Selasa, 14 Februari 2012

Kupu Kupu Kaca


Hujan deras menyirami Kota Yogyakarta malam ini. Ayu hanya bisa terpaku menatap cangkir mungil dalam genggamannya. Perlahan Ayu menghembuskan nafas mencoba untuk menenangkan hatinya yang gelisah.

Pikirannya melayang jauh..mengingat seorang cinta. Matanya, bibirnya, dekapannya, semua tentangnya. Matanya pun basah oleh airmata. Ayu merindukannya.
Sebuah kenangan indah yang Ayu simpan hanya untuk dirinya sendiri. Sebuah kenangan tentang cinta..tapi benarkah itu cinta? Karena Ayu semakin meragukan bahwa cinta itu nyata.

Jemari Ayu membelai pinggiran cangkir dengan perlahan dan memejamkan mata.

"Ayu..aku cinta padamu."

Ayu terkejut, tak menyangka bahwa perasaannya tersambut. Ayu kemudian tersenyum lembut dan memeluk kekasihnya dengan bahagia.

"Aku juga mencintaimu.."

Dan semenjak hari itu mereka menjadi sepasang kekasih.

Setiap waktu mereka lalui bersama..bahagia..seakan tak akan ada satupun yang sanggup memisahkan mereka.

Begitu banyak bunga..kata2 indah..ribuan kecupan..ribuan pelukan..dan ribuan hari mereka lalui.
Ayu bahagia..setidaknya merasakan bahagia yang teramat sangat.
Hari2 yang mereka lewati begitu berharga..Pagi hari begitu indah dengan kecupan selamat pagi dan malam begitu tenang dengan pelukan kekasihnya yang menemani tidurnya.
Ayu terlena..dalam buaian semu yang bernama cinta.

"Minggu depan Aku harus pulang keYogya..Ibu ku meneleponku."

"Pulanglah sayang..Mereka pasti merindukanmu."

"Aku berat meninggalkan Jakarta. Aku berat meninggalkan Kamu walau hanya untuk 7 hari."

Kekasihnya tersenyum dan membelai lembut rambut Ayu.

"Aku akan baik2 saja disini sayang."

Kemudian dikecup kening Ayu perlahan.

Ayu..gadis yang lahir dan besar di Yogyakarta. Betapa Ayu mencintai Kota ini. Tapi mengapa semua menjadi tak berarti karna kekasihnya tak ada disisinya.

Padahal Ayu merindukan Kota ini..merindukan udaranya..budayanya..makanannya..merindukan keluarganya..tetapi mengapa semua menjadi berbeda?
Mengapa Ayu merasa hampa setelah sesampainya disini?

"Ternyata semua tidak ada artinya tanpanya."

"Nduk..Kamu sudah cukup umur untuk menikah. Beberapa bulan lagi Umur kamu sudah 26tahun. Ibu sama Bapak pingin sekali menimang cucu. Bapak sudah tua..sering sakit2an. Beberapa kali Bapak bertanya ke Ibu tentang kamu. Bawalah calon suamimu kerumah."

"Ayu masih belum punya Calon Bu."

Ayu menunduk.

"Bapak sama Ibu cuma mau kamu mendapat lelaki yang baik untuk menjadi suamimu Nduk. Lelaki pilihanmu sendiri."

Keraguan membelai lembut sanubari Ayu.

"Ayu Tidur ya Bu..besok pagi Ayu sudah harus berangkat ke Jakarta."

"Gusti Allah..apa yg harus aku lakukan?"

Kata2 itu berputar dalam pikiran Ayu.

"Carilah lelaki yang baik sayang."

Kata2 kekasihnya bagaikan tamparan keras bagi Ayu.

Ayu menangis.. "Aku hanya mau kamu.."

"Sayang..kamu berhak untuk mendapatkan yang terbaik. Dan itu bukan Aku."

"6 tahun kita bersama..kamu bagian dari hidup aku."

"Ayu..maafkan aku. Aku hanya inginkan yang terbaik buat kamu."

"AKU HANYA MENGINGINKAN KAMU..AKU HANYA MENCINTAI KAMU CINDY !!"

"Ayu..aku sayang kamu..tapi kita berada di dunia dengan Adat timur yang kental. Dan aku tak bisa melihatmu terbuang oleh dunia. Dunia tidak akan pernah mengerti sayang..karena aku dan kamu adalah wanita. Hubungan ini tak akan punya masa depan. Aku inginkan kamu mendapat yang terbaik..hidup dengan baik. Maafkan aku sayang."

Suara tangis bayi membahana membuyarkan lamunan Ayu. Ayu menghapus airmatanya yang mengalir dan beranjak mendekati asal tangisan tersebut.

"ah..buah hati terbangun. Buah hatiku..Cindy kecilku.."

Ayu menggendong lembut buah hatinya. Buah hatinya dengan seorang lelaki baik yang menikahinya selama 2tahun. Pernikahan yang Bahagia..hanya saja semua tetap berbeda tanpanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar