Sabtu, 25 Februari 2012

Jangan Panggil Aku Banci!

Susan berjalan melenggok gemulai menuju ruangannya. Bibir mungilnya tersemat sebatang rokok yang baru terbakar. Perlahan Susan menghembuskan asap yang memenuhi rongga mulutnya kemudian Susan mengamit tas Gucci yg teronggok diatas mejanya.

"It's time to go home". Gumamnya.

Besok banyak yang harus dikerjakan. Beberapa dokumen yang harus ditandatangani, jujur itu semua cukup melelahkan bagi Susan. Beberapa syarat birokrasi yang harus dijalanin olehnya. Tapi toh semua itu untuk hal yang Susan tunggu selama ini.

Susan, terlahir dengan nama Susanto Haryono. Dibesarkan ditengah keluarga besar yang cukup terpandang. Keluarganya mengharapkan Susan menjadi lelaki yang tangguh dan membantu usaha keluarganya yang telah berdiri selama 10 tahun. Tapi apa daya, sewaktu Susan berusia 16 tahun, Susan merasakan keanehan pada dirinya. Tak ada Jakun yang menghias dilehernya yang jenjang, ototnya tidak tumbuh kembang dan juga pita suaranya terlalu tinggi untuk seorang pria.
Belum lagi dadanya terasa sedikit nyeri sewaktu Susan berlari. Susan menjadi pemalu dan rendah diri. Susan berhenti bermain dengan lelaki karena Susan merasa malu saat mereka bercanda.
"Susanto Banci !"

Akhirnya itulah ejekan orang-orang terhadapnya. Kerap Susan menangis sendiri dalam kamarnya, karena Susan bingung atas apa yang terjadi dengannya. Keanehan mulai bertambah saat Susan mulai senang memakai pakaian perempuan. Kadang Susan sembunyi-sembunyi menyelinap ke kamar kakak perempuannya, menggunakan gaun, rok, make-up, dan berlenggok didepan cermin. Hal itu sangat menyenangkan untuk Susan. Sehingga suatu hari Kesenangan Susan itu dipergoki oleh kakak dan temannya. Meluaslah kabar bahwa Susan memang banci.

Selama sebulan Susan dikurung oleh Ayahnya didalam kamar. Tidak boleh keluar rumah selangkahpun. Susan hanya bisa menangis pilu. Merasa bersalah karena berbeda.
Susan berusaha melawan kesenangannya, dan menjalani hidupnya sesuai dengan kodrat lelaki sesungguhnya.

Setahun kemudian Susan mengalami pubertas yang disebut menstruasi. Susan terkejut, berusaha menyembunyikan semuanya. Hingga akhirnya Susan mengungkapkan kepada keluarganya tentang semuanya. Ayahnya menentang dan menolak semua dengan keras. Susan hanya bisa menangis dan akhirnya bertahan untuk menjadi lelaki sesuai yang Ayahnya. Tapi ternyata tak semua berjalan mulus, karena akhirnya Susan mengenal seorang pria dan jatuh cinta kepadanya.

Selama 23 tahun Susan hidup sebagai Lelaki dan akhirnya ayahnya menyerah, mengakui bahwasannya Susan adalah benar seorang wanita, itupun setelah Susan memaksa Ayahnya untuk menemaninya ke dokter ahli. Dokter yang membenarkan bahwa Susan memanglah seorang wanita karena mempunyai alat reproduksi wanita yang lengkap dan tidak mempunyai kantung sperma seperti lelaki normal.

Sekarang Susan dapat berdiri tegak sebagai seorang wanita, tanpa ada rasa malu mengungkapkan bahwa dia memang wanita, dengan rambut panjang terurai, senyum mengembang dibibirnya,
Susan pun bergumam

"JANGAN PANGGIL AKU BANCI, KARENA AKU ADALAH SEORANG WANITA."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar