menghubungi kamu tapi handphone kamu sibuk.”, suara Rika memecah lamunan Pinang.


“Iya..tadi aku habis menghubungi mama di Jakarta.”


“Akhirnya…kamu memberi kabar juga ke keluargamu..”


“Eh..Rika…..thank you..”


“Thank you?? Buat apa??”


“Karena kamu selama ini memberi kabar kekeluarga aku..”


“Oh..mama kamu bilang ya?! Well..ga perlu berterima kasih Pinang sayang..kamu udah kayak adik aku sendiri. Justru aku mau minta maaf karena mencampuri masalahmu.”, ujar Rika sembari menunduk.


“No….kamu memang sahabat yang baik. Selama ini aku terlalu banyak merepotkan kamu.”, ujar Pinang sembari memeluk Rika dengan erat.



**


Pinang menatap tepi sungai Martapura dari tempat duduknya saat ini. Pinang tidak bias menampik keindahan kota Banjarmasin walaupun sudah setengah tahun berada disini.


“Minggu depan kita mulai dari Lombok..”, ujar Citra.


“Lombok????? Minggu depan??????”, ujar Pinang terkejut.


“Oh…Pinang..daritadi gw ngejelasin panjang lebar dan elo ga dengerin???”


“Kayaknya Pinang lagi melankolis, melamun hal yang romantic, makanya dia ga dengerin elo Tra..”, ujar Rika sembari menyuap soto banjar ke mulutnya yang penuh dengan makanan.”


Citra mengikik geli saat melihat wajah Pinang yang memerah.


“Gw jelasin lagi ya. Singkatnya mulai minggu depan kita travelling. Mulai dari Lombok, Kendari, Halmahera dan Papua selama 2 sampai 3 bulan.”, ujar Citra


“Liburan??”, Tanya Pinang polos.


“Ya kerjaan lah sayang…..Aduhhhh…Pinang……”


“Heeeee…sorry….”, ujar Pinang sembari terseyum malu.


Well I love my life now..pekerjaan yang menyenangkan dan Aku nikmati, teman-teman yang menyenangkan, dan kemudian Aku bisa bersyukur. Patah hati mungkin tidak membuatku mati, walaupun Aku terkadang berharap untuk mati. Tetapi jika Aku membuka mata, hati dan telingaku..hidupku jauh lebih menyenangkan daripada Aku terus bersedih. Thank’s GOD.



( And I’m Home )


“Lombok…here I come…”, batin Pinang.

Pinang menutup dahinya dengan telapak tangannya, silau akan sinar matahari siang ini. Senyum menghias dibibirnya yang kering. Kemudian Pinang menatap tumpukan koper yang berada dibawah kakinya, menghela nafas panjang, menoleh kearah Citra dan kemudian tersenyum melihat Citra yang tengah kerepotan menyeret koper-kopernya yang besar. Pinang menyeret kopernya perlahan dan kemudian menghampiri Citra yang masih kepayahan menyeret koper-kopernya. Tiba-tiba Pinang terhuyung dan kemudian terjatuh.


“Ah..maaf..”, terdengar suara lembut seorang pria.


Pinang merasakan tubuhnya terangkat dan kemudian Pinang menatap kearah pria yang menabraknya tadi. Wajah Pinang memerah saat nenyadari tangan pria itu melingkar lembut di pinggangnya yang kecil.


“uh..ga apa-apa.”, ujar Pinang sembari menepis tangan pria itu dengan lembut.


“Radit…….”, teriak Citra saat itu.


Seketika Pinang mendapati dirinya kembali terhuyung saat Citra menubruknya dan memeluk pria tersebut.


“argghhh..”, erang Pinang.


“Ahh…Pinang..maaf..”, ujar Citra.


Citra dan pria itu kemudian membantu Pinang untuk berdiri.


“oh iya..ini kenalin, abang kesayangan gw..namanya Raditya..Radit, ini asisten gw,namanya Pinang.”, ujar Citra.


Raditya tersenyum dan mengulurkan tangannya kearah Pinang, wajah pinang kembali memerah dan kemudian mengulurkan tangannya kearah Raditya.


“Pinang..”



**


Oh..well..Lombok itu memang indah, batin Pinang. Walaupun kepergiaannya ke sini untuk pekerjaan tetapi Pinang benar-benar menikmati hari-harinya disini. Pinang melirik kearah Radit yang terduduk disebelahnya. Akhir-akhir ini, Pinang semakin tidak mengerti akan dirinya. Baru 2 minggu Pinang mengenal Radit, tetapi dari saat mereka bertemu, wajah Pinang selalu memerah. Hawa panas selalu berlomba-lomba memenuhi wajahnya. Dan itu terasa sedikit mengganggu. Pinang benar-benar tidak mengerti.


Pinang mengalihkan pandangannya kembali kearah laptop saat Raditya menoleh kearahnya.


“Besok kalian meninggalkan Lombok..”, ujar Raditya.


“Iya..”, ujar Pinang lirih. Wajahnya kembali memerah. “Padahal Lombok begitu menyenangkan..Aku pasti akan merindukan tempat ini..”, ujar Pinang lembut..


‘yah..Aku pasti akan merindukan tempat ini..dan..dia..’, batin Pinang sembari mencuri-curi pandang kearah Raditya.


Raditya tersenyum dan kemudian membelai lembut rambut Pinang.


“Kapan-kpan kalu ada waktu, liburan kesini. Aku pasti akan mengantar kamu keliling Lombok.”, ujar Raditya.


Pinang menunduk, wajahnya kian memerah, dan kupu-kupu seakan berterbangan indah diharinya. Benar-benar menyebalkan.



**


Akhirnya Pinang dapat  menjejakkan kaki juga di tempat ini, Raja Ampat. Walaupun hari ini adalah hari terakhir Pinang berada disini. Pinang mengingat hari-hari selama setahun yang sudah terlewati. Pertama kali menjejakan kakinya di Bali, berpindah ke Banjarmasin, ke Lombok, Kediri, Halmahera dan terakhir Raja Ampat. Hidupnya menyenangkan. dan entah sejak kapan, bayangan Setya tak pernah lagi teringat olehnya. Tak ada lagi rasa sedih, sakit ataupun cinta. Yang ada hanya kenangan yang membuatnya tesenyum, tersenyum akan semua itu. Menertawakan kenangan-kenangan itu. Biar bagaimanapun, kenangan tak akan bisa dilupakan, tak akan bisa dirubah. Yang  terlupakan hanyalah perasaan saat itu, yang berubah hanyalah perasaan saat itu. Mungkin ini yang dinamakan proses pendewasaan diri. Melupakan kenangan itu bukanlah hal yang penting, yang harus dilupakan adalah perasaan yang menyakitkan saat itu.


Dan kini Pinang dapat berdiri tegak, dan merasakan kebahagian. Kebahagiaan yang menyeruak dari balik sanubarinya, memenuhi dirinya. Banyak hal yang dapat Pinang liat, banyak hal yang dapat Pinang rasakan, banyak hal yang dapat Pinang pelajari.


‘Aku bebas..bebas dari segala hal yang menyakitkan untukku dahulu.’, ujar Pinang.


‘Terima kasih Tuhan’, bisik Pinang.



**


“Pinang, elo yakin ga ikut balik ke Banjarmasin?”


“Iya..gw yakin Citra.”


“Elo balik ke Jakarta?”


“Yup..gw balik ke Jakarta. Gw udah siap untuk balik ke Jakarta. Gw udah siap buat ketemu keluarga gw lagi.”, ujar Pinang mantap.


Citra tersenyum.


“Hmm..gw seneng..elo udah berubah. Jadi lebih bahagia..lebih baik dari pertama kali gw kenal elo.”, ujar Citra lembut.


“Iya..dulu gw pucat, kurus, sedih terus. Sekarang gw jauh lebih sehat..jasmani dan rohani.”


“haaahhh…dasar…”


“Tapi..elo gak apa-apa gw tinggal sendirian di Banjarmasin..pekerjaannya gimana?”


“Kerjaan kan udah selesai semua Pinang. Tinggal nyerahin aja semuanya via email. Jadi semua bisa gw handle. Lagipula, hari ini tepat kontrak kerja elo keg w selesai kan?!”


“Iya sih..mmm…Citra…”


“Yapz??”


“Thanks for everything..i’ll be missing you..”


“oh..please Pinang, jangan buat gw sedih..bulan depan gw sama Rika juga pasti ke Jakarta kok. Kita pasti ketemu lagi.”


“Are you sure??”


“Yeap..i’m sure dear. Rika dimutasi ke Jakarta dan beberapa minggu lalu gw juga minta supaya pekerjaan gw dipindah ke Jakarta. I miss my family too you know..”


“Family? in Jakarta..??”


“Iya sayang..keluarga gw kan semua, di Jakarta, kecuali Raditya sih. Karena pekerjaan, makanya gw sering traveling. “


“Citraaaa….elo ga pernah cerita ke gw…”


“Elo juga ga pernah nanya ke gw..ahahahahaha”


“Kalau nanti gw belum dapat pekerjaan, dan elo masih butuh asisten yang cakap, hubungin gw ya Cit.”


“Pasti dear..Cuma elo yang bisa gw andalkan kalau soal pekerjaan..hehehehe..”

Pinang dan Citra tertawa malam itu sembari mengepak barang dan berkas-berkas.

‘Life is good..life is so good..’



**


Matahari Jakarta hari ini bersinar terik. Debu dan polusi memenuhi udara kota ini. Pinang menarik nafas dalam. Udara yang jelek..tapi Pinang sangat merindukan tempat ini. Pinang melayangkan pandangannya dan kemudian melangkah menuju ke sebuah rumah..rumahnya yang sangat dia rindukan.


Saat ini Pinang sudah siap kembali ke sini, erkumpul dengan keluarganya, bersama dengan kenangan yang baru, hidup yang baru, cerita yang baru, dan dirinya yang baru.

Pinang melangkahkan kakinya dengan cepat dan kemudian Pinang membuka pintu perlahan dengan tersenyum,

“Pinang pulang…….akhirnya Pinang pulang…”, teriak Pinang.





Setya ( extra )



Setya menatap sekeliling café dengan gelisah. Sudah 2 tahun, 2 tahun berlalu semenjak Pinang pergi. Rindu, sepertinya Setya merindukan Pinang. Ah…bukan hanya sepertinya..tetapi Setya memang merindukan Pinang. Andai saja Tuhan berbaik hati untuk mempertemukan Setya dengan Pinang saat ini. Ya..Setya memang lelaki bodoh, lelaki bodoh yang hanya mementingkan ego laki-lakinya. Tergoda akan masa lalu, akan geloranya kepada Bintang. Dan akhirnya Setya sadar, Setya memang mencintai Pinang, bukan Bintang. Bintang hanyalah geloranya yang menggebu, bukan impiannya..bukan cintanya.



Setya menghembuskan nafasnya perlahan dan kemudian memejamkan matanya. Teringat akan saat itu, saat dimana Bunda memergoki dirinya dan Bintang tertidur dalam satu ranjang, berpelukan. Bunda mengamuk dan mengusir Bintang saat itu.



“Bunda tidak pernah mengajarkan anak Bunda seperti ini. Pantas Bunda merasa aneh saat tetangga kamu bekata kamu sudah menikah. Bunda mengira wanita yang ereka ceritakan adalah Pinang, Bunda bahagia kalau Pinang sudah kembali. Ternyata kenyataannya berbeda, jadi ini yang menyebabkan Pinang pergi dari mu? Kamu tahu Bunda begitu membenci wanita itu!!!”



“Setya mencintai Bintang, bunda!!!”



“Cinta??? Wanita itu sudah menikah dan sudah mempunyai anak!!!”



Saat itu Setya seakan tertampar oleh kata-kata Bunda.



“Mengertikah kamu akan arti cinta nak? Bunda tidak pernah melihat binar cinta dimatamu saat bersama wanita itu, ataupun saat membicarakannya dulu. Pinang yang kamu cintai, Bunda bisa melihat itu. Tapi kamu tak pernah sadar akan hal itu. Wanita itu tak pantas untuk kamu, Pinang yang lebih pantas untukmu. Tetapi kamu tak pantas untuk Pinang, Pinang lebih pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik dari mu. “



“Bunda tak akan pernah mengerti apa yang Setya rasakan, siapa yang sebenarnya Aku cintai, apa yan sebenarnya Aku mau!!!”



“Bunda kecewa sama kamu..teramat sangat kecewa.”, dan Bunda pun berlalu sembari menangis.





Saat itu Setya hanya bisa terduduk lesu menatap Bunda yang berlalu. Bayangan tentang Bintang dan Pinang berputar dikepalanya. Sebenarnya siapa yang Setya cintai? Sebenarnya apa yang Setya inginkan?? Pertanyaan itu berputar dikepalanya.





**

Setya membuka matanya perlahan dan menghirup secangkir teh hangat.



‘He's a real nowhere Man,

Sitting in his Nowhere Land,

Making all his nowhere plans

for nobody.



Doesn't kave a point of view,

Knows not where he's going to,

Isn't he a bit like you and me?

Nowhere Man, please listen,

You don't know what you're missing,

Nowhere Man, the world is at your command.



He's as blind as he can be,

Just sees what he wants to see,

Nowhere Man can you see me at all?

Doesn't kave a point of view,

Knows not where he's going to,

Isn't he a bit like you and me?

Nowhere Man, don't worry,

Take your time, don't hurry,

Leave it all till somebody else

lend you a hand.



He's a real Nowhere Man,

Sitting in his Nowhere Land,

Making all his nowhere plans

For nobody.’



Lagu Landon Pigg – no where man, mengalun lembut memenuhi setiap ruang kafe ini. Membuat Setya terhenyuh. Beberapa bulan setelah Pinang pergi, Setya mulai menyadari, betapa Setya kehilangan sosok Pinang. Tawanya, senyumnya, perhatiannya, sikapnya yang lembut, segala hal tentang Pinang. Setiap sudut dirumahnya, selalu terlihat sosok Pinang yang tersenyum. Saat Setya menyentuh Bintang, hanya sosok Pinang yang terlihat. Merasa bersalahkan Setya saat itu? Mengapa sosok Pinang kian lekat menghantuinya?



Ah..ya..Setya membutuhkan alasan untuk sikapnya saat itu, alasan pembenaran diri untuk egonya yang bodoh. Setidaknya, sudikah Tuhan berbaik hati saat ini untuk mempertemukan dirinya dengan Pinang, untuk meminta maaf dan merebut hatinya kembali, kembali kesisinya. Betapa Setya membutuhkan Pinang..disetiap harinya. Setya berhenti menemui Bintang, saat menyadari bahwa Bintang bukanlah wanita yang benar-benar dia inginkan..yang Setya ingin dan butuhkan hanyalah Pinang.



Setya melayangkan pandangannya kembali sekeliling café dan kemudian menghirup tehnya yang mulai dingin. Membayar tagihan dan kemudian melangkah keluar dari café. Langkah Setya berhenti, matanya menangkap sosok Pinang yang duduk di seberang café. Bayangankah itu, berhalusinaskah dirinya saat ini??



Setya berjalan perlahan, menghampiri Pinang.



“Pinang..”, ujarnya lirih.



Pinang menoleh dan terkejut menatap Setya yang bediri dengan wajah bodoh.



“it’s that realy you?”, ujar Setya.



“Hei..”, ujar Pinang tersenyum.



“2 tahun kamu menghilang. Aku mencarimu kemana-mana. Aku merindukanmu. Maafkan kebodohanku saat itu. Maafkan Aku Pinang.”, ujar Setya, airmatanya tak tertahankan lagi.



Setya terduduk dangan airmata yang mengalir perlahan dari pelupuk matanya. Pinang hanya terdiam menatap sosok Setya yang terlihat begitu rapuh saat ini.



“ah..sudahlah Setya, itu sudah berlalu. Semua hanya masa lalu. Aku sudah memaafkan dan melupakannya.”, ujar Pinang lembut.



“Pinang…”



“Ya..?”



“Aku ingin memulai semuanya dari awal lagi denganmu..”



“Maaf Setya, tapi Aku ga bisa.”



“Aku salah selama ini kepadamu, kepergianmu membuatku sadar, Aku mencintaimu dengan sangat. Tolong berikan Aku kesempatan lagi..kesempatan kedua untuk bersamamu.”



“Maaf Setya..tapi Aku tak bisa.”



“Semua orang berhak mendapat kesempatan kedua Pinang.”, desak Setya. Setya sudah tak ingin lagi kehilangan Pinang saat dirinya sudah menetapkan hatinya dan menyadari banyak hal.



“Semua sudah terlambat Setya. Tak ada lagi kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku sekarang bahagia. Mendapatkan kebahagian, dan itu mengagumkan. Kamu hanyalah masa lalu yang mungkin tak akan bisa Aku lupakan. Tetapi perasaanku kepadamu sudah hiang. Dan memang sekarang sudah terlambat. Aku sudah menemukan cintaku.”, ujar Pinang tersenyum lembut dan kemudian membelai lembut perutnya.



Setya terhenyuh dan kemudian menatap kearah Pinang, menatap kearah jemari Pinang, perut Pinang yang membesar, dan jemari Pinang yang dihiasi oleh cincin di jari manisnya. Setya menunduk lesu.



“Kamu sudah menikah?”



“Iya..Setahun yang lalu, dan sekarang Aku tengah mengandung.”



“Pria seperti apa dia..suamimu?”



“Raditya..namanya Radiyta, Pria yang baik dan bertanggung jawab.”, ujar Pinang lembut.



Hati Setya mencelos, dan kemudian berdiri dari duduknya.



“Maafkan Aku..Aku hanya bisa memberikan selamat untukmu..kamu pantas mendapatkan kebahagiaan Pinang..maafkan Aku..”, ujar Setya sembari berlalu.



Setya melangkah perlahan, hatinya saat itu bercampur aduk. Yah..sebenarnya Pinang sudah banyak memberikan dirinya kesempatan saat itu. Tetapi Setya selalu menyia-nyiakan kesempatan itu. Kini sudah terlambat..semua sudah terlambat.

Setya berlalu dengan kepedihan dihatinya, menyesali kebodohan dirinya sendiri..kebodohan yang membuat wanita yang dia cintai lepas darinya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar