( Hati )
3
bulan lagi..
3
bulan lagi hari itu tiba, entah mengapa hatiku di gelayuti perasaan
gelisah..resah.
Aku
menghembuskan nafas perlahan. Rasa lelah menjalar ke tubuhku yang mungil.
Mengapa rasa ini timbul disaat semua sudah mulai terlanjur terjadi. Mengapa
bongkah-bongkah keraguan kian besar merajai hati sanubariku?
Aku
memandang wajahnya yang tersenyum dibalik pigura yang bertengger diatas meja
kamarku.
Dia..seseorang
yang berarti bagiku. Aku..mencintainya..
Tetapi
entah mengapa kata cinta itu terasa begitu semu..Klise..seakan mencengkram hati
dan jiwaku yang menjadi layu.
3
bulan lagi..
3
bulan lagi hari itu tiba.
Seharusnya
hari itu menjadi hari-hari yang mendebarkan, dan seharusnya hari itu menjadi
hari yang paling dinantikan..
Tetapi
entah mengapa, setiap hari yang terlewati, Aku hanya berharap hari itu tidak
pernah datang.
Aku
memalingkan wajahku dari photonya, dan memandang note kecil yang ku cengkram
erat sedari tadi.
Gaun
pengantin telah dipesan, gedung dan katering telah dipesan, souvenir untuk tamu
pun telah di pesan. Tapi mengapa semuanya membuatku kian merasa resah?
Aku
menghela nafas perlahan..sebutir airmata menetes dipipiku yang pucat.
Apa
yang harus Aku lakukan??
Aku
merasakan keraguan kian membucah, menjeratku dalam lubang hitam yang kian
membesar dalam hati. Sulit untuk Aku tepis, mungkinkah Aku kurang berusaha atau
Aku yang memang tidak menginginkan ini semua??
Aku
menyandarkan tubuhku yang letih kedalam lembutnya sofa di pinggir jendela,
memandang hujan yang menetes dari langit..langit yang seakan bersedih, seperti
Aku saat ini.
Aku
memejamkan mataku perlahan, mencium wangi hujan, mencoba menepis keraguanku,
mencoba memantapkan hatiku, bahwa ini hanyalah sekedar ketakutanku belaka,
ketakutan akan sebuah hal yang tak pasti terjadi. Aku memaksakan diri untuk
ternyenyum, mencoba untuk mentertawakan ketakutanku, keraguanku, dan
keresahanku. Dan kemudian berharap, saat nanti pagi menjelang, semua rasa ini
sirna dan Aku bisa menepis semua.
**
Hari-hari
berlalu begitu cepat, tak terasa seminggu sudah terlewat dari saat malam itu.
Tetapi keraguanku tak kunjung sirna. Apa yang harus Aku lakukan?
Aku
tak bisa menjalani sesuatu dengan banyak keraguan yang membuncah seperti ini..
Aku
tak mampu menjalani sesuatu tanpa ada sebuah keyakinan, Aku membutuhkan
keyakinan, walaupun sekecil apapun keyakinan itu, Aku sangat membutuhkannya.
Pernikahan itu bukanlah suatu permainan, yang hanya satu atau dua jam, hari
atau minggu dan kemudian bisa untuk di sudahi dengan mudahnya. Pernikahan itu
sekali seumur hidup..pernikahan itu sekali seumur hidup..
Kata-kata
itu terngiang didalam kepalaku. Seakan menjadi gema yang terus saja menghantui.
Aku melangkah menuju cermin yang bertengger manis disamping lemari pakaianku.
Aku memandang refleksi diri di cermin.
Lihatlah
Aku disana, begitu penuh dengan keraguan. Terlihat begitu rapuh dan
menyedihkan.
“
Hey Pinang, Apa yang sebenarnya terjadi kepada dirimu? Semua orang menginginkan
untuk menikah dengan orang yang mereka cintai..tetapi lihatlah dirimu!! 3 bulan
lagi kamu akan menikah dengan pria yang sangat kamu cintai, keluargamu
menyayanginya dan keluarganya pun menyayangi dirimu, tetapi mengapa itu tetap
membuatmu ragu? Kamu tahu, dia sangat mencintaimu, teramat sangat mencintaimu,
teramat sangat memujamu. Dan Aku pun tahu, kamu begitu mencintainya..tulus.
Mengapa keraguanmu muncul saat lamaran sudah disetujui ? Mengapa harus ada
perasaan itu, Pinang ? mengapa tak kamu coba tepis semua perasaan itu, cobalah
lebih kuat lagi. Aku mohon, jangan buat mereka kecewa. Jangan buat mereka
kecewa Pinang..Aku mohon kepadamu…”
Aku
mencoba menguatkan diriku sendiri, mencoba menepis semua keraguan ini. Aku memejamkan
mataku perlahan dan kemudian menghela nafas. Aku kembali menatap refleksi
diriku di dalam cermin. Aku mencoba tersenyum, tetapi refleksi diriku
menangis..dia menangis..pilu..
( Pilihan )
Malam
ini bulan terlihat mengintip malu-malu dari balik awan. Aku menghela nafas
panjang. Sudah setengah jam Aku menunggu kekasihku disini, tetapi dia tak kunjung
datang. Lupakah dia akan janji hari ini ? Ataukah pekerjaan menghambatnya untuk
datang tepat waktu ? Aku berusaha menghubungi ponselnya, tetapi sia-sia,
Ponselnya tidak aktif.
Aku
melangkahkan kakiku menuju kamarnya. Ranjangnya, kemejanya, dan segala hal yang
beraroma dirinya membuatku semakin ingin bertemu. Aku merindukannya saat
ini..begitu merindukannya. Aku merebahkan tubuhku perlahan diatas ranjang,
hanya suara detik jam yang terdengar, sunyi…begitu sunyi…
Aku
tercekat saat mendengar suara deru mobil di depan rumah. Aku berlari menuju
ruang tamu dan mengintip dari tirai. Kekasihku pulang..Aku tersenyum..tersenyum
bahagia. Tetapi kemudian senyumku menghilang, kekasihku tak sendirian. Dia
bersama wanita itu, wanita yang pernah menghiasi hidupnya dulu. Aku berdiri
terpaku, entah mengapa airmataku seakan berlomba untuk keluar. Haruskan ini
terjadi kembali ?
Aku
menghapus airmataku dengan cepat dan kemudian perlahan membuka pintu, mencoba
memaksakan diriku untuk tersenyum. Kekasihku terkejut melihatku berdiri didepan
pintu. Aku masih saja tersenyum, berusaha menyembunyikan airmataku.
“Pinang..maaf,
Aku lupa kalau hari ini ada janji untuk bertemu denganmu..”
“
Tak apa Satya..”, Aku masih saja tersenyum.
“Harusnya
kamu menghubungi ponselku supaya kamu tidak lama menunggu.”, ujar Satya, raut
wajahnya terlihat menyesal
“Aku
sudah berusaha menghubungi ponselmu sayang, tetapi ponselmu tidak aktif.”,
ujarku pelan.
“Ah…maaf…”,
Satya menundukkan wajahnya, raut penyesalan kian terlihat diwajahnya.
“Masuklah,
jangan hanya berdiri saja disana.”, ujarku pelan.
Satya
kemudian melangkah masuk membawa koper besar yang diiringi oleh wanita itu.
“Kamu
apa kabar Bintang ? “, ujarku sembari tersenyum kepada wanita itu.
“Aku
baik….”, ujarnya sembari menunduk resah.
“Masuklah...Aku
sudah menyiapkan makan malam..”, ujarku pelan.
Bintang
melangkah masuk dengan ragu. Hatiku seakan merasakan perih..entah mengapa Aku
hanya bisa tersenyum.
**
“Pinang..sayangku..maaf..harusnya
Aku menghubungi kamu, menjelaskan kenapa Bintang ikut pulang kerumahku malam
itu.”, ujar Setya.
“Tak
apa, Aku tau kamu punya alasan sendiri sayang. Hanya saja…..haruskah selalu
seperti ini?”, ujarku pelan.
“Selalu
seperti ini ? maksudmu ?”, Tanya Setya.
“Selalu
seperti ini..setiap Bintang punya masalah, dia selalu lari kepadamu..dan kamu
tak pernah bisa menolak. Bahkan Bintang setiap mempunyai masalah selalu lari
dan menginap dirumahmu. Kamu tak pernah bisa menolaknya. Pernahkah kamu
memikirkan perasaanku, Setya ?”, ujarku lirih.
“Kamu
tahu kondisinya sayang. Hanya Aku yang Bintang punya, hanya Aku temannya yang
paling dekat. Hanya Aku yang mengerti bagaimana kondisinya..keadaannya
dirumah.”, ujar Setya.
Jujur,
kata-kata Setya seakan menjadi ribuan duri yang menusuk di hatiku, perih…
“Masihkah
kamu mencintainya ?“, tanyaku lirih.
“Pinang,
itu hanya masa lalu. Bertahun-tahun yang lalu. Perasaanku tak seperti itu
kepadanya sekarang. Bagiku Bintang hanya teman, tak lebih.”.
“Tapi
harus sampai kapan ini terjadi..3 bulan lagi kita menikah, akankah saat kita
nanti berkeluarga, dia akan terus hadir seperti ini??”
“Pinang..sayang..coba
bayangkan jika kamu adalah dirinya..Aku hanya tak bisa meninggalkan dia
sendiri..hanya Aku teman dekat yang dia punya.”
“Kamu
memang masih mencintainya..”, isakku.
“Damn
Pinang!!! Harus bagaimana Aku menjelaskan kepadamu, Aku hanya mencintaimu..tak
ada yang lain!!”, bentak Setya.
“Aku
bisa melihatnya Setya, kamu memperlakukan dirinya begitu istimewa. Berbeda
dengan caramu memperlakukan diriku. Kamu rela menjemputnya, mengantarkan
dirinya pulang, menemaninya berjam-jam..Aku..Aku seperti bukan siapa-siapa
bagimu.”
“CUKUP
PINANG!! TIDAK CUKUPKAH BAHWA KITA AKAN MENIKAH ?”, teriak Setya.
“Pernahkah
kamu mencintai Aku, Setya ??”, isakku.
PLLLLAAAAAKKKK.
Sebuah
tamparan keras melayang ke pipiku..perih..tapi hatiku jauh lebih sakit lagi.
Aku menangis dan berlalu. Setiap pertengkaran yang dimulai karena membahas
hubungannya dengan wanita itu, Setya selalu saja berubah menjadi temperamental.
Dan selalu saja berakhir dengan tamparan. Salahkah diriku karena meragukan
hatinya..sedangkan kata-kata cintanya tak terbukti kepadaku. Lalu haruskah Aku
bertahan dengan kondisi yang seperti ini ?
Keraguanku
kian bertambah besar, pengharapanku akan sebuah keyakinan kian lenyap. Dan Aku
pun akhirnya memilih..memilih untuk pergi.
( Pelarian )
Aku
memejamkan mataku saat angin berhembus membelai wajahku. Teriknya matahari pagi
ini menyambutku yang terduduk di pasir pantai Lovina saat ini. Aku
menghembuskan nafas, menikmati cuaca pagi ini. Sesekali Aku melihat kelompok
lumba-lumba melompat tinggi, seakan menyapaku yang duduk sendiri.
Yah
disinilah Aku berada, jauh dari tempat yang Aku sebut rumah, jauh dari
orang-orang yang Aku sebut keluarga, jauh dari orang-orang yang Aku cintai.
Tetapi, entah mengapa hatku jauh lebih tenang.
Sudah
sebulan Aku pergi dari rumah. Melarikan tubuh dan jiwaku yang lelah oleh cinta.
Aku kembali memejamkan mataku, mengingat malam itu, malam dimana Aku memutuskan
untuk pergi.
Aku
menatap photonya yang bertengger diatas ranjang, mungkin ini yang terbaik. Aku
tak sanggup mengatakan hal yang sejujurnya kepada keluargaku dan keluarganya.
Biarlah semua kesalahan hanya ditimpakan kepadaku. Terlalu besar pengharapan
mereka kepada dirku, kepada dirinya, jadi..biarkanlah Aku pergi tanpa mengatakan
yang sejujurnya kepada mereka. Aku membaca kembali suratku kepada Ayah
Bundaku..
‘
Ayah..Bunda..mungkin saat kalian membaca surat ini, Pinang sudah pergi
meninggalkan rumah. Maafkan Pinang karena merepotkan kalian, dan meninggalkan
kalian seperti ini. Maafkan Pinang karena akan mengecewakan kalian.
Ayah..Bunda..Apakah
itu cinta ? Apakah itu arti sebuah pernikahan ? Semua pertanyaan itu selalu
menggema di benak Pinang. Dan kemudian pertanyaan-pertanyaan tersebut berubah
menjadi sebuah keraguan dalam diriku. Menikah..inikah yang Aku inginkan ?
Dan
kemudian keraguan tersebut menjadi sebuah ketakutan. Ketakutan akan menjalani
hidup dengannya. Ketakutan akan sebuah ikatan..ketakutan akan sebuah
kehilangan. Anggaplah Aku menjadi seorang gadis yang pengecut..pengecut akan
sesuatu hal yang mungkin tak akan terjadi..dan ketakutan akan sebuah ikatan
yang disebut pernikahan.
Bagiku,
terlalu menakutkan membayangkan hidup bersama orang yang sama yang mungkin saja
tidak Aku kenal sama sekali.
Ayah..Bunda..maafkan
karena Pinang pergi dengan cara seperti ini, maafkan karena Pinang bukanlah
anak yang berbakti, maafkan karena Pinang mungkin akan membuat malu Ayah dan
Bunda. “
Aku
menitikan airmata dan meletakkan surat yang Aku tulis untuk Ayah Bundaku.
Ada
tiga surat yang Aku tulis. Surat untuk Ayah bundaku, surat untuk orangtua Setya
dan surat untuk Setya.
Aku
mengambil surat untuk orangtua Setya dan surat untuk Setya. Aku masukkan ke
dalam tas jinjingku. Aku memandang kamarku dengan lekat, entah kapan Aku akan
kembali lagi kemari. Aku pasti akan merindukan kalian. Aku melangkah keluar
dari kamar dengan hati-hati dan kemudian melangkah keluar rumah dengan cepat.
Aku menghentikan taksi yang melaju dan menuju stasiun kereta..
Jakarta..
Aku
pergi…
**
Aku
membuka mataku yang terpejam saat mendengar seseorang memanggilku. Aku menoleh
kearah suara, dari kejauhan tampak seorang gadis melambaikan tangannya
kepadaku.
“
Pinang….”
Aku
tersenyum menatapnya dan kemudian bangkit dari dudukku, berlari kecil
menghampirinya.
“Ngapain
kamu pagi2 sendirian disini ?”, ujar gadis itu.
Aku
hanya tersenyum kecil.
“hmmmmppphh…di
tanya kok malah cuma senyum aja..?”, ujarnya kembali.
“ah..Rika..itu
rahasia..”, ujarku masih dengan senyum tipis di bibirku.
Rika
menarik rambutku yang tergerai terhembus oleh angin.
“Dasar
centil…”, ujarnya pelan.
**
Rika
itu gadis yang amat manis, rambutnya pendek sebahu, kulitnya hitam manis, saat
dia tersenyum, terlihat gingsul disudut bibir kanannya. Hidungnya mungil,
wajahnya mungil, dan tubuhnya tinggi semampai. Aku selalu suka melihatnya
tertawa, seakan dunianya bebas, lepas, tanpa ada beban. Saat pertama kali Aku
mengenalnya, Aku mengira dia masih bocah ingusan yang diberkahi tubuh ramping
dan tinggi. Tetapi, ternyata setelah Aku mengenalnya lebih dekat, ternyata dia lebih
tua setahun dariku. Aku tercengang. Kadang Tuhan itu tidak adil.
Jika
dibandingkan denganku, Rika itu mengagumkan.
Aku
tidak diberkahi dengan tubuh yang tinggi dan kulit yang cemerlang seperti itu.
Aku iri..yah..iri akan segala yang ia punya.
Rika
selalu saja membuatku tercengang. Disuatu malam saat Aku dan dirinya bersenda
gurau di tepi pantai, Aku menceritakan tentang diriku. Dia hanya mendengarkan
tanpa memotong ceritaku. Aku pun bertanya tentang dirinya, dan semua kisah
tentang dirinya membuatku terpana. Aku ingat saat dia berkata
“Aku
menyukai kesendirian, kesendirian itu lebih baik daripada hidup ditengah-tengah
orang munafik. Dan jikalau Aku nanti harus menikah, sungguh Aku tak akan pernah
ikhlas, karena keluarga hanyalah sebuah malapetaka.”
Kata-katanya
membuat Aku terdiam, setiap orang mempunyai masalah, setiap orang mempunyai
sebuah luka dihati, begitu juga dengan Aku, begitu juga dengan Rika. Aku hanya
bisa tediam dan kemudian memeluknya.
“Tak
ada manusia yang sanggup hidup sendiri..jangan pernah berkata kamu menyukai
kesendirian. Karena kamu punya sahabat seperti Aku, kamu mempunyai Tuhan. Kamu
tak pernah sendirian.”, bisikku pelan.
Dan
kami akhirnya berpelukan tepi pantai..berurai airmata.
( Setya )
Setya
menghembuskan asap rokoknya dengan pelan, matanya menatap gambar seorang wanita
di layar monitor laptop. Dan kemudian tangannya meraih sebuah surat yang
tergeletak disamping asbak. Sesekali Setya menarik nafas panjang dan kemudian
membaca surat itu untuk kesekian kalinya.
‘
Setya..sayangku..
Maafkan
Aku dengan segala kebodohanku ini. Kebodohan yang terlalu besar karena sebuah
cinta dan pengharapan. Cintaku padamu, dan pengharapan akan sebuah cinta yang
layaknya tersambut olehmu. Tetapi, apa daya. Pengharapanku sirna..hilang
terhembus oleh sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa cintaku hanyalah cinta
sendiri, tanpa pernah tersambut olehmu. Sejujurnya, jauh sebelum kamu
melamarku, Aku sadar, dihatimu masih ada Bintang. Tapi, Aku membutakan hati dan
logikaku. Berharap bahwa itu hanyalah sebuah emosi yang disebut kecemburuan.
Hingga malam itu, Aku mulai bisa melihat kenyataan yang Aku coba lenyapkan. Aku
tak pernah ada dihatimu..mungkin..Aku tak pernah ada di cintamu..
Maafkan
karena Aku kemudian memutuskan untuk pergi..jauh dari kehidupanmu. Aku tak
sanggup mengatakan kejujuran kepada keluargaku..kepada keluargamu. Biarlah Aku
yang dipersalahkan atas batalnya pernikahan ini. Semua persiapan pernikahan
sudah Aku batalkan, dan semua biaya biarlah Aku yang menanggungnya, karena ini
kesalahan dan keputusanku.
Setya,
cinta itu ada dari kedua belah pihak, bukan hanya cinta sendiri, begitupun
sebuah pernikahan.
Raihlah
kebahagiaanmu Setya..walau Aku tahu, kebahagiaanmu itu bukan Aku.”
Setya
menghela nafas panjang, baru kali ini Setya merasa dipermainkan oleh wanita.
Apa tidak cukupkah jika sebuah komitmen serius diwujudkan ke dalam sebuah
pernikahan? lalu apa lagi yang Pinang harapkan darinya??
Setya
meremas surat dari Pinang dan kemudian melemparnya kedalam keranjang sampah.
Sudah
sebulan Pinang pergi begitu saja tanpa kabar, sejujurnya Setya malas
mencarinya. Toh semua sudah jelas, Pinang tidak mau ber-komitmen ke jenjeng
yang serius yang bernama pernikahan. Lalu, untuk apa Setya mencarinya. Bagi
setya semua sudah berakhir. Yang tersisa hanyalah sakit hati karena merasa
dipermainkan, sakit hati karena merasa di sia-siakan. Tak mungkin Setya mencari
Pinang kesana kemari, untuk apa?? Untuk memohon maaf atas kesalahannya??
Kesalahan apa?? Kesalahan yang Pinang tuduhkan kah kepadanya??
TIDAK!!!
Itu
hal yang mustahil. Setya tak bersalah, tak menerima semua tuduhan Pinang yang
sangat konyol menurutnya.
Setya
menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.
**
Setya
terbangun saat mendengar suara ketukan halus dipintu kamarnya. Perlahan Setya
bangkit dari ranjang dan berjalan terhuyung membuka pintu kamar.
Setya
menatap wajah seorang wanita yang berdiri didepan pintu kamar. Wajah wanita itu
terlihat pucat, matanya sembab oleh airmata.
“kenapa
Bintang??”, ujarnya pelan.
“Maaf
kalau Aku membangunkan tidurmu..Aku tak bisa tidur..banyak hal yang terlintas
di otakku. Dan kemudian Aku merasa takut sendirian.”, ujar Bintang pelan.
Setya
merengkuh Bintang kedalam pelukannya, merengkuh Bintang sedemikian erat. Betapa
rapuhnya wanita ini, membuat Setya tak bisa membiarkannya sendirian.
Setya
melepas pelukannya, mengamit jemari Bintang, dan kemudian menuntun Bintang
keatas ranjang.
“Biar
Aku temani kamu hingga tertidur..”, ujar Setya sembari membelai rambut Bintang
lembut.
Bintang
merebahkan kepalanya diatas bantal, jemari setya masih saja membelai rambut
Bintang yang berkilau disinari cahaya lampu yang temaram. Bintang memejamkan
matanya, dari sudut matanya terlihat airmata yang menetes tetapi bibirnya
tersenyum dan kemudian berbisik lembut, “ Terima kasih Setya..terima kasih karena
kamu tidak pernah meninggalkan Aku sendirian.”
Setya
menatap wajah Bintang yang sudah tertidur pulas. Jemarinya masih membelai
lembut rambut Bintang. Setya menghela nafas panjang, dan kemudian mengecup
lembut kening Bintang.
“Selamat
tidur Bintangku”, bisik Setya perlahan.
( Carousel )
Pinang
mengerjapkan matanya perlahan, dengan perlahan Pinang bangkit dari ranjang,
melangkah kearah jendela dan menyibakan tirai perlahan. Langit masih gelap,
hari masih malam, tetapi Pinang terbangun diantara sunyinya dunia.
Rindu..yah..rindu..
Itu
yang Pinang rasakan saat ini, apakah Setya merasakan hal yang sama dengan
dirinya saat ini ?
Mengapa
hal ini terasa begitu menyesakan ?
Mengapa
mencintainya begitu menyakkitkan ?
Mengapa
berada disisinya begitu terasa menyakitkan ?
Tetapi..mengapa
saat Aku memilih untuk meninggalkannya pun terasa jauh lebih menyakitkan ?
Mengapa
merindukannya begitu menyakitkan..sangat menyakitkan ?
Mengapa
api cinta ini tak kunjung meredup ?
Mengapa..mengapa
???
Dunia
seakan mengejekku saat ini..
Hatiku
seakan mempermainkanku saat ini..
Semua
kenangan tak mudah untuk dilupakan..
Semuanya..semua
hal tentang dirinya.
Airmataku
mengalir deras, membasahi pipiku, membasahi gaun tidurku.
Andai
Aku dapat mengulang waktu..Aku tak ingin mencintainya..Aku berharap tak pernah
mencintainya sedalam ini.
**
Setya
menatap langit Jakarta malam ini dari sisi jalan. Entah mengapa saat ini Setya
hanya ingin menghabiskan malamnya sendiri menatap langit malam disisi jalan
ini. Setya tersenyum tipis, mengingat betapa bodohnya dia, karena jalan ini
adalah jalan dimana Setya mengenal Pinang pertama kali. Saat itu, saat itu juga
langit berhias seperti ini, jam yang sama, suasana yang sama. Setya tersenyum
mengenang wajah Pinang saat itu, wajah bingung dan panik didepan mobilnya yang
mogok dan handphonenya yang kehabisan baterai. Saat itu Setya berbaik hati
untuk membantu Pinang, menelfon mobil derek dan mengantar Pinang pulang. Sejak
saat itu Setya mulai dekat dengan Pinang.
‘AAAArrgghhhh…’,
Rutuk Setya dalam hati saat cahaya lampu mobil yang berlalu-lalang menyilaukan
matanya.
Setya
menyesali kebodohannya karena mengingat Pinang malam ini. Apakah hatinya
merindukan Pinang? Apakah dia benar-benar mencintai Pinang? Ataukah Setya hanya
merindukan kenangannya bersama Pinang?
Apa
yang sebenarnya Setya harapkan?
Bukankah
Setya bahagia sekarang dengan adanya Bintang disisinya.
Wanita
yang dulu dia cintai dengan sepenuh hati. Wanita yang terpaksa dia tinggalkan
dulu atas desakan ibunya. Lalu, sebenarnya, siaakah yang dia cintai saat ini?
Setya
merutuki hatinya yang mulai bertanya-tanya.
Kemudian
Setya menghela nafas panjang, melempar botol minumannya kepinggir jalan dengan
kesal dan melangkah dengan gontai kedalam mobil. Dengan perlahan Setya
melajukan mobilnya, menembus malam.
**
Entah
kenapa mataku tak berhenti memandang carousel mungil yang berada di pojok
sirkus malam ini. Mungkin Aku teringat saat pertama kalinya Aku menaiki
carousel dengannya tempo dulu. Carousel yang indah..berhias cahaya lampu yang
gemerlap..seakan menjadi mesin waktu akan kenanganku bersama Setya.
“Kamu
mau naik itu Pinang?”
Pinang
tersadar dari lamunannya, dan tersenyum kearah Rika.
“Iya..”,
ujar Pinang sembari melangkah menuju Carousel.
Pinang
menyentuh sebuah kuda kayu bercat putih dengan perlahan. Bentuk dan warna yang
sama seperti waktu itu. Pinang memejamkan matanya, masih teringat jelas gelak
tawa dan kebahagiaan yang dia rasakan saat itu. Kemudian Pinang menghembuskan
nafas perlahan, dan bergerak menaiki kuda corousel. Musik klasik membahana memenuhi
telinga Pinang saat carousel mulai berputar.
“Mungkin
Aku tak setegar seperti yang Aku harapkan untuk berpisah dengannya. Semua
kenangan tentangnya selalu berputar dikepalaku seperti carousel ini. Biarlah
Aku mengingatnya saat ini, malam ini..dan hingga saat carousel ini berputar Aku
akan menghapus semua tentangnya..selamanya. dan besok Aku akan benar-benar
memulai hidupku tanpa ada sedikitpun kenangan tentang dirinya.”, gumam Pinang
dalam hati.
Couresel
berputar semakin cepat, Airmata Pinang mengalir dengan deras. Semua kenangan
tentang Setya, senyum, kebahagiaan dan mimpinya berputar dalam pikiran Pinang.
Ini
untuk terakhir kalinya..ini untuk terakhir kalinya..dan kemudian Aku akan
tersenyum melupakannya..
( 7 bulan, 2
minggu dan 3 hari )
Tak
terasa sudah setengah tahun Pinang menghabiskan waktunya di Banjarmasin. Selama
di kota ini, Pinang sudah mengunjungi banyak tempat bersama Rika dan Citra.
Pasar Terapung Muara Kuin, Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Museum wasaka, Kubah Surgi Mufti, Taman Argo Wisata PKK Banjar Bungas, serta tempat-tempat kuliner terkenal dikota
ini. Pinang begitu menikmati harinya di Banjarmasin. Teman-teman yang
menyenangkan, pekerjaan yang menyenangkan dan hidup yang menyenangkan. Walaupun
terkadang Pinang begitu merindukan kota Jakarta, tapi saat ini Pinang masih
enggan untuk kembali.
Sesaat
Pinang teringat akan orangtuanya. Sudah 7 bulan, 2 minggu dan 3 hari Pinang
pergi hanya dengan meninggalkan sepucuk surat. Hati Pinang mencelos, beberapa
kali Pinang berusaha memberanikan dirinya menghubungi orangtuanya, tapi apa
daya, Pinang belum mempunyai keberanian yang cukup untuk berbicara dengan
orangtuanya.
Pinang
menghela nafas panjang dan kemudian meraih telephone selularnya. Bertekad
memberanikan dirinya untuk berbicara dengan kedua orangtuanya..
Terdengar
suara lembut seorang wanita yang begitu Pinang rindukan.
“Mama..”
“Pinang….???”,
ujar suara dari seberang sana.
“Iya
ma..ini Pinang..”, ujar Pinang perlahan.
Terdengar
isak tangis mama dari ujung sana..
“Kamu
kemana saja nak..?? mama kangen..”, ujar mama ditengah isak tangisnya.
“Maafin
Pinang ma..Pinang baru berani menghubungi mama setelah 7 bulan ini. Pinang juga
kangen sama mama, sama papa, sama adik. Pinang sekarang tinggal di Banjarmasin
ma..”, ujar Pinang lirih.
“Selama
7 bulan ini mama menunggu kamu nak, menunggu kamu menghubungi mama, papamu,
tapi baru sekarang kamu menghubungi mama. Selama ini mama hanya mendengar kabar
tentang kamu dari temanmu, Rika. Beberapa hari sekali dia menghubungi mama,
memberi kabar tentang kamu nak.”, ujar mama ditengah isaknya.
“Rika..???”
“iya..mama
lega kamu mempunyai teman yang baik seperti Rika. Walaupun kamu jauh, mama lega
kamu baik-baik saja nak.”, isak tangis mama semakin kencang.
“Mama..maafkan
Pinang ma..mungkin saat ini Pinang masih belum bisa pulang ke Jakarta. Masih
banyak yang ingin Pnang lihat. Tapi Pinang janji, Pinang akan terus member
kabar ke mama. Supaya mama tidak khawatir.”, ujar Pinang sembari menahan isak
tangisnya.
**
Pinang
termenung saat mengingat pembicaraannya tadi dengan mamanya. Rindu..yah..rindu
yang tak bertepi akan hangatnya suasana rumah dan keluarga. Tetapi, saat ini
Pinang masih enggan untuk kembali ke Jakarta. Mungkin terkesan egois, membuat
airmata mamanya mengalir karena Pinang pergi tanpa kabar selama ini. Tapi saat
ini, Pinang ingin menjadi seorang yang egois. Menyembuhkan dirinya, melihat hal
yang baru, pengalaman yang baru dan menjadi dirinya yang baru.
‘Maafkan
Pinang karena menjadi seegois ini..maafkan Pinang ma..’, batin Pinang.
“Pinang..Citra
sebentar lagi kesini. Daritadi dia mencoba menghubungi kamu tapi handphone kamu
sibuk.”, suara Rika memecah lamunan Pinang.
“Iya..tadi
aku habis menghubungi mama di Jakarta.”
“Akhirnya…kamu
memberi kabar juga ke keluargamu..”
“Eh..Rika…..thank
you..”
“Thank
you?? Buat apa??”
“Karena
kamu selama ini memberi kabar kekeluarga aku..”
“Oh..mama
kamu bilang ya?! Well..ga perlu berterima kasih Pinang sayang..kamu udah kayak
adik aku sendiri. Justru aku mau minta maaf karena mencampuri masalahmu.”, ujar
Rika sembari menunduk.
“No….kamu
memang sahabat yang baik. Selama ini aku terlalu banyak merepotkan kamu.”, ujar
Pinang sembari memeluk Rika dengan erat.
**
Pinang
menatap tepi sungai Martapura dari tempat duduknya saat ini. Pinang tidak bias
menampik keindahan kota Banjarmasin walaupun sudah setengah tahun berada
disini.
“Minggu
depan kita mulai dari Lombok..”, ujar Citra.
“Lombok?????
Minggu depan??????”, ujar Pinang terkejut.
“Oh…Pinang..daritadi
gw ngejelasin panjang lebar dan elo ga dengerin???”
“Kayaknya
Pinang lagi melankolis, melamun hal yang romantic, makanya dia ga dengerin elo
Tra..”, ujar Rika sembari menyuap soto banjar ke mulutnya yang penuh dengan
makanan.”
Citra
mengikik geli saat melihat wajah Pinang yang memerah.
“Gw
jelasin lagi ya. Singkatnya mulai minggu depan kita travelling. Mulai dari
Lombok, Kendari, Halmahera dan Papua selama 2 sampai 3 bulan.”, ujar Citra
“Liburan??”,
Tanya Pinang polos.
“Ya
kerjaan lah sayang…..Aduhhhh…Pinang……”
“Heeeee…sorry….”,
ujar Pinang sembari terseyum malu.
Well
I love my life now..pekerjaan yang menyenangkan dan Aku nikmati, teman-teman
yang menyenangkan, dan kemudian Aku bisa bersyukur. Patah hati mungkin tidak
membuatku mati, walaupun Aku terkadang berharap untuk mati. Tetapi jika Aku
membuka mata, hati dan telingaku..hidupku jauh lebih menyenangkan daripada Aku
terus bersedih. Thank’s GOD.
( And I’m Home )
“Lombok…here
I come…”, batin Pinang.
Pinang
menutup dahinya dengan telapak tangannya, silau akan sinar matahari siang ini.
Senyum menghias dibibirnya yang kering. Kemudian Pinang menatap tumpukan koper
yang berada dibawah kakinya, menghela nafas panjang, menoleh kearah Citra dan
kemudian tersenyum melihat Citra yang tengah kerepotan menyeret koper-kopernya
yang besar. Pinang menyeret kopernya perlahan dan kemudian menghampiri Citra
yang masih kepayahan menyeret koper-kopernya. Tiba-tiba Pinang terhuyung dan
kemudian terjatuh.
“Ah..maaf..”,
terdengar suara lembut seorang pria.
Pinang
merasakan tubuhnya terangkat dan kemudian Pinang menatap kearah pria yang
menabraknya tadi. Wajah Pinang memerah saat nenyadari tangan pria itu melingkar
lembut di pinggangnya yang kecil.
“uh..ga
apa-apa.”, ujar Pinang sembari menepis tangan pria itu dengan lembut.
“Radit…….”,
teriak Citra saat itu.
Seketika
Pinang mendapati dirinya kembali terhuyung saat Citra menubruknya dan memeluk
pria tersebut.
“argghhh..”,
erang Pinang.
“Ahh…Pinang..maaf..”,
ujar Citra.
Citra
dan pria itu kemudian membantu Pinang untuk berdiri.
“oh
iya..ini kenalin, abang kesayangan gw..namanya Raditya..Radit, ini asisten
gw,namanya Pinang.”, ujar Citra.
Raditya
tersenyum dan mengulurkan tangannya kearah Pinang, wajah pinang kembali memerah
dan kemudian mengulurkan tangannya kearah Raditya.
“Pinang..”
**
Oh..well..Lombok
itu memang indah, batin Pinang. Walaupun kepergiaannya ke sini untuk pekerjaan
tetapi Pinang benar-benar menikmati hari-harinya disini. Pinang melirik kearah
Radit yang terduduk disebelahnya. Akhir-akhir ini, Pinang semakin tidak
mengerti akan dirinya. Baru 2 minggu Pinang mengenal Radit, tetapi dari saat
mereka bertemu, wajah Pinang selalu memerah. Hawa panas selalu berlomba-lomba
memenuhi wajahnya. Dan itu terasa sedikit mengganggu. Pinang benar-benar tidak
mengerti.
Pinang
mengalihkan pandangannya kembali kearah laptop saat Raditya menoleh kearahnya.
“Besok
kalian meninggalkan Lombok..”, ujar Raditya.
“Iya..”,
ujar Pinang lirih. Wajahnya kembali memerah. “Padahal Lombok begitu
menyenangkan..Aku pasti akan merindukan tempat ini..”, ujar Pinang lembut..
‘yah..Aku
pasti akan merindukan tempat ini..dan..dia..’, batin Pinang sembari
mencuri-curi pandang kearah Raditya.
Raditya
tersenyum dan kemudian membelai lembut rambut Pinang.
“Kapan-kpan
kalu ada waktu, liburan kesini. Aku pasti akan mengantar kamu keliling
Lombok.”, ujar Raditya.
Pinang
menunduk, wajahnya kian memerah, dan kupu-kupu seakan berterbangan indah
diharinya. Benar-benar menyebalkan.
**
Akhirnya
Pinang dapat menjejakkan kaki juga di
tempat ini, Raja Ampat. Walaupun hari ini adalah hari terakhir Pinang berada
disini. Pinang mengingat hari-hari selama setahun yang sudah terlewati. Pertama
kali menjejakan kakinya di Bali, berpindah ke Banjarmasin, ke Lombok, Kediri,
Halmahera dan terakhir Raja Ampat. Hidupnya menyenangkan. dan entah sejak
kapan, bayangan Setya tak pernah lagi teringat olehnya. Tak ada lagi rasa
sedih, sakit ataupun cinta. Yang ada hanya kenangan yang membuatnya tesenyum,
tersenyum akan semua itu. Menertawakan kenangan-kenangan itu. Biar
bagaimanapun, kenangan tak akan bisa dilupakan, tak akan bisa dirubah. Yang terlupakan hanyalah perasaan saat itu, yang
berubah hanyalah perasaan saat itu. Mungkin ini yang dinamakan proses
pendewasaan diri. Melupakan kenangan itu bukanlah hal yang penting, yang harus
dilupakan adalah perasaan yang menyakitkan saat itu.
Dan
kini Pinang dapat berdiri tegak, dan merasakan kebahagian. Kebahagiaan yang
menyeruak dari balik sanubarinya, memenuhi dirinya. Banyak hal yang dapat
Pinang liat, banyak hal yang dapat Pinang rasakan, banyak hal yang dapat Pinang
pelajari.
‘Aku
bebas..bebas dari segala hal yang menyakitkan untukku dahulu.’, ujar Pinang.
‘Terima
kasih Tuhan’, bisik Pinang.
**
“Pinang,
elo yakin ga ikut balik ke Banjarmasin?”
“Iya..gw
yakin Citra.”
“Elo
balik ke Jakarta?”
“Yup..gw
balik ke Jakarta. Gw udah siap untuk balik ke Jakarta. Gw udah siap buat ketemu
keluarga gw lagi.”, ujar Pinang mantap.
Citra
tersenyum.
“Hmm..gw
seneng..elo udah berubah. Jadi lebih bahagia..lebih baik dari pertama kali gw
kenal elo.”, ujar Citra lembut.
“Iya..dulu
gw pucat, kurus, sedih terus. Sekarang gw jauh lebih sehat..jasmani dan
rohani.”
“haaahhh…dasar…”
“Tapi..elo
gak apa-apa gw tinggal sendirian di Banjarmasin..pekerjaannya gimana?”
“Kerjaan
kan udah selesai semua Pinang. Tinggal nyerahin aja semuanya via email. Jadi
semua bisa gw handle. Lagipula, hari ini tepat kontrak kerja elo keg w selesai
kan?!”
“Iya
sih..mmm…Citra…”
“Yapz??”
“Thanks
for everything..i’ll be missing you..”
“oh..please
Pinang, jangan buat gw sedih..bulan depan gw sama Rika juga pasti ke Jakarta
kok. Kita pasti ketemu lagi.”
“Are
you sure??”
“Yeap..i’m
sure dear. Rika dimutasi ke Jakarta dan beberapa minggu lalu gw juga minta
supaya pekerjaan gw dipindah ke Jakarta. I miss my family too you know..”
“Family?
in Jakarta..??”
“Iya
sayang..keluarga gw kan semua, di Jakarta, kecuali Raditya sih. Karena
pekerjaan, makanya gw sering traveling. “
“Citraaaa….elo
ga pernah cerita ke gw…”
“Elo
juga ga pernah nanya ke gw..ahahahahaha”
“Kalau
nanti gw belum dapat pekerjaan, dan elo masih butuh asisten yang cakap,
hubungin gw ya Cit.”
“Pasti
dear..Cuma elo yang bisa gw andalkan kalau soal pekerjaan..hehehehe..”
Pinang
dan Citra tertawa malam itu sembari mengepak barang dan berkas-berkas.
‘Life
is good..life is so good..’
**
Matahari
Jakarta hari ini bersinar terik. Debu dan polusi memenuhi udara kota ini.
Pinang menarik nafas dalam. Udara yang jelek..tapi Pinang sangat merindukan
tempat ini. Pinang melayangkan pandangannya dan kemudian melangkah menuju ke
sebuah rumah..rumahnya yang sangat dia rindukan.
Saat
ini Pinang sudah siap kembali ke sini, erkumpul dengan keluarganya, bersama
dengan kenangan yang baru, hidup yang baru, cerita yang baru, dan dirinya yang
baru.
Pinang
melangkahkan kakinya dengan cepat dan kemudian Pinang membuka pintu perlahan
dengan tersenyum,
“Pinang
pulang…….akhirnya Pinang pulang…”, teriak Pinang.
Setya ( extra )
Setya menatap sekeliling café dengan gelisah. Sudah 2 tahun, 2 tahun berlalu
semenjak Pinang pergi. Rindu, sepertinya Setya merindukan Pinang. Ah…bukan
hanya sepertinya..tetapi Setya memang merindukan Pinang. Andai saja Tuhan berbaik
hati untuk mempertemukan Setya dengan Pinang saat ini. Ya..Setya memang lelaki
bodoh, lelaki bodoh yang hanya mementingkan ego laki-lakinya. Tergoda akan masa
lalu, akan geloranya kepada Bintang. Dan akhirnya Setya sadar, Setya memang
mencintai Pinang, bukan Bintang. Bintang hanyalah geloranya yang menggebu,
bukan impiannya..bukan cintanya.
Setya menghembuskan nafasnya perlahan dan kemudian memejamkan matanya.
Teringat akan saat itu, saat dimana Bunda memergoki dirinya dan Bintang
tertidur dalam satu ranjang, berpelukan. Bunda mengamuk dan mengusir Bintang
saat itu.
“Bunda tidak pernah mengajarkan anak Bunda seperti ini. Pantas Bunda merasa
aneh saat tetangga kamu bekata kamu sudah menikah. Bunda mengira wanita yang
ereka ceritakan adalah Pinang, Bunda bahagia kalau Pinang sudah kembali.
Ternyata kenyataannya berbeda, jadi ini yang menyebabkan Pinang pergi dari mu?
Kamu tahu Bunda begitu membenci wanita itu!!!”
“Setya mencintai Bintang, bunda!!!”
“Cinta??? Wanita itu sudah menikah dan sudah mempunyai anak!!!”
Saat itu Setya seakan tertampar oleh kata-kata Bunda.
“Mengertikah kamu akan arti cinta nak? Bunda tidak pernah melihat binar
cinta dimatamu saat bersama wanita itu, ataupun saat membicarakannya dulu.
Pinang yang kamu cintai, Bunda bisa melihat itu. Tapi kamu tak pernah sadar
akan hal itu. Wanita itu tak pantas untuk kamu, Pinang yang lebih pantas
untukmu. Tetapi kamu tak pantas untuk Pinang, Pinang lebih pantas mendapatkan
lelaki yang lebih baik dari mu. “
“Bunda tak akan pernah mengerti apa yang Setya rasakan, siapa yang
sebenarnya Aku cintai, apa yan sebenarnya Aku mau!!!”
“Bunda kecewa sama kamu..teramat sangat kecewa.”, dan Bunda pun berlalu
sembari menangis.
Saat itu Setya hanya bisa terduduk lesu menatap Bunda yang berlalu. Bayangan
tentang Bintang dan Pinang berputar dikepalanya. Sebenarnya siapa yang Setya
cintai? Sebenarnya apa yang Setya inginkan?? Pertanyaan itu berputar
dikepalanya.
**
Setya membuka matanya perlahan dan menghirup secangkir teh hangat.
‘He's a real nowhere Man,
Sitting in his Nowhere Land,
Making all his nowhere plans
for nobody.
Doesn't kave a point of view,
Knows not where he's going to,
Isn't he a bit like you and me?
Nowhere Man, please listen,
You don't know what you're missing,
Nowhere Man, the world is at your command.
He's as blind as he can be,
Just sees what he wants to see,
Nowhere Man can you see me at all?
Doesn't kave a point of view,
Knows not where he's going to,
Isn't he a bit like you and me?
Nowhere Man, don't worry,
Take your time, don't hurry,
Leave it all till somebody else
lend you a hand.
He's a real Nowhere Man,
Sitting in his Nowhere Land,
Making all his nowhere plans
For nobody.’
Lagu Landon Pigg – no where man, mengalun lembut memenuhi setiap ruang kafe
ini. Membuat Setya terhenyuh. Beberapa bulan setelah Pinang pergi, Setya mulai
menyadari, betapa Setya kehilangan sosok Pinang. Tawanya, senyumnya,
perhatiannya, sikapnya yang lembut, segala hal tentang Pinang. Setiap sudut
dirumahnya, selalu terlihat sosok Pinang yang tersenyum. Saat Setya menyentuh
Bintang, hanya sosok Pinang yang terlihat. Merasa bersalahkan Setya saat itu?
Mengapa sosok Pinang kian lekat menghantuinya?
Ah..ya..Setya membutuhkan alasan untuk sikapnya saat itu, alasan pembenaran
diri untuk egonya yang bodoh. Setidaknya, sudikah Tuhan berbaik hati saat ini
untuk mempertemukan dirinya dengan Pinang, untuk meminta maaf dan merebut
hatinya kembali, kembali kesisinya. Betapa Setya membutuhkan Pinang..disetiap
harinya. Setya berhenti menemui Bintang, saat menyadari bahwa Bintang bukanlah
wanita yang benar-benar dia inginkan..yang Setya ingin dan butuhkan hanyalah
Pinang.
Setya melayangkan pandangannya kembali sekeliling café dan kemudian
menghirup tehnya yang mulai dingin. Membayar tagihan dan kemudian melangkah
keluar dari café. Langkah Setya berhenti, matanya menangkap sosok Pinang yang
duduk di seberang café. Bayangankah itu, berhalusinaskah dirinya saat ini??
Setya berjalan perlahan, menghampiri Pinang.
“Pinang..”, ujarnya lirih.
Pinang menoleh dan terkejut menatap Setya yang bediri dengan wajah bodoh.
“it’s that realy you?”, ujar Setya.
“Hei..”, ujar Pinang tersenyum.
“2 tahun kamu menghilang. Aku mencarimu kemana-mana. Aku merindukanmu.
Maafkan kebodohanku saat itu. Maafkan Aku Pinang.”, ujar Setya, airmatanya tak
tertahankan lagi.
Setya terduduk dangan airmata yang mengalir perlahan dari pelupuk matanya.
Pinang hanya terdiam menatap sosok Setya yang terlihat begitu rapuh saat ini.
“ah..sudahlah Setya, itu sudah berlalu. Semua hanya masa lalu. Aku sudah
memaafkan dan melupakannya.”, ujar Pinang lembut.
“Pinang…”
“Ya..?”
“Aku ingin memulai semuanya dari awal lagi denganmu..”
“Maaf Setya, tapi Aku ga bisa.”
“Aku salah selama ini kepadamu, kepergianmu membuatku sadar, Aku mencintaimu
dengan sangat. Tolong berikan Aku kesempatan lagi..kesempatan kedua untuk
bersamamu.”
“Maaf Setya..tapi Aku tak bisa.”
“Semua orang berhak mendapat kesempatan kedua Pinang.”, desak Setya. Setya
sudah tak ingin lagi kehilangan Pinang saat dirinya sudah menetapkan hatinya
dan menyadari banyak hal.
“Semua sudah terlambat Setya. Tak ada lagi kesempatan kedua, ketiga, dan
seterusnya. Aku sekarang bahagia. Mendapatkan kebahagian, dan itu mengagumkan.
Kamu hanyalah masa lalu yang mungkin tak akan bisa Aku lupakan. Tetapi
perasaanku kepadamu sudah hiang. Dan memang sekarang sudah terlambat. Aku sudah
menemukan cintaku.”, ujar Pinang tersenyum lembut dan kemudian membelai lembut
perutnya.
Setya terhenyuh dan kemudian menatap kearah Pinang, menatap kearah jemari
Pinang, perut Pinang yang membesar, dan jemari Pinang yang dihiasi oleh cincin
di jari manisnya. Setya menunduk lesu.
“Kamu sudah menikah?”
“Iya..Setahun yang lalu, dan sekarang Aku tengah mengandung.”
“Pria seperti apa dia..suamimu?”
“Raditya..namanya Radiyta, Pria yang baik dan bertanggung jawab.”, ujar
Pinang lembut.
Hati Setya mencelos, dan kemudian berdiri dari duduknya.
“Maafkan Aku..Aku hanya bisa memberikan selamat untukmu..kamu pantas
mendapatkan kebahagiaan Pinang..maafkan Aku..”, ujar Setya sembari berlalu.
Setya melangkah perlahan, hatinya saat itu bercampur aduk. Yah..sebenarnya
Pinang sudah banyak memberikan dirinya kesempatan saat itu. Tetapi Setya selalu
menyia-nyiakan kesempatan itu. Kini sudah terlambat..semua sudah terlambat.
Setya berlalu dengan kepedihan dihatinya, menyesali kebodohan dirinya
sendiri..kebodohan yang membuat wanita yang dia cintai lepas darinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar